Sudah barangtentu menghidupkan sunnah tidak dapat diambil dari seorang mujtahid atau seorang ahli ilmu saja. Penafsiran sunnah sangat luas dan sudah saya terangkan dalam buku saya lainnya yang berjudul “ Fiqih Ikhtilaf “. Dan bila saya terangkan secara lengkap di sini bukanlah tempatnya. Tetapi setidaknya harus saya selipkan hal tersebut dalam pembaha- san ini sbb :
“ Ilmu Fiqih hanya membahas masalah-masalah hukum praktis berkenaan dengan hak dan kewajiban manusia, baik terhadap Allah, terhadap dirinya, dan terhadap masyarakat. Adakalanya dalam memberikan hukum-hukum praktis ini disimpulkan dengan mengguna- kan dalil-dalil yang sangat kuat (qath’i) dan bisa pula disimpulkan melalui dalil-dalil-zhanni (sangkaan yang kuat) melalui hasil ijtihad seorang imam mujtahid. Dalam meng- hasilkan sebuah produk hukum fiqih yang diambil dari dalil-dalil syara’ yang terperinci (al-adillah at-tafshilliyyah) yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ , ijtihad, Qi- yas, al-Maslahah al-Mursalah dll.
Syariah Islam begitu dalam dan luas, karena ia merupakan kumpulan hukum yang ditetapkan Allah untuk mengatur kebahagiaan dan kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Keber- adaan ilmu dan hukum fikih adalah untuk kemaslahatan di dunia dan di akhirat, sehingga urusan keagamaan dan juga kenegaraan semuanya diatur oleh hukum fikih. Atau dengan kata lain, ilmu fikih adalah ilmu yang diciptakan bagi manusia dan jin untuk mendapatkan kebahagiaan dan kekekalan yang abadi di akhirat dengan mendapatkan berbagai kemudahan dan keuntungan yang tersaji di dalamnya.
Hukum-hukum fiqih terkait sangat erat dengan masalah akidah dan akhlak, sehingga siapa pun yang mengamalkannya secara baik dan benar, maka dia akan mendapatkan keha- ngatan dalam hidup, mendapatkan kemudahan dan kebahagiaan, sehingga kestabilan dalam kehidupan akan terwujud. Selain itu, jika ilmu fiqih diterapkan dan dipraktikan secara menyeluruh, maka kehidupan manusia akan rapi , teratur, penuh kedisplinan, harmonis dan damai.
Syari’ah merupakan wahyu Ilahi yang mengandung pahala dan siksa. Selain itu juga merupakan sebuah sistem kerohanian dan peradaban sekaligus. Karena ia didatangkan untuk menciptakan kebaikan di dunia dan di akhirat, begitu juga menciptakan kebaikan untuk agama dan dunianya. Sedangkan perbedaan ilmu fiqih dengan undang-undang hasil ciptaan manusia adalah, hukum fikih terpengaruh cukup dalam dengan prinsip-prinsip akhlak (ilmutasawuf). Sedangkan undang-undang ciptaan manusia hanyalah mengekalkan aturan dan ketentraman masyarakat, walau pun terkadang harus mengorbankan sebagian prinsip yang terkandung dalam ilmu fiqih itu sendiri. Hukum yang diciptakan manusia sering kali tak berakhlak, dan rela mengorbankan perasaan dan kemaslahatan masyarakat secara umum,
itulah hukum ciptaan manusia.
Ilmu fiqih selalu menekankan kepada keluhuran budi pekerti, kesantunan, idealisme yang hangat, selalu menjadi jembatan antara setiap permasalahan yang timbul dalam ber- masyarakat, dan selalu memberikan kemudahan-kemudahan selama jalan untuk itu memang ada dan terbuka serta tidak merusak bangunan syari’at itu sendiri.
Tujuan ilmu fikih adalah untuk menciptakan kebaikan bagi manusia yang hakiki, pada saat ini, ketika mati, dan masa yang akan datang (akhirat). Apabila ketiga hal ini tidak tercapai, maka manusialah yang menjadi penyebab utamanya, bukan ilmu fikih itu sendiri. Tujuan pelaksaan ilmu fiqih ialah untuk memberikan kemanfaatan yang besar dan sempurna, baik pada tataran individu atau pun pada tataran masyarakat, pada level terendah sampai pada level tertinggi tanpa memandang kasta dan jabatan.
Ilmu fiqih merupakan tuntunan bagi setiap orang yang mukallaf, bukan hanya seke- dar tontonan, sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Ketika ilmu fiqih mulai dibumbui dengan hiburan, maka ilmu fiqih itu berubah menjadi “ ilmu fiqih hiburan “. Sedangkan ilmu fiqih itu sendiri tidak diciptakan untuk menghibur manusia yang tidak paham terhadap ilmu fiqih itu sendiri. Sungguh memilukan melihat ilmu fiqih yang agung ini, dipermainkan oleh orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang yang paham terhadap ilmu fiqih itu sendiri. Sungguh orang-orang seperti itu, sebenarnya jauh lebih layak untuk dipenjara dari- pada pencuri dan perampok, karena mereka telah mencuri dan merampok keaslian, kemurni- an dan keagungan sebuah ilmu.
Ilmu fiqih itu sendiri kaya akan perbedaan pendapat dikalangan ahli ilmu, bukan di- kalangan orang yang sedang belajar menimba ilmu. Karena perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu akan mendatangkan rahmat, sedangkan perbedaan pendapat di kalangan orang yang sedang belajar menimba dan menimbun ilmu hanya akan mendatangkan kemudaratan dan perpecahan, apalagi mereka yang belajarnya sekedar asal-asalan dan untuk memuaskan kepentingan hawa nafsunya saja.
Di dalam perjalanannya, para ahli ilmu fiqih (imam Mazhab) memiliki berbagai metode untuk menghasilkan sebuah produk hukum. Mengamalkan hasil ijtihad mereka merupakan jalan yang paling aman, dan akan terhindar dari kerusakan dan kesalahan yang fatal. Sedangkan untuk mendatangkan berbagai kemaslahatan, syari’at memberikan beberapa kemudahan (rukhshakh) yang paling ringan dengan mengambil pendapat imam Mazhab yang ada. Hal ini dibenarkan selama rukhsakh itu tidak dipergunakan untuk bermain-main sehingga merubuhkan keagungan dan keluhuran bangunan syari’at.
Terlebih dalam masalah khilafiyah adalah masalah hukum yang tidak ada kata sepakat di dalamnya. Terkadang ketidaksepakatan ini hanya terdapat dalam tataran atau dimensi ----
yang sempit dan kecil, bahkan sering kali hanya karena perbedaan penggunaan istilah. Tetapi tidak jarang pula perbedaan pendapat ini terjadi pada tataran atau dimensi yang jauh lebih luas, yaitu antara hukum halal dan haram. Sulit dipungkiri oleh kita bahwa masalah cabang agama kini sudah menjadi masalah khilafiyah, baik dalam masalah ibadah mau pun dalam bidang muamalah.
Jadi untuk memungkiri atau menghilangkan fenomena khilafiyah atau perbedaan pendapat yang terdapat dalam setiap jengkal ranah agama sepertinya sesuatu yang tidak mungkin. Biarkanlah perbedaan pendapat itu mengalir seiring dengan waktu, yaitu melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebenarnya masalah khilafiyah ini hanya milik para ulama yang kompeten saja, karena hanya merekalah yang mempunyai otoritas dan kekuasaan untuk mengambil dan menetapkan suatu hukum yang terdapat dalam nash syari’at. Sedangkan bagi kita, sebagai kalangan awam hanya bisa mengikuti atau menjadi muqallid dengan mengambil pendapat mereka.
Ironis memang, orang-orang yang baru belajar agama sudah berani mencaci maki para imam-imam mujtahid dan para khalifah, hanya karena berbeda pendapat dengan gurunya, bahkan mereka tampak gagah dan sangat berani dengan mengatakan dan menuduh manusia-manusia agung tersebut dengan kata-kata “ Ahli bid’ah , perusak syariat, pengkhianat wasiat Nabi Saw, dll “. Bahkan kalau kita bandingkan ilmu dan akhlak gurunya dengan mereka para imam-imam mujtahid dan para khalifah tersebut, sudah jelas tidak ada apa-apanya. Orang-orang seperti ini adalah para muqallid (yang bertaqlid) yang bodoh, keras kepala serta tidak memiliki tata krama, sopan santun, dan tidak tahu berterima kasih terhadap jasa mereka.
Harus diketahui dan dipahami, bahwa tidak semua orang yang pernah belajar agama memiliki kapasitas untuk menarik kesimpulan hukum, atau mengeluarkan hukum. Orang yang hanya belajar ilmu tafsir hanya akan memiliki kemampuan untuk mengetahui hal yang dipelajarinya saja, bukan berarti dia sudah bisa menarik atau menentukan suatu hukum. Demikian pula dengan orang yang belajar mempelajari ilmu hadist, tentu orang tersebut pandai dalam menilai kesahihan suatu hadist, tetapi kepiwaiannya tersebut bukan dalam hal menentukan hukum. Apalagi yang hanya belajar asal-asalan saja mana mungkin akan mengetahui dan sanggup untuk menentukan suatu produk hukum yang terdapat di dalam nash syari’at.
Ilmu dan metodologi dalam menarik kesimpulan atau untuk menghasilkan suatu hukum yang benar adalah suatu ilmu yang dipelajari oleh mereka yang belajar secara khusus pada bidang syari’ah, dan didukung oleh berbagai disiplin ilmu yang lainnya seperti, ilmu ushul fiqh sebagai metodologi, ilmu mantiq sebagai logika, ilmu qawa’id fiq- hiyah (kaidah-kaidah ilmu fiqh) sebagai penunjang. Selain itu mereka pun dituntut untuk memahami ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu lughah Arabiyah (bahasa Arab) dengan berbagai cabangnya, dan sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk menelusuri semua dalil yang ada, kemudian ---
membangunnya menjadi sebuah hujjah dan menarik kesimpulan hukumnya. Jadi pekerjaan seperti ini adalah sebuah pekerjaan yang berat dan benar-benar membutuhkan potensi lain yang berada dalam diri manusianya, dalam arti lain pekerjaan seperti ini hanya bisa dilaku- kan oleh segelintir orang-orang yang dikhususkan oleh Allah Swt saja. Para sahabat, tabi’in dan imam mazhab saja sudah berbeda pendapat, lalu apakah mungkin umat setelahnya tidak terimbas hukum yang sama ?
Islam sangat mencela perselisihan yang mengakibatkan kepada perpecahan dan permusuhan. Itulah salah sebab yang menyebabkan Islam selama ratusan tahun tidak dapat mengembalikan masa kejayaannya. Musuh-musuh Islam sangat mengetahui bahwa umat Islam adalah umat yang tradisional dan sangat patuh terhadap fatwa-fatwa ulamanya. Ulama- nya berkata A, yaa semua akan bilang A. Dan hal seperti ini menjadikan sebagian akal-akal cemerlang yang terdapat dalam setiap zaman menjadi terkungkung dan terpenjara oleh adat istiadat yang tidak mendukung kemajuan Islam.
Sebagian besar manusia membangun keimanannya dari sumber ini, keimanan yang mereka ambil apa adanya, tanpa mau memaksimalkan potensi daya pikir dan olah rohaninya. Kepatuhan bercampur baur dengan kekakuan. Bahkan bisa saja sebenarnya mereka sedang menjalankan kebenaran yang terpotong-potong tanpa mengetahui potongan terakhirnya.
Perbedaan yang telah terjadi selama ini, tidak bisa kita biarkan berkembang tanpa adanya filter dan pengawasan dari para ulama yang kompeten dan berwenang. Dan sudah seharusnya pula, seorang yang mengikuti ilmu para ulama tidak berdebat mengenai masalah-masalah yang dia sendiri tidak mengusai dan memahaminya. Apabila argumentasinya di- kritik, dia balik menyerang dengan melontarkan banyak pertanyaan yang dia sendiri tidak mampu untuk menjawabnya. Inilah yang disebut muqallid bodoh dan keras kepala oleh Imam al-Ghazali.
Fiqih sahabat memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemiki- ran Islam. Bagaimana tidak, karena merekalah yang pertama-tama dikatakan sebagai ahli tafsir, ahli hadits, ahli, fiqih, ahli qira’ah dan lain sebagainya. Karena jasa besar merekalah kita semua sekarang mereguk kenikmatan risalah dan cahaya Islam.
Mereka pula yang menjadi tongkat estafet kenabian kepada umat setelahnya sampai kita sekarang ini. Tak pelak lagi, bahwa para sahabat merupakan embrio ilmu fiqih pertama. Ketika perbedaan terjadi di kalangan mereka, mereka segera mengumpulkan sahabat yang pernah mengikuti perang Badar, perang Uhud, Perang Khaibar dan selainnya. Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu, mendengar dengan jelas ketika lisan Sang Ma’shum berbicara. Tetapi mereka begitu tawadhu ketika berbicara masalah al-Quran dan As-Sunnah. Sangat berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Allah dan rasul-Nya telah meridhai perjuangan yang mereka lakukan demi Islam. Tidak heran banyak ayat di dalam al-Quran ---
dan ratusan bahkan ribuan hadits yang menceritakan keutamaan dan perjuangan mereka. Membicarakan perjalanan hidup seluruh sahabat bukan di sini tempatnya, lagi pula telah banyak kitab-kitab yang menceritakan mereka.
Begitu pentingnya peran para sahabat dalam peradaban Islam, sehingga mereka men- jadi rujukan yang harus di amalkan, dan perilaku mereka menjadi sunnah yang harus diikuti. Perbedaan yang terjadi ketika Nabi Saw masih ada disekitar mereka, bukan masalah yang berarti karena semua selesai ketika hal tersebut diajukan kepada beliau. Tetapi ketika setelah wafatnya beliau, dan masalah yang muncul semakin banyak, maka mau tidak mau para khalifah dan para sahabat yang berkompeten di bidangnya akan berijtihad untuk memberi- kan obat sekaligus penawarnya kepada masyarakat. Inilah yang disebut dengan ijtihad. Hal ini merupakan wasiat agung yang senantisa akan berjalan sampai hari kiamat.
Sedangkan yang dimaksud hakim adalah seorang yang menguasai atau memahami persoalan hukum. Bukan seseorang yang sedang belajar ilmu hukum. Seperti di dalam peradilan, bisa kita lihat, bahwa di sana terdapat hakim ketua (mujtahid mutlaq), hakim wakil ketua (mujtahid ghair mutlaq), jaksa ketua (mujtahid mazhab), jaksa wakil ketua (mujtahid fatwa), pengacara (mujtahid murajjih). Susunan ini hanyalah analogi saja agar mudah dimengerti, walaupun tepatnya bisa saja tidak seperti itu.
Kurang lebih begitulah kedudukan para sahabat di dalam bangunan Islam yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka terhadap nash Al-Quran dan hadits Nabi Saw. Perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan para sahabat menghasilkan berbagai bentuk dalam pengambilan fatwa. Hal ini dikarenakan terjadinya “ kawasan kosong syari’at “ di mana setiap ahlinya berusaha untuk memenuhinya sesuai dengan kedalaman dan beragam- nya ilmu yang mereka dapatkan hasil interaksi dan kedekatan mereka dengan Nabi Saw.
Salah seorang sahabat yang faqih ada dalam berfatwanya ada yang cenderung kepada tekstual ayat dan hadits, ada juga yang cenderung kepada tafsir dan maknanya, ada pula yang cenderung kepada qiyas, ada pula yang cenderung kepada ihtisan atau al-maslahah al-mursalah, ada pula yang cendrung kepada ‘urf (adat istiadat) , ada juga yang menggabungkan di antaranya, dan begitulah seterusnya. Bentuk pengambilan hukum seperti inilah yang akhirnya diwariskan kepada generasi setelahnya dan setelahnya lagi, dan akhirnya sampai kepada kita sekarang ini.
Ulama hadits mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu yang dihubungkan kepada Nabi Saw, Tetapi, menurut sebagian ahli hadits, sunnah termasuk segala sesuatu yang dihubungkan kepada sahabat atau tabi’in, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, ataupun sifat-sifatnya. Menurut ulama ushul fiqih, sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw, selain al-Quran, baik perkataan, perbuatan, atau taqrir, yang dapat menjadikan dalil-dalil hukum syara’. Mereka mendefinisikan demikian karena yang menjadi pokok per --hatiannya adalah pembahasan terhadap dalil-dalil syara’.
Ulama fiqih sunnah mendefinisikan, sunnah adalah apa saja yang benar dari Nabi Saw dalam urusan agama, yang berkaitan dengan hal wajib atau fardhu yang didalamnya terkan- dung unsur memfardhukan atau mewajibkan. Mereka mendefenisikan sunnah demikian, karena yang menjadi pokok pembahasan mereka adalah hukum-hukum syara’ seperti wajib, fardhu, mandub, haram, makruh, dan sebagian dari masing-masing hukum tersebut. Sedang- kan ulama yang bergelut di bidang dakwah mendefenisikan sunnah ialah apa saja yang bukan bid’ah. Hal ini dikarenakan perhatian mereka tertuju kepada apa yang menjadi perin- tah dan larangan syara’.
Sedangkan dari kalangan ilmu tasawuf, imam al-Qusyairi an-Naisaburi mengartikan sunnah dengan syari’at dan hakikat, di mana beliau mengatakan : “ Syari’at adalah perintah yang harus ditetapi dalam ibadah, dan hakikat adalah kesaqksian akan kehadiran peran serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Setiap syari’at yang kehadirannya tidak diikat dengan hakikat tidak dapat diterima, dan setiap hakikat yang perwujudannya tidak dilandasi syari’at tidak akan berhasil. Syari’at datang dengan beban hukum dari Sang Mahapencipta, sedang- kan hakikat bersumber dari dominasi kreativitas al-Haqq. Syari’at merupakan penyembahan makhluk kepada al-Khaliq, sedangkan hakikat adalah kesaksian makhluk akan kehadiran-Nya. Syari’at adalah penegakan apa yang diperintahkan-Nya, sedangkan hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya serta disembunyikan dan yang ditampakkan-Nya.
Monday, 8 June 2015
Ibnu Taimiyah menganggap Yazid bin Muawiyah berpahala karena memenggal kepala Imam Husain cucu tersayang Rasulullah Saw
Tidak ada masuk akal dan benar-benar di luar kemampuan manusia untuk memahami Ibnu Taimiyah ini. Dalam bab. ini dia beranggapan bahwa Yazid bin Muawiyah tidak berdosa karena telah memenggal kepala Imam Husain. Penulis sebenarnya tidak bisa memahami kebencian seperti apa yang menyebabkan Ibnu Tamiyah dan para pengikut sesatnya yang setia begitu membela dinasti Bani Umayah dan Khawarij ini. Ibnu Taimiyah begitu mengkultuskan dan menyanjung pembunuh terkejam dalam sejarah Islam ini mati-matian. Dan di balik semua itu, Ibnu Taimiyah begitu merendahkan dan menghina keluarga tersuci di muka bumi ini, yaitu keluarga besar Rasulullah saw dan keturunannya.
Lihatlah kebohongan Ibnu Taimiyah dalam memutar balikkan fakta, di mana dia berkata : “ Al-Husain terbunuh dalam keadaan dizalimi dan syahid, ketika informasi terbunuhmya al-Husain ini sampai kepada Yazid dan keluarganya, mereka sakit hati dan menangisi terbunuhnya al-Husain. Yazid berkata, “ Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah (yaitu Ubaidillah bin Ziyad), demi Allah seandainya di antara dia dan al-Husain ada hubungan kekerabatan, pasti ia tidak akan membunuhnya “. (Minhaju as-Sunnah, Ibn Taimiyah 4 / 256)
Kepalsuan dan kebohongan apa lagi ini ? Ibnu Taimiyah benar-benar telah memanipulasi dan memutilasi sejarah sebenarnya. Ibnu Taimiyah berusaha memberikan argumentasi dan fatwa-fatwa yang sepintas masuk akal, dan dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kekejaman dinasti Umayah (Khawarij) ini dari keyakinan mayoritas umat Islam. Ibnu Taimiyah sepertinya benar-benar tidak pernah belajar sejarah Islam secara jujur.
Imam ath-Thabarani di dalam kitabnya berkata : “ Al-Husain bin Ali tidak mau melawan, lalu mereka memera-ginya dan membunuhnya, dan juga membunuh keturunan serta sahabat-sahabatnya yang ikut berperang bersamanya di suatu tempat yang bernama ‘aththaf. Lalu Ali bin Husain, Fathimah binti Husain, dan Sukainah binti Husain dibawa menghadap Ubaidillah bin Ziyad, sedangkan Ali bin Husain pada saat itu masih kecil. Kemudian (Ubaidillah) mengirim mereka menghadap Yazid bin Muawiyah, kemudian (Yazid) menyuruh Sukainah dan membawanya kebelakang singgasa- nanya agar ia dapat melihat kepala ayahnya dan kepala saudara-saudaranya yang lain....kemudian Yazid memukul gigi al-Husain rda (dengan tongkatnya), seraya bersenandung, “ Kami pecahkan isi kepala orang-orang yang dicintai, dan mereka adalah orang yang paling biadab dan paling zalim “.
Kemarahan yang menyeruak memenuhi kalbu para pecinta keluarga Rasul Agung Saw. Mengapa orang biadab seperti Yazid ini yang harus dibela mati-matian oleh Ibnu Taimiyah ?
Telah diriwayatkan pula dalam kitab lainnya :
“ Pada saat pembantaian al-Husain selesai, maka dibawalah kepalanya, lalu kemudian kemahnya dibakar, dan Ali Zainal Abidin bersama mereka digiring ke Damsyik seperti tawanan. Semoga Allah membunuh dan menghinakan orang yang melakukan hal itu, dan orang yang memerintah- kannya, atau orang yang meridhainya “(Syadzaraati Dzahab fi Akhbari Man Dzahab, 1 / 67 Ibnu Imad al-Hanbali ad-Damsyik)
Telah diriwayatkan pula, “ Ketika al-Husain tergeletak beberapa menit, setelah perlawanannya berakhir. Sekonyong-konyong Syabts bin Ruba’i menyeruak dari barisan dan bergegas menuju al-Husain yang telah kehilangan tenaganya. Namun secara tak terduga lelaki yang terkenal beringas itu kembali ke barisannya.
“ Hai, mengapa kau kini jadi penakut ? Mengapa kau batalkan niatmu untuk membunuh al-Husain ? “ tegur Sinan bin Anas mengejek.
“ Hai keparat, tahukah kau, ketika ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika itu juga aku melihat wajah kakeknya Muhammad “, bantah Syabts bin Ruba’i.
“ Kau memang penakut ! “ kata Sinan sambil memisah- kan diri dari barisannya menuju tubuh al-Husain yang lunglai tak bergerak.
Ketika hendak mengayunkan pedangnya ke arah leher al-Husain, Sinan tiba-tiba melepaskan pedangnya dan lari meninggalkan tubuh yang sudah tak berdaya itu sendirian “.
“ Hai penakut, mengapa engkau lari terbirit-birit “ ejek Syimir.
“ Sungguh wajahnya begitu mirip dengan Muhammad “, jawab Sinan sambil menundukkan wajahnya.
“ Dasar keturunan pengecut “ kecam Syimir. Syimir pun menghampiri tubuh al-Husain. Kemudian manusia yang berwajah buruk itu duduk di atas dada al-Husain.
“ Hai Husain, jangan enagkau samakan aku dengan kedua orang pengecut tadi “ sementara tangan kirinya mempermainkan jenggot al-Husain.
“ Siapa kamu apa yang membuatmu begitu biadab ? “ tanya al-Husain dengan suara terputus-putus.
“ Syimir Dzil Jausan “, jawabnya singkat sambil menghunus pedangnya.
“ Tahukan siapa orang yang sedang engkau duduki ? “ Siapakah aku ? “ tanya al-Husain.
“ Ya aku mengetahuinya, engkau adalah al-Husain putra Ali dan Fathimah binti Muhammad binti Khadijah “, jawabnya datar.
“ Lalu mengapa kau masih berniat membunuhku ? “ tanya al-Husain yang mulai merasakan dadanya sesak
“ Aku mengharapkan imbalan dari Yazid “, sahutnya
“ Tidakkah engkau mengharapkan syafa’at kakekku Rasulullah ? tanya al-Husain.
“ Hai Husain, sedikit imbalan dari Yazid lebih aku sukai daripada imbalan dari ayah, kakek dan nenak moyangmu “ bantah Syimir sambil tertawa keras.
“ Kalau kau memang harus membunuhku, maka berilah aku sedikit air minum terlebih dahulu “ pinta al-Husain.
“ Ooh itu mustahil aku lakukan untukmu. Kau akan mati tercekik kehausan. Sedikit air akan memperpanjang pertempuran. Bersabarlah sedikit, karena tak lama lagi kau akan diberi minum air telaga oleh kakekmu. Bukankah begitu ? ujarnya sambil tertawa menghina.
Mendadak Syimir terdiam dan setelah itu al-Husain berkata, “ bukalah kain penutup wajahmu ! “
Syimir membuka tabir wajahnya, dan menutupnya kembali.
“ Benar ucapan kakekku “ ujar al-Husain
“ Apa yang dikatakan oleh kakekkmu ? “ tanya Syimir
“ Kakekku berkata, bahwa pembunuh aku adalah seorang yang wajahnya sangat buruk, tubuhnya dipenuhi bulu kasar, hingga penampilannya tidak dapat memikat wanita manapun, bahkan lebih mirip dengan babi hutan “ sahut al-Husain seraya memalingkan wajahnya.
“ Bedebah kau ! terkutuklah kau dan kakekmu yang menyamakan aku dengan babi hutan. Akan aku sembelih kau secara perlahan-lahan sebagai balasan atas ucapan kakekmu itu “ Syimir berkata dengan penuh dendam dan kebencian
Syimir memulai sayatan demi sayatan hingga satu persatu terlepaslah semua anggota badan al-Husain. Ketika Syimir memindahkan pedangnya yang tajam dan panjang ke depan leher al-Husain, pedang itu tidak mampu memotongnya karena bagian depan lehernya al-Husain sering diciumi oleh Nabi Saw.
Maka Syimir pun memindahkan pedangnya ke arah belakang lehernya, dan kepala al-Husain itu digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri oleh manusia terlaknat itu. Gema tangisan dan raungan wanita-wanita keluarga Abdul Qasim yang membumbung dan membelah angkasa mengawali adegan pemisahan leher al-Husain dari tubuhnya. Tubuh yang penuh luka itu menggelepar-gelepar ketika pedang itu menyisit permukaan kulit leher al-Husain.
Setelah selesai adegan biadab ini, tubuh pemimpin para pemuda surga itu terkoyak-koyak. Dan untuk menyem- purnakan kebiadabannya, pasukan Yazid melemparkan tubuh mulia itu ke barisan ratusan kaki kuda. Sehinga tubuh suci itu pun di injak-injak oleh ratusan kuda, Manusia-manusia terkutuk ini kemudian menendang-nendang kepala al-Husain ke sana kemari seperti anak-anak kecil yang sedang bermain bola. Mereka tertawa terbahak -bahak dengan kerasnya.
Tak lama setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi, lewatkah sekelompok pedeta Nasharani dan bertanya kepada pasukan Yazid, “ Sepertinya baru terjadi peperangan yang besar di sini ? “
Mereka menjawab, “ Benar, kami telah membunuh dan mencincang Husain bin Ali dan keluarganya “, seru mereka dengan bangga.
Dengan penuh keheranan pendeta Nashrani itu berkata : “ Husain dari cucu Nabi kalian ? “ alangkah kejam dan biadabnya kalian. Di negeri kami masih ada keturunan pemelihara keledai Nabi Isa a.s di mana kami membuang nazar, dan kami sangat menghormatinya, sebagaimana kami menghormati kitab suci kami. Sementara al-Husain adalah cucu dari Nabi kalian, ternyata kalian berada di jalan yang sesat dan menyesatkan “. Akhirnya pendeta Nasrani dan pengikutnya itu masuk Islam. (Shawa’iq al-Muhriqah 2 / 569, Ibnu Hajar al-Haitami)
Orang-orang biadab inikah yang dinilai berpahala karena membunuh dan menyayat-nyayat tubuh cucu terkasih Rasulullah Saw ? Lihatlah semangat dinasti Umayah (Khawarij) yang masih hidup pada saat ini. Di mana kita melihat sekelompok orang yang tidak mau memuliakan dan menghormati keluarga Nabi Saw, maka merekalah Khawarij pada zaman ini. Mereka adalah musuh abadi Islam.
Peristiwa yang terjadi pada masa lalu tentang penghinaan dan pelecehan terhadap keluarga Baginda Nabi Saw, merupakan pengulangan sejarah yang persis sama dengan detail-detailnya. Yang berbeda hanya settingannya di buat sedemikian rapi dan terselubung.
Merekalah yang menghancurkan kebudayaan Islam merusak tempat-tempat bersejarah, menghilangkan hubungan dengan kenabian itu sendiri, menghilangkan data sejarah yang sebenaranya, membakar kitab-kitab sejarah dan keilmuan dalam Islam, memporak-porandakan kedamaian dan ketentraman dalam Islam.
Target utama mereka adalah menghancurkan Islam, akidah risalah dan pemikiran islam. Target mereka adalah memerangi al-Quran dan As-Sunnah. Saat ini sudah tampak dengan jelas, bahwa peperangan terhadap Islam telah dimulai kembali. Dahulu memang telah ada kospirasi musuh terhadap Islam, Tetapi tidak seberani pada saat sekarang ini. Sekarang mereka memerangi Islam tanpa basa-basi. Inilah kenyataan yang kita rasakan pada saat ini. Karena mereka ingin menghidupan, melestarikan dan mengembangkan kembali kejayaan dan kebiadaban “ Khawarizme “ sebagai bentuk balas dendam terhadap kemuliaan keturunan Rasululullah Saw.
Ada upaya besar-besaran yang dilakukan oleh negara Saudi Arabia dan sekutunya, sehingga memakan biaya milyaran dollar dalam bidang pemikiran, kebudayaan, media masa dan politik, baik bersifat publik atau eksklusif bahkan lebih dari yang kita bayangkan, demi menciptakan opini terhadap dunia seperti sekarang ini. Bahwa Islam Khawarij atau Wahabilah yang benar-benar eksis dan paling benar.
Mereka telah menghancurkan tempat-tempat suci, membumi hanguskan makam-makam keramat dengan berdalih “ menghilangkan kemusyrikan, menghapus khufarat, menegakkan sunnah, memelihara keyakinan umat Islam dan berbagai alasan lainnya yang “ mempesoana “ kaum yang bodoh walaupun mereka seperti terpelajar dan terdidik.
Banyak buku-buku yang terdapat di perpustaakaan-perpustakaan besar Islam dibuat oleh musuh-musuh Islam. Serta merupakan karya besar dari “ agen intelejen “ mereka. Kalaupun ada buku yang berbicara tentang kebenaran Islam bukunya tidak banyak beredar, bahkan banyak dari “ kaki tangan “ memereka memborong buku ini bukan untuk dibagikan kepada umat Islam, tetapi untuk dilenyapkan dan dihancurkan. Kemudian kitab-kitab rujukan milik mereka diperbaharui kembali sesuai dengan niat dan rencana busuk dan jahat mereka terhadap agama yang agung dan suci ini.
Musuh-musuh Islam sekarang menyiarkan acara televisi dengan mengahdirkan para mubaligh yang tidak mengerti tentang Islam. Mereka membaca al-Quran dihadapan para pemirsa dan menafsirkannya sesuka mereka. Mereka ingin memberitahukan kepada umat Islam, bahwa siapa pun boleh berijtihad, karena al-Quran milik umat Islam, as-Sunnah milik umat Islam, barangsiapa yang ijtihadnya
Benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang salah akan mendapatkan satu pahala. Kebodohan apa lagi ini ?
Katakanlah kepada kami, siapa yang sebenarnya menjadi sasaran pembunuhan dan pengancuran tersebut, apakah orang-orang Nasrani dan Yahudi ?... tidak ! yang menjadi sasaran pembunuhan dan penghancuran tersebut adalah saudara-saudara kita yang mengucapkan kalimat syahadat seperti kita.
Lalu apalah artinya apabila al-Quran dikesampingkan dari Islam, atau apalah artinya orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak mau menjaga akidah dan risalah suci ini ? Akankah Islam menjadi sebuah agama apabila tidak ada al-Quran ? Inilah yang terjadi di dunia ini. Musuh-musuh Islam elalu melakukan propaganda besar-besaran terhadap konspi- rasinya ini.
Saudara-saudaraku sekalian, sekarang saya katakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa saya tidak bermaksud untuk mengajak seluruh masyarakat Islam dan dunia untuk bangkit berperang. Kami tidak ingin memaksakan kebenaran agama ini kepada siapa pun. Sejarah kami membuktikannya seperti itu. Akan tetapi pada saat yang sama, kami para pengikut setia Nabi Saw. Kami secara tegas menolak pelecehan terhadap kebenaran agama kami, terhadap Rasul kami, terhadap al-Quran kami oleh siapa pun di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa masalah yang sebenarnya bukan- lah seringan yang pembaca pikirkan. Target sebenarnya adalah Islam, al-Quran serta kebencian yang memuncak kepada semua keturunan Rasulullah Saw. adalah sasarannnya. Ketika mereka menyatakan perang terhadap al-Quran, maka ini bukan terhadap Sunni dan Syi’ah saja. Atau perang terhadap tokoh-tokoh revolusi Islam, atau terhadap kaum-kaum tradisional, atau selain mereka. Karena al-Quran adalah kitab suci bagi mereka semua, kitab suci bagi kami dan kita semua. Karena al-Quran adalah agama bagi kita dan mereka semua. Peperangan yang terjadi adalah dengan al-Quran, as-sunnah keluarga Nabi Saw dan dengan Islam.
Yang dilakukan musuh-musuh Islam pada saat ini, silahkan anda lihat internet, adalah menggelar perang terbuka terhadap al-Quran. Saya tidak bermaksud untuk mengundang amarah dan memancing emosi umat Islam agar mengangkat senjata. Saya hanya mengajak seluruh umat Islam yang ber- akal dan beriman secara total kepada kebenaran yang paling benar, untuk segera mengerahkan seluruh kemampuan intelektual, politik, sosial budaya, dan media masa untuk menghadapi serangan ini. Tetapi apabila kita dipaksa untuk menggunakan senjata, maka kita pun akan menghadapinya dengan senjata.
Tetapi kita tidak boleh berpangku tangan terhadap musuh-musuh Islam, menafsirkan dan menerjemahkan al-Quran sesuai dengan kehendak dan keinginan kelompok mereka, Saya mengajak seluruh ulama Islam, seluruh gerakan-gerakan Islam, para penguasa Islam, untuk memainkan perannya masing-masing, dalam membela agama mereka yang menjadi target serangan musuh pada zaman ini. Sama dengan ketika Geoerge Bush memberikan dua pilihan kepada seluruh dunia, berpihak kepadanya atau kita digolongkan sebagai teroris. Kami umumkan sejelas-jelasnya, bahwa kami siap dan rela mengorbankan seluruh yang kami miliki untuk membela al-Quran, Nabi Saw beserta keturunanya dan agama kami. Setiap umat memiliki cita-cita dan impian, apabila bukan kita yang membela dan memperjuangkan impian tersebut lalu siapa lagi ?
Kami juga tidak ingin hidup dalam keadaan hina dikarenakan terus-terusan diserang oleh musuh-musuh Islam. Di sini saya kembali mengajak kepada seluruh umat Islam, untuk merasa bertanggung jawab terhadap nasib agama kita pada saat ini. Secara khusus lagi saya mengajak umat Islam untuk menghindari perpecahan, permusuhan, kebencian dan konflik serta perselisihan internal. Baik perselisihan dalam bidang akidah, fikih, pemikiran ataupun dalam bidang sejarah. Umat Islam dituntut untuk saling bersatu, mem- bantu, dan saling tolong menolong sesama mereka.
Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun tokoh Islam yang menawarkan dan meneriakan solusi perdamaian Islam. Yang artinya seorang Syi’ah harus menjadi Sunni, dan seorang Sunni pun harus menjadi seorang Syi’ah. Atau penganut Imam Syafi’i menjadi pengikut Imam Malik. Atau pengikut Syiah Imamiyah menjadi pengikut Syiah Zaidiyah, tidak sama Syiah Imamiyah menjadi pengikut Syiah Zaidiyah, tidak sama sekali, dan bukan itu tujuan hakikinya.
Biarkan penganut Sunni dengan Sunninya yang benar, Syiah dengan Syiahnya yang benar. Biarkan setiap orang untuk memeluk mazhabnya masing-masing. Biarkan masing-masing orang memilih mazhab yang disukainya, akan tetapi bukankah terdapat medan yang sangat luas yang menjadi pijakan bersama antara umat muslimin, berupa akidah, pemikiran-pemikiran, nilai-nilai dan konsep-konsep islam, hukum-hukum dan furu’ ?
Mengapa kita tidak memulainya dari medan yang luas dan menjadi pijakan kita bersama ini ? Bukankah umat Islam memiliki kepentingan besar bersama menyangkut kepenti- ngan seluruh umat Islam di dunia ? Mengapa kita tidak bergandengan tangan, saling menggengggam erat tangan kita, demi mempertahankan kemaslahatan kita bersama ? Yang bukan hanya milik kelompok Sunnah atau Syiah, atau kelom- pok Islam lainnya. Khususnya di zaman ini, ketika Islam yang kita anut, al-Quran yang kita imani, Rasul yang kita imani kerasulannya, ini adalah target dari perang terbuka ini. Dengan penuh rasa sesal saya katakan, bahwa di dunia Islam ini masih ada juga kelompok Islam yang bersikeras mencip- takan berbagai fitnah dan kekacauan di antara umat Islam. Masih ada juga kelompok Islam yang sampai sekarang menggunakan dana yang besar untuk mencetak berbagai kitab dan mengkafirkan kelompok Islam lainnya.
Untuk memprovokasi dan berbuat aniaya terhadap umat Islam., ini sangat menyedihkan sekali. Seharusnya dana-dana besar seperti itu digunakan untuk memperkenalkan ajaran Islam dengan menggunakan berbagai bahasa asing, kepada dunia internasional yang memahami Islam sebagai agama teroris. Ada sebagian dari umat Islam yang memper- tahankan konflik dan perpecahan yang terjadi di dalam Islam ini. Lalu ada sekelompok orang memasuki masjid Syiah di Pakistan yang sedang shalat dan membunuh seluruh orang di dalamnya. Setelah itu mereka pun memasuki masjid Sunni yang terdapat orang sedang shalat di dalam,nya dan mereka pun membunuh seluruhnya.
Siapa yang berada di belakang ini semua ? Seluruh orang-orang yang memiliki perhatian terhadap Islam menge- tahui jawabannya. Bahwa mereka adalah tentara bayaran dari dinasti Khawarizme. Bukankah telah tiba waktunya bagi mereka untuk mengoreksi diri dan takut kepada Allah karena sikap buruk mereka terhadap agama, al-Quran, Nabi, dan orang-orang salih dari kalangan mereka ?. Justru dana-dana besar yang mereka miliki ini digunakan untuk memecah belah umat Islam, atau satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Ada apa dengan kelompok Islam yang sering menggunakan logika pengkafiran ini ?
Padahal tidak ada sedikitpun perbedaan dalam hal ushuluddin (prinsip-prinsip agama). Sebagian orang meng- kafirkan sesama saudaranya dikarenakan perbedaan dalam
beberapa masalah fikih, tradisi dan kalimat. Siapakah yang memberi kalian wewenang tentang hal ini ? Ibnu Taimyah, Ibnu Abdul wahhab ataukah iblis ?
Untuk mengelompokkan umat Islam menjadi muslim dan Kafir. Dan memvonis umat Islam yang berbeda pemaha-man dengan kalian sebagai orang-orang yang telah keluar dari ajaran dan ruhnya agama Islam sesuka kalian ?
Saya mengajak kepada seluruh umat Islam untuk kembali mempertimbangkan kembali situasi dan kondisi yang tengah kita alami saat ini. Sambil senantiasa waspada bahwa landasan Islam yang kita anut ini sedang dalam bahaya besar. Bukan mazhab tertentu, bukan ijtihad tertentu, bukan pula aliran tertentu. Siapa pun tidak boleh berpangku tangan dalam menyikapi persoalan ini, apalagi takut atau mundur dari gelanggang arena.
Kita sangat membutuhkan pemahaman yang dilandasi oleh pemahaman sejarah yang benar serta sesuai dengan tuntutan zaman yang original. Kita membutuhkan persatuan, semangat jihad, berani mati syahid, yang kita pelajari dari Rasulullah Saw. Semangat yang mengajarkan kita, adalah semangat untuk melestarikan, dan menjaga kehormatan agama Islam. Dengan mengorbankan nyawa dan apa pun yang kita miliki.
Dan sebagai penutup dari bab. Ini saya akan perlihat- kan kembali dua buah dalil di mana Ibnu Taimiyah benar-benar merestui pembantaian Imam Husain oleh Yazid.
ويزيد ليس بأعظم جرما من بنى إسرائيل كان بنو إسرائيل يقتلون الأ نبياء وقتل الحسين ليس بأعظم من قتل الأ نبياء
“ Yazid tidak lebih jahat dari Ban Israil, sedangkan Bani Israil saja membunuh para Nabinya, maka membunuh al-Husain tidak lebih jahat daripada membunuh para nabi “ (Ibid 2 / 247)
Lihatlah kehancuran akidah yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyah. Bisa-bisanya dia berkata bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Israil terhadap nabinya bukan sebuah kesalahan dan dosa. Bahkan dia masih juga membela Yazid bahwa membunuh al-Husain merupakan hal biasa saja. Apakah orang seperti Ibnu Taimiyah ini yang harus dijadikan imam umat ? Tidak ada ada satupun orang yang berakal dari umat ini yang beranggapan sebagaimana keyakinan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah menganggap pembantaian yang dilakukan Yazid sebuah penghalalan terhadap apa yang telah diharamkan Allah di dalam al-Quran. Bukankah Allah Swt telah berfirman :
ولاَ يَقْتُلُونَ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلاَّ بِٱلْحَقِّ
“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) kecuali dengan sebab yang benar “ (QS. 25 / al-Furqan : 68)
Allah Swt telah mengharamkan pembunuhan secara sadis dan batil. Lalu Ibnu Taimiyah datang dengan fatwa menghalalkan pembunuhan Imam Husain. Betapa bodoh dan dungunya dia.
Di dalam ayat lainnya Allah Swt berfirman :
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَـٰطِينُ * تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يُلْقُونَ ٱلسَّمْعِ وَأَكْثَرُهُمْ كَـٰذِبُونَ *
“ Apakah akan Aku beritahu kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun ? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta dan banyak dosanya. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah para pendusta “ (QS. 26 / Asy-Syua’ra : 221 – 223)
Ketika setan-setan turun kepada para pendusta agama, maka para pendusta agama itu telah menjadi walinya setan. Menjadi washilah (perantara) antara setan manusia yang satu dengan para pengikutnya. Dan mereka satu mazhab dalam kesesatan, yaitu mazhab setan. Hal ini bukan propaganda dan tipu muslihat, karena Allah telah berfirman :
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَـٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ *
“ Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya “. (QS. 43 / Az-Zuhkruf : 36)
Apabila “ kawan gerotnya “ Ibnu Taimiyah adalah setan-setan yang terkutuk, maka bisa dipastikan bahwa fatwa-fatwanya pun fatwa setan. Rasulullah Saw bersahabat dengan Jibril, para wali Allah bersahabat dengan raja jin muslim yang shalih, eeeh Ibnu Taimiyah malah bersahabat dengan setan. Kemudian para pengikut sesatnya pun memuja dan memuji Ibnu Taimiyah setinggi langit. Apakah bukan sebuah per- buatan bid’ah yang menyesatkan ketika seseorang meng- kultuskan seseorang yang bermazhab setan ?
Inilah pola pikir yang rendah dan tidak berkualitas yang dimiliki oleh setan dan para pengikutnya. Orang yang memuja dan memuji Nabi Saw dikatakan kafir dan musyrik, karena mengkultuskan Nabi Saw tidak ada dalilnya kata mereka. Lalu mana dalilnya yang mengatakan bahwa memuja dan memuji serta mengkultuskan Ibnu Taimiyah adalah perbuatan sunnah ? Wahai para pengikut mazhab setan ? coba kalian jawab pertanyaan sederhana ini.
Lihatlah kebohongan Ibnu Taimiyah dalam memutar balikkan fakta, di mana dia berkata : “ Al-Husain terbunuh dalam keadaan dizalimi dan syahid, ketika informasi terbunuhmya al-Husain ini sampai kepada Yazid dan keluarganya, mereka sakit hati dan menangisi terbunuhnya al-Husain. Yazid berkata, “ Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah (yaitu Ubaidillah bin Ziyad), demi Allah seandainya di antara dia dan al-Husain ada hubungan kekerabatan, pasti ia tidak akan membunuhnya “. (Minhaju as-Sunnah, Ibn Taimiyah 4 / 256)
Kepalsuan dan kebohongan apa lagi ini ? Ibnu Taimiyah benar-benar telah memanipulasi dan memutilasi sejarah sebenarnya. Ibnu Taimiyah berusaha memberikan argumentasi dan fatwa-fatwa yang sepintas masuk akal, dan dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kekejaman dinasti Umayah (Khawarij) ini dari keyakinan mayoritas umat Islam. Ibnu Taimiyah sepertinya benar-benar tidak pernah belajar sejarah Islam secara jujur.
Imam ath-Thabarani di dalam kitabnya berkata : “ Al-Husain bin Ali tidak mau melawan, lalu mereka memera-ginya dan membunuhnya, dan juga membunuh keturunan serta sahabat-sahabatnya yang ikut berperang bersamanya di suatu tempat yang bernama ‘aththaf. Lalu Ali bin Husain, Fathimah binti Husain, dan Sukainah binti Husain dibawa menghadap Ubaidillah bin Ziyad, sedangkan Ali bin Husain pada saat itu masih kecil. Kemudian (Ubaidillah) mengirim mereka menghadap Yazid bin Muawiyah, kemudian (Yazid) menyuruh Sukainah dan membawanya kebelakang singgasa- nanya agar ia dapat melihat kepala ayahnya dan kepala saudara-saudaranya yang lain....kemudian Yazid memukul gigi al-Husain rda (dengan tongkatnya), seraya bersenandung, “ Kami pecahkan isi kepala orang-orang yang dicintai, dan mereka adalah orang yang paling biadab dan paling zalim “.
Kemarahan yang menyeruak memenuhi kalbu para pecinta keluarga Rasul Agung Saw. Mengapa orang biadab seperti Yazid ini yang harus dibela mati-matian oleh Ibnu Taimiyah ?
Telah diriwayatkan pula dalam kitab lainnya :
“ Pada saat pembantaian al-Husain selesai, maka dibawalah kepalanya, lalu kemudian kemahnya dibakar, dan Ali Zainal Abidin bersama mereka digiring ke Damsyik seperti tawanan. Semoga Allah membunuh dan menghinakan orang yang melakukan hal itu, dan orang yang memerintah- kannya, atau orang yang meridhainya “(Syadzaraati Dzahab fi Akhbari Man Dzahab, 1 / 67 Ibnu Imad al-Hanbali ad-Damsyik)
Telah diriwayatkan pula, “ Ketika al-Husain tergeletak beberapa menit, setelah perlawanannya berakhir. Sekonyong-konyong Syabts bin Ruba’i menyeruak dari barisan dan bergegas menuju al-Husain yang telah kehilangan tenaganya. Namun secara tak terduga lelaki yang terkenal beringas itu kembali ke barisannya.
“ Hai, mengapa kau kini jadi penakut ? Mengapa kau batalkan niatmu untuk membunuh al-Husain ? “ tegur Sinan bin Anas mengejek.
“ Hai keparat, tahukah kau, ketika ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika itu juga aku melihat wajah kakeknya Muhammad “, bantah Syabts bin Ruba’i.
“ Kau memang penakut ! “ kata Sinan sambil memisah- kan diri dari barisannya menuju tubuh al-Husain yang lunglai tak bergerak.
Ketika hendak mengayunkan pedangnya ke arah leher al-Husain, Sinan tiba-tiba melepaskan pedangnya dan lari meninggalkan tubuh yang sudah tak berdaya itu sendirian “.
“ Hai penakut, mengapa engkau lari terbirit-birit “ ejek Syimir.
“ Sungguh wajahnya begitu mirip dengan Muhammad “, jawab Sinan sambil menundukkan wajahnya.
“ Dasar keturunan pengecut “ kecam Syimir. Syimir pun menghampiri tubuh al-Husain. Kemudian manusia yang berwajah buruk itu duduk di atas dada al-Husain.
“ Hai Husain, jangan enagkau samakan aku dengan kedua orang pengecut tadi “ sementara tangan kirinya mempermainkan jenggot al-Husain.
“ Siapa kamu apa yang membuatmu begitu biadab ? “ tanya al-Husain dengan suara terputus-putus.
“ Syimir Dzil Jausan “, jawabnya singkat sambil menghunus pedangnya.
“ Tahukan siapa orang yang sedang engkau duduki ? “ Siapakah aku ? “ tanya al-Husain.
“ Ya aku mengetahuinya, engkau adalah al-Husain putra Ali dan Fathimah binti Muhammad binti Khadijah “, jawabnya datar.
“ Lalu mengapa kau masih berniat membunuhku ? “ tanya al-Husain yang mulai merasakan dadanya sesak
“ Aku mengharapkan imbalan dari Yazid “, sahutnya
“ Tidakkah engkau mengharapkan syafa’at kakekku Rasulullah ? tanya al-Husain.
“ Hai Husain, sedikit imbalan dari Yazid lebih aku sukai daripada imbalan dari ayah, kakek dan nenak moyangmu “ bantah Syimir sambil tertawa keras.
“ Kalau kau memang harus membunuhku, maka berilah aku sedikit air minum terlebih dahulu “ pinta al-Husain.
“ Ooh itu mustahil aku lakukan untukmu. Kau akan mati tercekik kehausan. Sedikit air akan memperpanjang pertempuran. Bersabarlah sedikit, karena tak lama lagi kau akan diberi minum air telaga oleh kakekmu. Bukankah begitu ? ujarnya sambil tertawa menghina.
Mendadak Syimir terdiam dan setelah itu al-Husain berkata, “ bukalah kain penutup wajahmu ! “
Syimir membuka tabir wajahnya, dan menutupnya kembali.
“ Benar ucapan kakekku “ ujar al-Husain
“ Apa yang dikatakan oleh kakekkmu ? “ tanya Syimir
“ Kakekku berkata, bahwa pembunuh aku adalah seorang yang wajahnya sangat buruk, tubuhnya dipenuhi bulu kasar, hingga penampilannya tidak dapat memikat wanita manapun, bahkan lebih mirip dengan babi hutan “ sahut al-Husain seraya memalingkan wajahnya.
“ Bedebah kau ! terkutuklah kau dan kakekmu yang menyamakan aku dengan babi hutan. Akan aku sembelih kau secara perlahan-lahan sebagai balasan atas ucapan kakekmu itu “ Syimir berkata dengan penuh dendam dan kebencian
Syimir memulai sayatan demi sayatan hingga satu persatu terlepaslah semua anggota badan al-Husain. Ketika Syimir memindahkan pedangnya yang tajam dan panjang ke depan leher al-Husain, pedang itu tidak mampu memotongnya karena bagian depan lehernya al-Husain sering diciumi oleh Nabi Saw.
Maka Syimir pun memindahkan pedangnya ke arah belakang lehernya, dan kepala al-Husain itu digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri oleh manusia terlaknat itu. Gema tangisan dan raungan wanita-wanita keluarga Abdul Qasim yang membumbung dan membelah angkasa mengawali adegan pemisahan leher al-Husain dari tubuhnya. Tubuh yang penuh luka itu menggelepar-gelepar ketika pedang itu menyisit permukaan kulit leher al-Husain.
Setelah selesai adegan biadab ini, tubuh pemimpin para pemuda surga itu terkoyak-koyak. Dan untuk menyem- purnakan kebiadabannya, pasukan Yazid melemparkan tubuh mulia itu ke barisan ratusan kaki kuda. Sehinga tubuh suci itu pun di injak-injak oleh ratusan kuda, Manusia-manusia terkutuk ini kemudian menendang-nendang kepala al-Husain ke sana kemari seperti anak-anak kecil yang sedang bermain bola. Mereka tertawa terbahak -bahak dengan kerasnya.
Tak lama setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi, lewatkah sekelompok pedeta Nasharani dan bertanya kepada pasukan Yazid, “ Sepertinya baru terjadi peperangan yang besar di sini ? “
Mereka menjawab, “ Benar, kami telah membunuh dan mencincang Husain bin Ali dan keluarganya “, seru mereka dengan bangga.
Dengan penuh keheranan pendeta Nashrani itu berkata : “ Husain dari cucu Nabi kalian ? “ alangkah kejam dan biadabnya kalian. Di negeri kami masih ada keturunan pemelihara keledai Nabi Isa a.s di mana kami membuang nazar, dan kami sangat menghormatinya, sebagaimana kami menghormati kitab suci kami. Sementara al-Husain adalah cucu dari Nabi kalian, ternyata kalian berada di jalan yang sesat dan menyesatkan “. Akhirnya pendeta Nasrani dan pengikutnya itu masuk Islam. (Shawa’iq al-Muhriqah 2 / 569, Ibnu Hajar al-Haitami)
Orang-orang biadab inikah yang dinilai berpahala karena membunuh dan menyayat-nyayat tubuh cucu terkasih Rasulullah Saw ? Lihatlah semangat dinasti Umayah (Khawarij) yang masih hidup pada saat ini. Di mana kita melihat sekelompok orang yang tidak mau memuliakan dan menghormati keluarga Nabi Saw, maka merekalah Khawarij pada zaman ini. Mereka adalah musuh abadi Islam.
Peristiwa yang terjadi pada masa lalu tentang penghinaan dan pelecehan terhadap keluarga Baginda Nabi Saw, merupakan pengulangan sejarah yang persis sama dengan detail-detailnya. Yang berbeda hanya settingannya di buat sedemikian rapi dan terselubung.
Merekalah yang menghancurkan kebudayaan Islam merusak tempat-tempat bersejarah, menghilangkan hubungan dengan kenabian itu sendiri, menghilangkan data sejarah yang sebenaranya, membakar kitab-kitab sejarah dan keilmuan dalam Islam, memporak-porandakan kedamaian dan ketentraman dalam Islam.
Target utama mereka adalah menghancurkan Islam, akidah risalah dan pemikiran islam. Target mereka adalah memerangi al-Quran dan As-Sunnah. Saat ini sudah tampak dengan jelas, bahwa peperangan terhadap Islam telah dimulai kembali. Dahulu memang telah ada kospirasi musuh terhadap Islam, Tetapi tidak seberani pada saat sekarang ini. Sekarang mereka memerangi Islam tanpa basa-basi. Inilah kenyataan yang kita rasakan pada saat ini. Karena mereka ingin menghidupan, melestarikan dan mengembangkan kembali kejayaan dan kebiadaban “ Khawarizme “ sebagai bentuk balas dendam terhadap kemuliaan keturunan Rasululullah Saw.
Ada upaya besar-besaran yang dilakukan oleh negara Saudi Arabia dan sekutunya, sehingga memakan biaya milyaran dollar dalam bidang pemikiran, kebudayaan, media masa dan politik, baik bersifat publik atau eksklusif bahkan lebih dari yang kita bayangkan, demi menciptakan opini terhadap dunia seperti sekarang ini. Bahwa Islam Khawarij atau Wahabilah yang benar-benar eksis dan paling benar.
Mereka telah menghancurkan tempat-tempat suci, membumi hanguskan makam-makam keramat dengan berdalih “ menghilangkan kemusyrikan, menghapus khufarat, menegakkan sunnah, memelihara keyakinan umat Islam dan berbagai alasan lainnya yang “ mempesoana “ kaum yang bodoh walaupun mereka seperti terpelajar dan terdidik.
Banyak buku-buku yang terdapat di perpustaakaan-perpustakaan besar Islam dibuat oleh musuh-musuh Islam. Serta merupakan karya besar dari “ agen intelejen “ mereka. Kalaupun ada buku yang berbicara tentang kebenaran Islam bukunya tidak banyak beredar, bahkan banyak dari “ kaki tangan “ memereka memborong buku ini bukan untuk dibagikan kepada umat Islam, tetapi untuk dilenyapkan dan dihancurkan. Kemudian kitab-kitab rujukan milik mereka diperbaharui kembali sesuai dengan niat dan rencana busuk dan jahat mereka terhadap agama yang agung dan suci ini.
Musuh-musuh Islam sekarang menyiarkan acara televisi dengan mengahdirkan para mubaligh yang tidak mengerti tentang Islam. Mereka membaca al-Quran dihadapan para pemirsa dan menafsirkannya sesuka mereka. Mereka ingin memberitahukan kepada umat Islam, bahwa siapa pun boleh berijtihad, karena al-Quran milik umat Islam, as-Sunnah milik umat Islam, barangsiapa yang ijtihadnya
Benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang salah akan mendapatkan satu pahala. Kebodohan apa lagi ini ?
Katakanlah kepada kami, siapa yang sebenarnya menjadi sasaran pembunuhan dan pengancuran tersebut, apakah orang-orang Nasrani dan Yahudi ?... tidak ! yang menjadi sasaran pembunuhan dan penghancuran tersebut adalah saudara-saudara kita yang mengucapkan kalimat syahadat seperti kita.
Lalu apalah artinya apabila al-Quran dikesampingkan dari Islam, atau apalah artinya orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak mau menjaga akidah dan risalah suci ini ? Akankah Islam menjadi sebuah agama apabila tidak ada al-Quran ? Inilah yang terjadi di dunia ini. Musuh-musuh Islam elalu melakukan propaganda besar-besaran terhadap konspi- rasinya ini.
Saudara-saudaraku sekalian, sekarang saya katakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa saya tidak bermaksud untuk mengajak seluruh masyarakat Islam dan dunia untuk bangkit berperang. Kami tidak ingin memaksakan kebenaran agama ini kepada siapa pun. Sejarah kami membuktikannya seperti itu. Akan tetapi pada saat yang sama, kami para pengikut setia Nabi Saw. Kami secara tegas menolak pelecehan terhadap kebenaran agama kami, terhadap Rasul kami, terhadap al-Quran kami oleh siapa pun di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa masalah yang sebenarnya bukan- lah seringan yang pembaca pikirkan. Target sebenarnya adalah Islam, al-Quran serta kebencian yang memuncak kepada semua keturunan Rasulullah Saw. adalah sasarannnya. Ketika mereka menyatakan perang terhadap al-Quran, maka ini bukan terhadap Sunni dan Syi’ah saja. Atau perang terhadap tokoh-tokoh revolusi Islam, atau terhadap kaum-kaum tradisional, atau selain mereka. Karena al-Quran adalah kitab suci bagi mereka semua, kitab suci bagi kami dan kita semua. Karena al-Quran adalah agama bagi kita dan mereka semua. Peperangan yang terjadi adalah dengan al-Quran, as-sunnah keluarga Nabi Saw dan dengan Islam.
Yang dilakukan musuh-musuh Islam pada saat ini, silahkan anda lihat internet, adalah menggelar perang terbuka terhadap al-Quran. Saya tidak bermaksud untuk mengundang amarah dan memancing emosi umat Islam agar mengangkat senjata. Saya hanya mengajak seluruh umat Islam yang ber- akal dan beriman secara total kepada kebenaran yang paling benar, untuk segera mengerahkan seluruh kemampuan intelektual, politik, sosial budaya, dan media masa untuk menghadapi serangan ini. Tetapi apabila kita dipaksa untuk menggunakan senjata, maka kita pun akan menghadapinya dengan senjata.
Tetapi kita tidak boleh berpangku tangan terhadap musuh-musuh Islam, menafsirkan dan menerjemahkan al-Quran sesuai dengan kehendak dan keinginan kelompok mereka, Saya mengajak seluruh ulama Islam, seluruh gerakan-gerakan Islam, para penguasa Islam, untuk memainkan perannya masing-masing, dalam membela agama mereka yang menjadi target serangan musuh pada zaman ini. Sama dengan ketika Geoerge Bush memberikan dua pilihan kepada seluruh dunia, berpihak kepadanya atau kita digolongkan sebagai teroris. Kami umumkan sejelas-jelasnya, bahwa kami siap dan rela mengorbankan seluruh yang kami miliki untuk membela al-Quran, Nabi Saw beserta keturunanya dan agama kami. Setiap umat memiliki cita-cita dan impian, apabila bukan kita yang membela dan memperjuangkan impian tersebut lalu siapa lagi ?
Kami juga tidak ingin hidup dalam keadaan hina dikarenakan terus-terusan diserang oleh musuh-musuh Islam. Di sini saya kembali mengajak kepada seluruh umat Islam, untuk merasa bertanggung jawab terhadap nasib agama kita pada saat ini. Secara khusus lagi saya mengajak umat Islam untuk menghindari perpecahan, permusuhan, kebencian dan konflik serta perselisihan internal. Baik perselisihan dalam bidang akidah, fikih, pemikiran ataupun dalam bidang sejarah. Umat Islam dituntut untuk saling bersatu, mem- bantu, dan saling tolong menolong sesama mereka.
Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun tokoh Islam yang menawarkan dan meneriakan solusi perdamaian Islam. Yang artinya seorang Syi’ah harus menjadi Sunni, dan seorang Sunni pun harus menjadi seorang Syi’ah. Atau penganut Imam Syafi’i menjadi pengikut Imam Malik. Atau pengikut Syiah Imamiyah menjadi pengikut Syiah Zaidiyah, tidak sama Syiah Imamiyah menjadi pengikut Syiah Zaidiyah, tidak sama sekali, dan bukan itu tujuan hakikinya.
Biarkan penganut Sunni dengan Sunninya yang benar, Syiah dengan Syiahnya yang benar. Biarkan setiap orang untuk memeluk mazhabnya masing-masing. Biarkan masing-masing orang memilih mazhab yang disukainya, akan tetapi bukankah terdapat medan yang sangat luas yang menjadi pijakan bersama antara umat muslimin, berupa akidah, pemikiran-pemikiran, nilai-nilai dan konsep-konsep islam, hukum-hukum dan furu’ ?
Mengapa kita tidak memulainya dari medan yang luas dan menjadi pijakan kita bersama ini ? Bukankah umat Islam memiliki kepentingan besar bersama menyangkut kepenti- ngan seluruh umat Islam di dunia ? Mengapa kita tidak bergandengan tangan, saling menggengggam erat tangan kita, demi mempertahankan kemaslahatan kita bersama ? Yang bukan hanya milik kelompok Sunnah atau Syiah, atau kelom- pok Islam lainnya. Khususnya di zaman ini, ketika Islam yang kita anut, al-Quran yang kita imani, Rasul yang kita imani kerasulannya, ini adalah target dari perang terbuka ini. Dengan penuh rasa sesal saya katakan, bahwa di dunia Islam ini masih ada juga kelompok Islam yang bersikeras mencip- takan berbagai fitnah dan kekacauan di antara umat Islam. Masih ada juga kelompok Islam yang sampai sekarang menggunakan dana yang besar untuk mencetak berbagai kitab dan mengkafirkan kelompok Islam lainnya.
Untuk memprovokasi dan berbuat aniaya terhadap umat Islam., ini sangat menyedihkan sekali. Seharusnya dana-dana besar seperti itu digunakan untuk memperkenalkan ajaran Islam dengan menggunakan berbagai bahasa asing, kepada dunia internasional yang memahami Islam sebagai agama teroris. Ada sebagian dari umat Islam yang memper- tahankan konflik dan perpecahan yang terjadi di dalam Islam ini. Lalu ada sekelompok orang memasuki masjid Syiah di Pakistan yang sedang shalat dan membunuh seluruh orang di dalamnya. Setelah itu mereka pun memasuki masjid Sunni yang terdapat orang sedang shalat di dalam,nya dan mereka pun membunuh seluruhnya.
Siapa yang berada di belakang ini semua ? Seluruh orang-orang yang memiliki perhatian terhadap Islam menge- tahui jawabannya. Bahwa mereka adalah tentara bayaran dari dinasti Khawarizme. Bukankah telah tiba waktunya bagi mereka untuk mengoreksi diri dan takut kepada Allah karena sikap buruk mereka terhadap agama, al-Quran, Nabi, dan orang-orang salih dari kalangan mereka ?. Justru dana-dana besar yang mereka miliki ini digunakan untuk memecah belah umat Islam, atau satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Ada apa dengan kelompok Islam yang sering menggunakan logika pengkafiran ini ?
Padahal tidak ada sedikitpun perbedaan dalam hal ushuluddin (prinsip-prinsip agama). Sebagian orang meng- kafirkan sesama saudaranya dikarenakan perbedaan dalam
beberapa masalah fikih, tradisi dan kalimat. Siapakah yang memberi kalian wewenang tentang hal ini ? Ibnu Taimyah, Ibnu Abdul wahhab ataukah iblis ?
Untuk mengelompokkan umat Islam menjadi muslim dan Kafir. Dan memvonis umat Islam yang berbeda pemaha-man dengan kalian sebagai orang-orang yang telah keluar dari ajaran dan ruhnya agama Islam sesuka kalian ?
Saya mengajak kepada seluruh umat Islam untuk kembali mempertimbangkan kembali situasi dan kondisi yang tengah kita alami saat ini. Sambil senantiasa waspada bahwa landasan Islam yang kita anut ini sedang dalam bahaya besar. Bukan mazhab tertentu, bukan ijtihad tertentu, bukan pula aliran tertentu. Siapa pun tidak boleh berpangku tangan dalam menyikapi persoalan ini, apalagi takut atau mundur dari gelanggang arena.
Kita sangat membutuhkan pemahaman yang dilandasi oleh pemahaman sejarah yang benar serta sesuai dengan tuntutan zaman yang original. Kita membutuhkan persatuan, semangat jihad, berani mati syahid, yang kita pelajari dari Rasulullah Saw. Semangat yang mengajarkan kita, adalah semangat untuk melestarikan, dan menjaga kehormatan agama Islam. Dengan mengorbankan nyawa dan apa pun yang kita miliki.
Dan sebagai penutup dari bab. Ini saya akan perlihat- kan kembali dua buah dalil di mana Ibnu Taimiyah benar-benar merestui pembantaian Imam Husain oleh Yazid.
ويزيد ليس بأعظم جرما من بنى إسرائيل كان بنو إسرائيل يقتلون الأ نبياء وقتل الحسين ليس بأعظم من قتل الأ نبياء
“ Yazid tidak lebih jahat dari Ban Israil, sedangkan Bani Israil saja membunuh para Nabinya, maka membunuh al-Husain tidak lebih jahat daripada membunuh para nabi “ (Ibid 2 / 247)
Lihatlah kehancuran akidah yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyah. Bisa-bisanya dia berkata bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Israil terhadap nabinya bukan sebuah kesalahan dan dosa. Bahkan dia masih juga membela Yazid bahwa membunuh al-Husain merupakan hal biasa saja. Apakah orang seperti Ibnu Taimiyah ini yang harus dijadikan imam umat ? Tidak ada ada satupun orang yang berakal dari umat ini yang beranggapan sebagaimana keyakinan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah menganggap pembantaian yang dilakukan Yazid sebuah penghalalan terhadap apa yang telah diharamkan Allah di dalam al-Quran. Bukankah Allah Swt telah berfirman :
ولاَ يَقْتُلُونَ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلاَّ بِٱلْحَقِّ
“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) kecuali dengan sebab yang benar “ (QS. 25 / al-Furqan : 68)
Allah Swt telah mengharamkan pembunuhan secara sadis dan batil. Lalu Ibnu Taimiyah datang dengan fatwa menghalalkan pembunuhan Imam Husain. Betapa bodoh dan dungunya dia.
Di dalam ayat lainnya Allah Swt berfirman :
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَـٰطِينُ * تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يُلْقُونَ ٱلسَّمْعِ وَأَكْثَرُهُمْ كَـٰذِبُونَ *
“ Apakah akan Aku beritahu kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun ? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta dan banyak dosanya. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah para pendusta “ (QS. 26 / Asy-Syua’ra : 221 – 223)
Ketika setan-setan turun kepada para pendusta agama, maka para pendusta agama itu telah menjadi walinya setan. Menjadi washilah (perantara) antara setan manusia yang satu dengan para pengikutnya. Dan mereka satu mazhab dalam kesesatan, yaitu mazhab setan. Hal ini bukan propaganda dan tipu muslihat, karena Allah telah berfirman :
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَـٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ *
“ Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya “. (QS. 43 / Az-Zuhkruf : 36)
Apabila “ kawan gerotnya “ Ibnu Taimiyah adalah setan-setan yang terkutuk, maka bisa dipastikan bahwa fatwa-fatwanya pun fatwa setan. Rasulullah Saw bersahabat dengan Jibril, para wali Allah bersahabat dengan raja jin muslim yang shalih, eeeh Ibnu Taimiyah malah bersahabat dengan setan. Kemudian para pengikut sesatnya pun memuja dan memuji Ibnu Taimiyah setinggi langit. Apakah bukan sebuah per- buatan bid’ah yang menyesatkan ketika seseorang meng- kultuskan seseorang yang bermazhab setan ?
Inilah pola pikir yang rendah dan tidak berkualitas yang dimiliki oleh setan dan para pengikutnya. Orang yang memuja dan memuji Nabi Saw dikatakan kafir dan musyrik, karena mengkultuskan Nabi Saw tidak ada dalilnya kata mereka. Lalu mana dalilnya yang mengatakan bahwa memuja dan memuji serta mengkultuskan Ibnu Taimiyah adalah perbuatan sunnah ? Wahai para pengikut mazhab setan ? coba kalian jawab pertanyaan sederhana ini.
Ibnu Taimiyah sangat membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w
Sungguh tidak habis pikir, apa yang menjadikan Ibnu Taimiyah menjadi segila ini. Apakah beliau tidak percaya dengan kalam Rasulullah Saw yang ma’shum ? Bukankah Nabi Saw yang menikahkan putrinya sayyidah Fathimah dengan Sayyidina Ali ? Apabila Nabi Saw saja ridha putrinya dinikahkan dengan Sayyidina Ali, lalu mengapa Ibnu Taimiyah bisa sangat membencinya ?
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkannya sebagai berikut :
“ Ibnu Taimiyah berkata : “ Sesungguhnya (Ali) adalah orang yang tercela dalam segala hal. Dia berusaha untuk mengejar kekhalifahan meskipun tidak ia peroleh, dan dia berperang hanya untuk mendapatkan kedudukkan, bukan demi agama, dan sesungguhnya Ali gila kekuasaan “.(Durarul Kaminah 1 / 155, Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Lihatlah apa yang dikatakan oleh seorang “ Syaikh al-Islam Gadungan “ ini, apakah pantas seorang umat Nabi Saw mencaki maki dan merendahkan seorang sahabat, menantu dan salah satu perawi syari’at paling mulia ini ?
Saya akan berikan logika yang termudah dan tercepat kepada para pembaca yang budiman. Sayyidina Ali k.w mendapatkan banyak sanjungan, pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Nabi Saw dan para sahabat lainnya. Lalu keterangan dan hadits yang mana yang menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah pun mendapatkan banyak sanjungan, pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Nabi Saw dan para sahabat lainnya ?
Satu kali pujian dari Nabi kepada seorang sahabatnya sudah lebih dari cukup, dibandingkan jutaan orang memuji dan memuja Ibnu Taimiyah, dan itu sudah pasti. Pujian yang berasal dari kalam tersuci sudah pasti benar adanya, sedang- kan pujian dari pengikutnya Ibnu Taimiyah apakah sama sucinya dengan sabda Nabi Saw ? Bukankah Allah Swt telah berfirman :
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى
“ kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru “ (QS. 53 / an-Najm : 2)
Banyak hadits yang disampaikan oleh Nabi Saw tentang keutamaan Sayyidina Ali kw, misalnya :
اَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ اَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأتِ مِنْ بَابِهَا
“ Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, siapa yang ingin masuk ke kota (ilmu) tersebut, hendaknya datang lewat pintunya “.
Dalam hadits lainnya :
اَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَاَنْتَ بَابُهَا كَذَبَ مَنْ زَعَمَ اَنَّهُ يَصِلُ اِلىَ الْمَدِيْنَةِ اِلاَّ مِنْ قَبْلِ الْبَابِ
“ Aku adalah kota ilmu, dan kamu adalah pintunya, bohonglah orang yang mengaku dapat sampai ke kota (ilmu) tanpa melewati pintunya “.
Hadits ini merupakan hadits masyhur mutawatir yang banyak diriwayatkan oleh sahabat di antaranya oleh : Sayyidina Ali k.w sendiri, Sayyidina Hasan bin Ali, Sayyidina Husain bin Ali, Ibnu Abbas r.a, Jabir bin Abdullah r.a, Abdullah bin Mas’ud r.a, Hudzaifah bin al-Yaman r.a, Abdullah bin Umar r.a, Anas bin Malik r.a dan Amr bin ‘Ash r.a, serta telah dishahihkan oleh tidak kurang dari 20 ulama besar Ahlussunnah. Seperti : al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Mu’in, al-Khatib, Abu al-Hajjaj, Ibnu Hajar, ath-Thabari, al-Hakim, Jalaluddin as-Suyuthi, al-Bukhari, dan banyak lagi.
Dalam hadits lainnya :
هَذَا عَلِيٌّ فَأَحِبُوْهُ بِحُبِّّي وَاَكْرِمُوْهُ بِكَرَامَةِ فَإِنَّ جِبْرِيْلَ أَمَرَنيِ بِالَّذِي قُلْتُ لَكُمْ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“ Inilah Ali, cintailah ia karena kecintaan kepadaku dan muliakanlah ia karena kemuliaanku. Sebab Jibril telah memerintahku untuk menyampaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla apa yang telah kukatakan kepada kalian “ (Fara’id as-Simthain 1 / 196, Manaqib, al-Khawarizmi 229, Mustadrak, al- Hakim)
Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata :
“ Telah berkata Imam pada zamannya, yaitu Abu Zur’ah Arrazi, paling mulianya di antara guru-guru Muslim. Dia mengatakan, “ Jika kamu melihat seseorang yang merendahkan kedudukan sahabat Rasulullah Saw, maka ketahuilah sesungguhnya dia zindiq “. (Shawa’iqul Muhriqah hal. 211)
Ucapan Ibnu Taimiyah ini sering kali nyeleneh dan membuat mayoritas umat muslim marah karenanya. Ucapan- nya tidak konsisten, sebagaimana ucapannya sebagai berikut :
“ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya, tapi membenci dan memusuhinya dengan hati, ia telah kafir secara mutlak dan pasti “ (Majmu Fatawa, Ibn Taimiyah 7 / 557)
Merupakan keumuman lafazh, bahwa yang dimaksud dengan kalimat “ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya “, termasuk di dalam semua gerak lisan dan batinnya Rasul Saw. Bukankah beliau yang memberikan Sayyidina Ali k.w bagi umat ini ? Bukankah beliau telah menunjuknya sebagai salah satu khalifahnya ?
Ucapan Ibnu Taimiyah ini sama saja artinya bahwa beliau telah mengingkari apa yang disabdakan oleh Nabinya sendiri. Dan beliau telah memvonis dirinya sendiri sebagai kafir mutlak dan pasti sebagaimana ucapannya di atas. Perhatikanlah dalam ucapannya : “ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya, tapi membenci dan memusuhinya dengan hati, ia telah kafir secara mutlak dan pasti “. Ibnu Taimiyah tidak hanya mebenci dan memusuhi Sayyidina Ali dengan hatinya saja, tetapi dengan dakwahnya pula. Ini adalah buah simalakama, menelan air ludahnya sendiri. Allah telah berfriman :
وَما آتاَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَما نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tingalkanlah “ (QS. 59 / al-Hasyr : 7)
Semua umat muslim bisa menerima Sayyidina Ali k.w sebagai salah satu pemberian Rasulullah Saw, lalu mengapa Ibnu Taimiyah tidak bisa ?
Dalam kesempatan lainnya, Ibnu Taimiyah berkata :
“ Jika hatinya tahu bahwa itu adalah benar, tapi ia membenci dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya yang datang membawa keimanan itu, juga terhadap utusan-Nya yang lain, dan ia tetap bersikap sombong terhadap mereka, menolak tunduk pada kebenaran, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai Mukimin yang berpahala di akhirat. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama Islam “ (At-Tis’iniyah Ibnu Taimiyah, 5 / 165, lihat juga Ash-Sharim al-Maslul 518-519)
Lihatlah “ kenyelenehannya “ lagi, masa iya Ibnu Taimiyah tidak mengetahui ayat di atas, katanya ulama besar masa tidak mengetahui tafsir tentang ayat tersebut. Sangat aneh bila kita masih mau mengikuti akidahnya yang aneh bin nyeleneh ini.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkannya sebagai berikut :
“ Ibnu Taimiyah berkata : “ Sesungguhnya (Ali) adalah orang yang tercela dalam segala hal. Dia berusaha untuk mengejar kekhalifahan meskipun tidak ia peroleh, dan dia berperang hanya untuk mendapatkan kedudukkan, bukan demi agama, dan sesungguhnya Ali gila kekuasaan “.(Durarul Kaminah 1 / 155, Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Lihatlah apa yang dikatakan oleh seorang “ Syaikh al-Islam Gadungan “ ini, apakah pantas seorang umat Nabi Saw mencaki maki dan merendahkan seorang sahabat, menantu dan salah satu perawi syari’at paling mulia ini ?
Saya akan berikan logika yang termudah dan tercepat kepada para pembaca yang budiman. Sayyidina Ali k.w mendapatkan banyak sanjungan, pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Nabi Saw dan para sahabat lainnya. Lalu keterangan dan hadits yang mana yang menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah pun mendapatkan banyak sanjungan, pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Nabi Saw dan para sahabat lainnya ?
Satu kali pujian dari Nabi kepada seorang sahabatnya sudah lebih dari cukup, dibandingkan jutaan orang memuji dan memuja Ibnu Taimiyah, dan itu sudah pasti. Pujian yang berasal dari kalam tersuci sudah pasti benar adanya, sedang- kan pujian dari pengikutnya Ibnu Taimiyah apakah sama sucinya dengan sabda Nabi Saw ? Bukankah Allah Swt telah berfirman :
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى
“ kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru “ (QS. 53 / an-Najm : 2)
Banyak hadits yang disampaikan oleh Nabi Saw tentang keutamaan Sayyidina Ali kw, misalnya :
اَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ اَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأتِ مِنْ بَابِهَا
“ Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, siapa yang ingin masuk ke kota (ilmu) tersebut, hendaknya datang lewat pintunya “.
Dalam hadits lainnya :
اَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَاَنْتَ بَابُهَا كَذَبَ مَنْ زَعَمَ اَنَّهُ يَصِلُ اِلىَ الْمَدِيْنَةِ اِلاَّ مِنْ قَبْلِ الْبَابِ
“ Aku adalah kota ilmu, dan kamu adalah pintunya, bohonglah orang yang mengaku dapat sampai ke kota (ilmu) tanpa melewati pintunya “.
Hadits ini merupakan hadits masyhur mutawatir yang banyak diriwayatkan oleh sahabat di antaranya oleh : Sayyidina Ali k.w sendiri, Sayyidina Hasan bin Ali, Sayyidina Husain bin Ali, Ibnu Abbas r.a, Jabir bin Abdullah r.a, Abdullah bin Mas’ud r.a, Hudzaifah bin al-Yaman r.a, Abdullah bin Umar r.a, Anas bin Malik r.a dan Amr bin ‘Ash r.a, serta telah dishahihkan oleh tidak kurang dari 20 ulama besar Ahlussunnah. Seperti : al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Mu’in, al-Khatib, Abu al-Hajjaj, Ibnu Hajar, ath-Thabari, al-Hakim, Jalaluddin as-Suyuthi, al-Bukhari, dan banyak lagi.
Dalam hadits lainnya :
هَذَا عَلِيٌّ فَأَحِبُوْهُ بِحُبِّّي وَاَكْرِمُوْهُ بِكَرَامَةِ فَإِنَّ جِبْرِيْلَ أَمَرَنيِ بِالَّذِي قُلْتُ لَكُمْ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“ Inilah Ali, cintailah ia karena kecintaan kepadaku dan muliakanlah ia karena kemuliaanku. Sebab Jibril telah memerintahku untuk menyampaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla apa yang telah kukatakan kepada kalian “ (Fara’id as-Simthain 1 / 196, Manaqib, al-Khawarizmi 229, Mustadrak, al- Hakim)
Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata :
“ Telah berkata Imam pada zamannya, yaitu Abu Zur’ah Arrazi, paling mulianya di antara guru-guru Muslim. Dia mengatakan, “ Jika kamu melihat seseorang yang merendahkan kedudukan sahabat Rasulullah Saw, maka ketahuilah sesungguhnya dia zindiq “. (Shawa’iqul Muhriqah hal. 211)
Ucapan Ibnu Taimiyah ini sering kali nyeleneh dan membuat mayoritas umat muslim marah karenanya. Ucapan- nya tidak konsisten, sebagaimana ucapannya sebagai berikut :
“ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya, tapi membenci dan memusuhinya dengan hati, ia telah kafir secara mutlak dan pasti “ (Majmu Fatawa, Ibn Taimiyah 7 / 557)
Merupakan keumuman lafazh, bahwa yang dimaksud dengan kalimat “ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya “, termasuk di dalam semua gerak lisan dan batinnya Rasul Saw. Bukankah beliau yang memberikan Sayyidina Ali k.w bagi umat ini ? Bukankah beliau telah menunjuknya sebagai salah satu khalifahnya ?
Ucapan Ibnu Taimiyah ini sama saja artinya bahwa beliau telah mengingkari apa yang disabdakan oleh Nabinya sendiri. Dan beliau telah memvonis dirinya sendiri sebagai kafir mutlak dan pasti sebagaimana ucapannya di atas. Perhatikanlah dalam ucapannya : “ Siapa yang membenarkan Rasul-Nya, tapi membenci dan memusuhinya dengan hati, ia telah kafir secara mutlak dan pasti “. Ibnu Taimiyah tidak hanya mebenci dan memusuhi Sayyidina Ali dengan hatinya saja, tetapi dengan dakwahnya pula. Ini adalah buah simalakama, menelan air ludahnya sendiri. Allah telah berfriman :
وَما آتاَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَما نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tingalkanlah “ (QS. 59 / al-Hasyr : 7)
Semua umat muslim bisa menerima Sayyidina Ali k.w sebagai salah satu pemberian Rasulullah Saw, lalu mengapa Ibnu Taimiyah tidak bisa ?
Dalam kesempatan lainnya, Ibnu Taimiyah berkata :
“ Jika hatinya tahu bahwa itu adalah benar, tapi ia membenci dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya yang datang membawa keimanan itu, juga terhadap utusan-Nya yang lain, dan ia tetap bersikap sombong terhadap mereka, menolak tunduk pada kebenaran, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai Mukimin yang berpahala di akhirat. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama Islam “ (At-Tis’iniyah Ibnu Taimiyah, 5 / 165, lihat juga Ash-Sharim al-Maslul 518-519)
Lihatlah “ kenyelenehannya “ lagi, masa iya Ibnu Taimiyah tidak mengetahui ayat di atas, katanya ulama besar masa tidak mengetahui tafsir tentang ayat tersebut. Sangat aneh bila kita masih mau mengikuti akidahnya yang aneh bin nyeleneh ini.
Daftar Hitam Pembunuhan & Pembantaian Yang Dilakukan Kaum Salafi Wahabi Terhadap Kaum Muslimin di Jazirah Arab Mulai Tahun 1802 -1986 (Selama 184 Tahun)
Tidak pernah terjadi pembunuhan dan pembantaian terhadap kaum muslimin seperti yang dilakukan oleh jagal-jagal dari neraka ini. Mereka dengan buasnya menghabisi setiap nyawa yang tidak berdosa. Sudah tidak terhitung jumlah sebenarnya korban pambantaian yang mereka lakukan dengan brutal dan kejamnya. Semua yang mereka lakukan hanya demi kekuasaan dan kemewahan, bukan atas nama agama. Karena tidak ada satu ayat pun, atau satu hadits pun yang membenarkan tindakan anjing-anjing neraka ini.
Sudah 1400 tahun yang lalu Nabi Saw dengan kebenaran mukzijat yang diberikan oleh-Nya mengabarkan akan terjadinya peristiwa yang sangat memilukan ini.
Pertama, hadist yang mengabarkan tentang muncul- nya fitnah besar yang disebut dengan tanduk setan. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَامَ عِنْدَ بَابِ حَفْصَةَ، فَقَالَ: بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «الْفِتْنَةُ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ» قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا،
“ Sesungguhnya Rasulullah Saw berdiri di sisi pintu Hafshah, dan bersabda sambil menunjuk ke arah timur (Madinah) “ fitnah-fitnah itu dari sana di mana munculnya tanduk setan, beliau mengatakannya dua atau tiga kali “ (Shahih Muslim 4/2229, Sunan Turmudzi 4/540 hadits yang men- ceritakan tentang munculnya tanduk setan yang berasal dari sebelah timur kota Madinah yaitu Najd diriwayatkan lebih dari 100 riwayat, derajat hadits mutawatir)
Kedua, hadist yang mengabarkan tentang munculnya puncak kekafiran bagi umatnya. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِ عَائِشَةَ، فَقَالَ: رَأْسُ الْكُفْرِ مِنْ هَاهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ» يَعْنِي الْمَشْرِقَ
“ Rasulullah Saw keluar dari rumahnya ‘Aisyah dan bersabda : “ puncak kekafiran itu dari sana di mana munculnya tanduk setan, yaitu dari arah Timur (maksudnya kota Najd) “ (Shahih Muslim 4/2229, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 6/407, Musnad Ahmad 8/373, derajat hadits masyhur)
Begitu jelas Nabi Saw mengatakan bahwa bagian Timur Madinah yang dikenal dengan Najd adalah tempatnya fitnah besar yang disebut tanduk setan. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu adalah : tanduk pertamanya adalah Musailamah al-Kadzdzab dan tanduk keduanya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab, karena kedua-duanya memang sebagai pencipta fitnah besar dan sama-sama berasal dari Najd.
Ketiga, hadist yang mengabarkan tentang akan keluarnya sebuah kaum yang disebut Dajjal. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ هَا هُنَا، أَوْ هَاهُنَا، أَوْ مِنْ هَاهُنَا بَلْ يَخْرُجُ هَاهُنَا» يَعْنِي الْمَشْرِقَ
“ Akan keluar Dajjal dari sana atau di sana atau dari sana, pasti keluar dari sana yaitu dari Timur (kota Madinah / Najd) “ (Al-Mustadrak 4/573, Fawaid Tamam 2/247, derajat hadits shahih)
Keempat, hadist yang mengabarkan tentang sebuah kaum yang gemar menghina amalan muslim lainnya. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
قَوْمًا يَتَعَبَّدُونَ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصَوْمَهُ مَعَ صَوْمِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“ Sebuah kaum yang beribadah (tetapi) mereka menghina kalian (dengan membandingkan) shalat kalian dengan shalat mereka, puasa kalian dengan puasa mereka, mereka telah meninggalkan agama (murtad) seperti anak panah yang terlepas dari busurnya “ (Ibnu Majah 1/60, Ahadits, Ismail bin Ja’far 1/280, al-Amali fi Atsar ash-Shahabah, Abdurrazzaq ash-Sha’ani 1/85, 10/346, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/557, Musnad Ahmad 17/393, 18/165, as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/450, Musnad al-Bazzar 13/453 dll, derajat hadits masyhur)
Dalam hadits lain dikatakan :
يَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي قَوْمٌ يُسِيئُونَ الْأَعْمَالَ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، قَالَ يَزِيدُ: لَا أَعْلَمُ إِلَّا قَالَ: يَحْقِرُ أَحَدَكُمْ عَمَلَهُ مِنْ عَمَلِهِمْ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، فَإِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، فَطُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ، وَطُوبَى لِمَنْ قَتَلُوهُ، كُلَّمَا طَلَعَ مِنْهُمْ قَرْنٌ قَطَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“ Akan keluar dari umatku suatu kelompok yang biadab perbuatannya, mereka membaca al-Quran akan tetapi tidak sampai melewati batas kerongkongannya. Yazid berkata : “ Aku tidak mendengar ucapan Rasulullah Saw yang lain kecuali beliau bersabda : “ Mereka akan menghina amalan kalian daripada amalan mereka dan mereka (kelak) akan membunuhi orang-orang Islam. Maka jika mereka muncul bunuhlah mereka, kemudian jika mereka muncul lagi bunuhlah mereka, kemudian jika mereka muncul lagi bunuhlah mereka. Berbahagialah bagi orang yang membunuhi mereka. Setiap kali muncul tanduk/ abad (setan) dari mereka, maka Allah Swt akan memotongnya “ (Musnad Ahmad 9/396, as-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/647, derajat hadits shahih)
Memang selain bodoh dan biadab mereka sangat terkenal sering menghina amalan muslim lainnya. Misalnya mereka berkata : “ Buat apa shalat pake ushalli, gak ada dari Nabinya, bid’ah itu ! “, atau mereka akan berkata “ Shalat tarawih 23 raka’at itu bid’ah ! “, atau mereka akan berkata “ Gak ada qunut Subuh itu, bid’ah ! “ atau mereka akan berkata “ Apa itu tahlilan dan mauludan, itu pun bid’ah ! “
Itu adalah ucapan penghinaan mereka yang sering kita terima. Dan masih banyak lagi penghinaan yang mereka lontarkan kepada kita. Jadi yakini saja kebenaran ini bahwa mereka adalah kelompok yang divonis oleh Nabi Saw sebagai : Tanduk Setan, Pusat Fitnah, Puncak Kekafiran, Anjing Neraka, Pembunuh Orang-Orang Islam, Seburuk-buruknya makhluk dan Dajjal. Tidak perlu ragu tentang kebenaran kelompok ini, masa sabda Nabi sendiri diragukan ?
Bahkan, kewajiban kita adalah membunuhi mereka berdasarkan sabda Nabi Saw. Tetapi hukum di negara kita tidak mengizinkannya walaupun secara tegas Nabi Saw telah menghalalkan darah mereka bagi kita. Dengan dihalalkannya darah mereka oleh Nabi Saw bagi kita, artinya mereka bukanlah orang Islam, karena Allah dan Nabi sendiri yang mengharamkan darah dan harta orang-orang Islam untuk dibunuh dan dirampas. Pahamilah hal ini dengan baik dan benar. Tidak sah juga bermakmum kepada orang yang bukan Islam ini, walaupun mereka shalat, puasa, dan membaca al-Quran. Inilah kebenaran yang paling benar, tanpa harus diragukan lagi kebenarannya.
Kelima, tentang Dajjal yang muncul ketika umat Islam sedang lemah. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي خِفَّةٍ مِنَ الزَّمَانِ
“ Keluarnya Dajjal ketika dalam keadaan lemahnya (umat) dari zamanku “ (At-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/102, derajat hadits shahih)
Keenam, hadist yang mengabarkan tentang sebuah kaum yang bagus ucapannya tetapi buruk amal-amalannya, dan mereka divonis sebagai seburuk-buruknya makhluk. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي اخْتِلَافٌ وَفِرْقَةٌ يُحْسِنُونَ الْقَوْلَ وَيُسِيئُونَ الْعَمَلَ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصَوْمَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ، فَطُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ، يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِي شَيْءٍ، مَنْ قَتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ
“ Akan ada di tengah umatku perbedaan dan perpecahan. Ada suatu kaum yang terlihat baik ucapannya namun buruk perilakunya. Mereka membaca al-Quran, tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya. Salah seorang dari kalian akan minder jika membandingkan shalatnya dengan shalat mereka, puasanya dengan puasa mereka, mereka adalah seburuk-buruknya makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka dan terbunuh olehnya, mereka mengajak kepada Kitab Allah tetapi tidak mewakili Allah sedikit pun, barangsiapa yang membunuhi mereka itu lebih utama bagi Allah daripada orang-orang itu. “ (Musnad Abu Ya’la 5/337, dengan lafazh yang berbeda diriwayatkan di dalam : Shahih Bukhari 9/17, Shahih Muslim 2/750, Sunan Abu Daud 4/243, Sunan Nasai 7/119, Musnad Ahmad 21/51, 33/401 dll, derajat hadits masyhur )
Bila kita lihat dalam keseharian, maka cocok sekali hadits di atas bila dinisbatkan kepada sekte Salafi Wahabi ini. Mereka sering mengobral ayat-ayat Allah, membacakan hadits-hadits Nabi, rajin membaca al-Quran, akan tetapi lisan mereka dan akhlak mereka tidak mewakili cahaya al-Quran dan al-Hadits yang sering mereka bacakan. Vonis penghujatan dan caci maki kepada muslim lainnya merupakan jalan hidup bagi mereka. Mereka inilah makhluk-makhluk terburuk versi Nabi Saw, bukan versi kita. Kewajiban kita hanya menyam- paikan kepada sekawanan makhluk terburuk ini, bahwa mereka telah divonis oleh hakim tertinggi di muka bumi sebagai makhluk terburuk.
Adapun botak atau plontos adalah ciri awal mereka ketika mendirikan sekte sesat ini. Sebagaimana yang diwajib- kan oleh MIAW kepada pengikutnya. Karena MIAW mem- fatwakan diwajibkan untuk mencukur habis rambut pengi- kutnya, dengan maksud membersihkan sisia-sisa rambut kekafiran mereka. Walaupun pada saat ini kaum sekte Salafi Wahabi tidak menggunduli rambut mereka, tetap saja mereka sebagai makhluk terburuk, yaitu Dajjal dan Anjing Neraka.
Ketujuh, hadist yang mengabarkan akan lahirnya keturunan dari kaum Khawarij di masa sekarang. Sebagai- mana diriwayatkan berikut ini :
إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ , يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ , يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ لَقِيتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“ Akan lahir keturunan dari kaum ini (Khawarij) para pembaca al-Quran, tetapi (bacaan al-Quran itu) tidak sampai melewati batas tenggorokannya. Mereka telah keluar (murtad) dari agama Islam seperti anak panah yang tembus dari (badan) binatang buruannya. Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir Harbi). Apabila aku menemuinya aku akan penggal batang lehernya sebagaimana kaum ‘Ad “ (As-Sunan al-Kabir 6/552, 8/28, 8/293, al-Mustadrak 3/258, as-Sunan al-Kabir, Nasai 3/70, 3/456, 10/116, as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/440, Tarikh Madinah Ibnu Syubah 2/540, Musnad Ahmad 9/396, 18/191, derajat hadits masyhur)
Dalam bahasa Arab arti dari kata “ضِئْضِئِ / Dhi’dhi “ adalah keturunan yang dilahirkan berdasarkan nasab. Jadi dapat dikatakan bahwa kawanan Salafi Wahabi bernasab kepada kaum pendiri Khawarij di zaman Nabi Saw, yaitu Abdullah ibn Dzul Khuwaishirah. Benar sekali apa yang disabdakan Nabi Saw tentang mereka. Bahkan dengan akurat- nya Nabi Saw pun mengabarkan bahwa mereka adalah pembaca al-Quran, dan itu pun benar adanya. Mereka adalah para pembunuh kaum muslim dan tidak memerangi orang-orang kafir yang merusak kedaulatan negara-negara Islam. Artinya para Dajjal dan Anjing Neraka ini adalah sekutunya kaum kafir yang memerangi agama Islam. Untuk membukti-kan kebenaran sabda Nabi Saw mari kita lihat sejarahnya.
Setelah kekalahan telak yang dialami pasukan Muhammad ibn Sa’ud oleh pasukan Islam dari kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1815. Muhammad ibn Sa’ud beserta beberapa anggota kelurganya di tawan dan di bawa ke kota Kairo dan kemudian dipindahkan ke Konstantinopel ibukota kekhalifahan Turki Utsmani. Muhammad ibn Sa’ud dan anggota keluarganya di arak untuk dipertontonkan kepada kaum muslimin bahwa ia adalah otak dari pemberon- takan sekaligus Dajjal yang telah membunuhi ribuan kaum muslimin yang tidak berdosa di jazirah Arab. Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada kerumunan kaum muslimin yang marah karena ulahnya. Sedangkan sisa-sisa keluarganya di penjara di kota Kairo.
Kurang lebih 87 tahun kemudian, pada tahun 1902 cucunya Muhammad ibn Sa’ud yang bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman ibn Sa’ud yang kabur ke Turki memulai kembali usaha untuk mengembalikan kejayaan Klan Sa’ud yang pernah dirintis oleh kakeknya. Dengan bantuan Klan as-Sabah di Kuwait dan campur tangan Inggris akhirnya mereka mulai melakukan invasi berdarahnya kembali. Pada tahun 1953 Ibnu Sa’ud mati dan digantikan oleh Raja Sa’ud dan kemudian Raja Faisal.
Rajutan cinta yang dahulu terputus dengan kerajaan Inggris akhirnya bersemi kembali. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa perjanjian atau traktat dengan pihak kera- jaan Inggris melalui beberapa surat yang dikirimkan oleh pemimpin Salafi Wahabi pada tanggal 13 Juni 1913 kepada wakil Inggris Percy Cox sebagai berikut :
وبالنظر إلى مشاعرى الودية تجاهكم أودّ أن تكن علاقاتى معكم كالعلاقات الّتى كانت قائمة بينكم وبين اسلافى كما أودّ أن تكون قائمة بينى وبينكم
“ Dan dengan melihat perasaan cintaku kepada kalian, aku sangat berharap hubunganku dengan kalian seperti hubungan-hubungan yang telah lama terjalin antara kalian dengan para leluhurku, sebagaimana aku sangat berharap hubungan itu tetap terjalin (baik) antara aku dengan kalian “(Abu Ali at-Taqwa : Al-Firqah al-Wahabiyah fi Khidmati Man ?, al-Irsyad li ath-Thiba’ah wa an-Basyr, Lebanon Beirut hal. 46, lihat buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 128)
Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1927 M / 1341 H di distrik Ahsaa telah ditanda tangani sebuah perjanjian resmi antara pihak Wahabi dengan pemerintah Inggris. Tertulis dalam kesepakatan itu kalimat-kalimat yang ditorehkan oleh pimpinan Wahabi yang berbunyi : 11
... أقرّ وأعترف ألف مرة للسّير برسى كوسى مندوب بريطانيا العظمى لامانع عندى من إعطاء فلسطين لليهود أو غيرهم كما تراه بريطانيا التى لا أخرج عن رأيها حتى تصيح الساعة
“ Aku berikrar dan mengakui 1000 kali kepada Sir Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai dengan keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keiginan Inggris sampai hari kiamat “ (Ibid, lihat buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 130)
Bahkan ketika pecah perang yang dilancarkan Israel pada bulan Juni 1967 kepada sebagian negara-negara Arab dengan dukungan Amerika dan Eropa barat, pemimpin Wahabi baru datang dari negara-negara Barat itu menyampai- kan pidato pada tanggal 6 Juni sebagai berikut :
ايها الإ خوان لقد جئتكم من عند إخوان لكم فى أمريكا وبريطانيا وأو روبا تحبونهم ويحبوننا
“ Wahai saudara-saudaraku,aku (baru saja) datang dari saudara-saudara kalian di Amerika, Britania, dan Eropa. Kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian “ (Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik hal. 133)
Kemudian pada tahun 1969, saat diwawancarai koran Washington Post, pimpinan Wahabi mengakui adanya kede- katan khusus dengan kaum Zionis Israel, lalu berkata :
إننا واليهود إبناء عم خلص, ولن ترضى بقذفهم فى البحر كما يقول البعض, بل نريد التعايش معهم بسلام
“ Sesungguhnya kami dengan bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tidak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, melainkan kami ingin hidup bersama mereka dengan penuh kedamaian “ (Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik hal. 134)
Pantaslah kalau kerajaan Saudi tidak bergeming dan tidak memberikan bantuan sedikit pun kepada warga muslim di Palestina. Karena mereka “ sepupuan “ dengan kaum Zionis Yahudi, bahkan mereka menutup rapat-rapat telinga dan hatinya terhadap penjajahan Yahudi atas Palestina. Dapat juga dikatakan bahwa Salafi Wahabi ini telah menjajah negeri muslim lainnya dengan tangan Inggris demi kepentingan Yahudi. Ternyata eeh ternyata Klan Sa’ud itu memiliki nasab yang mutawatir sampai kepada kaum Yahudi sebagaimana yang diungkap oleh Syaikh Nashir as-Sa’id dari Lebanon di dalam bukunya “ Tarikh Ali Sa’ud “ (Sejarah Keluarga Sa’ud). Pantaslah kalau begitu, keluarga kerajaaan Saudi yang nota bene pendiri sekte Salafi Wahabi begitu harmonis dengan negara Zionis. Pantas juga kalau para pengikut Salafi Wahabi ini lebih mencintai kaum Zionis Yahudi ketimbang mencintai keturunan Nabi Saw. Karena secara nasab, kejiwaan, dan kultur kesesatan, kaum Yahudi selain sangat membenci Nabi Saw pun sangat membenci keturunan beliau yang mulia.
Sekarang mari kita lihat daftar hitam para Dajjal dan Anjing-Anjing Neraka berdasarkan vonis Nabi ini, dalam membunuhi kaum muslimin selama 184 tahun.
1. Tahun 1802-1814 M / 1216-1228 H dengan mengerahkan 12.000 pasukannya Salafi Wahabi membantai puluhan ribu penduduk muslim di Kazhimiyah, Najaf, Qum dan Karbala (Irak). Pembantaian ini mereka lakukan secara rutin selama kurang lebih 12 tahun.
2. Tahun 1803 pasukan Salafi wahabi membantai dan membunuhi ribuan warga muslim di Thaif. Wanita-wanita hamil, orangtua renta, bahkan mereka menyembelih bayi yang sedang disusui oleh ibunya. Sebagian yang kabur dan berhasil ditangkap mereka dieksekusi dengan ditelanjangi kemudian dipenggal leher mereka satu per satu di lembah Wadi Aluj.
3. Tahun 1803-1804 M (1218-1219 H) setelah mereka membantai kaum muslim di Thaif, hawa nafsu dan kebiada- ban kawanan Salafi Wahabi kembali merangsek ke kota Mekkah dan mereka membunuhi ribuan kaum muslim yang berada di Mekkah.
4. Tahun 1805 M / 1220 H karena dirasa selera membunuh mereka masih kurang, maka akhirnya mereka pun membunuhi ribuan jama’ah haji dan kaum muslim lainnya. Bahkan sebelum dibantai dengan sadis mereka disiksa terlebih dahulu dengan cara tangan dan kaki mereka dipotong-potong. Kota Mekkah mengeluarkan bau busuk dari ribuan bangkai-bangakai kaum muslimin yang masih menge- nakan kain ihram.
5. Tahun 1805 M / 1220 H kawanan Salafi Wahabi menuju kota Medinah tempat kelahiran al-Mushtafa Nabi Muhammad Saw di kebumikan. Mereka menghacurkan kubah-kubah makam leluhur Nabi Saw, istri-istrinya dan anak keturunannya dan para ulama lainnnya. Mereka meng- hancurkan kubah dan meratakannya dengan bulldozer dan dinamit. Tidak lupa mereka pun membantai ribuan kaum muslimin yang berada di Medinah.
6. Tahun 1808 M / 1223 M kawanan Salafi Wahabi menyerang Kuwait untuk yang ketiga kalinya. Sedangkan awal penyerangan mereka yang pertama adalah tahun 1205 H / 1790 H, penyerangan kedua tahun 1213 H / 1789 H.
7. Tahun 1224 H / 1809 menyerang Yaman dan membakar perpustakan terbesar di Hadramaut dengan tidak lupa menghancurkan kotanya serta membunuhi ribuan kaum muslim di sana.
8. Tahun 1225 H / 1810 pasukan Dajjal ini kembali menuju Najaf dan Karbala untuk membunuhi kaum muslim yang sedang beribadah.
9. Tahun 1225 H / 1810 pasukan Salafi Wahabi ini menyerang Samail, Barka, Mutrah, Halab dan Qadisiah.
10. Tahun 1282 H / 1865 H menyerang pantai timur Shuwar di Timur Oman.
11. Tahun 1880 M / 1304 H mereka kembali menyem- belih hidup-hidup bayi yang masih dalam pangkuan ibunya, membantai secara brutal ribuan kaum muslim yang sedang mengadakan pengajian dan shalat di mesjid-mesjid Thaif.
12. Tahun 1338 H / 1920 H menyerang dan mem- bantai warga muslim Kuwait karena mereka tidak mau ber- pindah akidah dari ahlussunnah ke Wahabi yang nota bene lebih parah para daripada akidah Khawarij.
13. Tahun 1337 H / 1919 pasukan Salafi Wahabi menyerang daerah Turbah dan Hizbah, di mana sedikitnya 3000 penduduk sipil tak berdosa dibantai dengan sadisnya.
14. Tahun 1341 H / 1921 M pasukan Wahabi kembali membantai rombongan jama’ah haji asal Yaman yang sedang menuju Makkah. Sekitar 1000 orang jema’ah haji dibantai dengan brutal karena mereka disangka sebagai pemberontak.
15. Tahun 1408 H / 1986 M pasukan Salafi Wahabi kembali membunuhi jema’ah haji dari Iran karena mereka meneriakan yel-yel anti Amerika dan Rusia. Jema’ah haji ini pun dibantai dengan brondongan peluru dari kepolisian Saudi Arabia. Sekitar 300 jama’ah haji mati syahid sedangankan ribuan lainnya terluka.
Inilah daftar hitam dari puluhan pembantaian Kawa- nan Salafi Wahabi yang disajikan secara ringkas. Sangat pantas apa yang Nabi Saw sematkan kepada mereka seperti : Tanduk Setan, Pusat Fitnah, Puncak Kekafiran, Dajjal, Anjing Neraka, Makhluk Terburuk dan gelar-gelar lainnya yang memang sangat pantas mereka terima. Nabi Saw dan para sahabatnya saja tidak pernah memberikan rasa hormat kepada mereka, jadi mengapa juga kita harus menghormati mereka ?
Kalaulah karena mereka penghafal al-Quran, hafal ribuan hadits, ahli ibadah, lalu mengapa Nabi Saw tidak memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menikahkan putra-putri mereka dengan kaum Khawarij ini ?
Nabi Saw dengan kejeliannya tidak pernah merestui bila putra-putri sahabatnya menikah dengan kaum Khawarij yang nota bene ahli dalam merusak tatanan akidah dan per- adaban Islam. Karena Hal ini akan merusak nasab dan meng- hancurkan sejarah Islam di masa yang akan datang. Untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan di muka bumi tidak
bisa tidak, generasi kita harus menjawab tantangan zaman ini. Kita perlihatkan kepada Nabi Saw bahwa kita bukan generasi penakut. Kita adalah generasi Islam sejati yang siap mem- bantu dan menolong Islam kembali bersinar dan berjaya.
Batu tidak dapat dihancurkan dengan nasihat, tetapi harus dengan palu dan besi. Para sahabat begitu mengimani ketidakwarasan dan ke-edanan kaum Khawarij yang di zaman sekarang berganti nama menjadi Salafi Wahabi. Tujuan mereka bukan untuk memurnikan ajaran agama Islam, karena ajaran agama Islam sudah murni dari sananya. Hanya otak-otak kawanan Wahabi-lah yang kotor dan dipenuhi oleh sampah-sampah neraka.
Tujuan mereka adalah untuk menjajah bangsa Arab, menjajah kaum muslim di setiap negara, mengambil alih seluruh sumber daya alam yang mereka miliki, menginjak-injak ilmu pengetahuan, memutarbalikkan kebenaran sejarah, menghalalkan yang haram serta mengharamkan yang halal. Inilah tujuan mereka sebenarnya. Dan ketika partai mereka berhasil menempatkan wakilnya menjadi RI satu atau RI dua, lihatlah negara kita, sedikit demi sedikit akan seperti kerajaan Saudi Arabia. Setiap provinsi akan di Wahabikan dan barang- siapa yang tidak patuh dan taat dengan kehendak mereka, maka mungkin saja hukuman mati sangsinya.
Padahal secara tegas, Nabi Saw sangat melarang kaum muslimin untuk membunuh muslim lainnya, kecuali atas dasar perintahnya langsung. Bahkan, membunuh kaum -- muslim dengan persangkaan tidak dibenarkan secara qahth’i.
Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits berikut ini :
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ، فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ، فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟» قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ، قَالَ: «أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ
“ Usamah bin Zaid r.a berkata : “ Rasulullah Saw mengutus kami ke Huraqah pada suku Juhainah. Ketika kami sampai di sana, pagi-pagi sekali kami menyerbu. Pada saat itu aku dapati seorang dari mereka berkata laa ilaaha Illallah, tetapi aku tetap saja menikamnya, sehingga ia mati olehku. Lalu aku sampaikan hal itu kepada Nabi Saw. Lalu beliau bertanya : “ Apakah sesudah ia mengucapkan laa ilaaha illallah masih juga engkau bunuh ? “ Aku menjawab : “ Ya Rasulullah, ia berkata begitu mungkin karena takut kepada senjata ku “. Nabi bersabda : “ Apakah sudah engkau belah dadanya sehingga engkau ketahui dengan jelas, apakah ia berkata (karena) takut atau tidak ? Nabi Saw masih saja mengulang-mengulang kalimat itu padaku (sambil kesal/marah), sampai-sampai aku merasa alangkah baiknya jika aku baru masuk Islam pada saat itu (maksudnya adalah takut dari dosa akibat membunuh muslim tadi) “ (Shahih Muslim 1/96, Sunan Abu Dawud 3/44, Sunan Ibnu Majah , 2/1296, Musnad Ibnu Abi Syaibah 1/116, Musnad Ahmad 33/162)
Kelompok mana pun yang berkarakter biadab, gampang menuduh kafir, musyrik, ahli neraka, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam buku ini, mereka adalah kaum Khawarij di zaman sekarang ini. Mereka adalah musuh yang sangat berbahaya bagi mazhab ahlussunnah dan ahlul bait.
Masyarakat muslim di Indonesia sangat paham mereka ini berada di mana saja. Oleh karena itu ada beberapa pesan yang harus dijalankan oleh para pembaca, antara lain :
Jauhi orang-orang yang anti qunut, anti tahlilan, anti shalawatan, anti istighatsah, anti mauludan, dan anti ziarah kubur.
Jangan mengambil resiko dengan menikahkan putra-putri kita dengan orang-orang seperti di atas tadi.
Jangan mencari guru agama, dan pengurus mesjid dari orang-orang seperti dalam point pertama.
Laporkan segera kepada ranting-ranting NU, atau pengurus NU, atau kepada kami apabila ada mesjid di daerah anda yang tidak bisa dipakai dalam point pertama. Insya Allah kami yang akan mendatangi dan menyelesaikannya.
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kita untuk memerangi mereka, melindungi wilayah kita, dan semoga Allah Swt memberikan cahaya hidayah-Nya kepada mazhab yang haq. Aamiin
Sudah 1400 tahun yang lalu Nabi Saw dengan kebenaran mukzijat yang diberikan oleh-Nya mengabarkan akan terjadinya peristiwa yang sangat memilukan ini.
Pertama, hadist yang mengabarkan tentang muncul- nya fitnah besar yang disebut dengan tanduk setan. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَامَ عِنْدَ بَابِ حَفْصَةَ، فَقَالَ: بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «الْفِتْنَةُ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ» قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا،
“ Sesungguhnya Rasulullah Saw berdiri di sisi pintu Hafshah, dan bersabda sambil menunjuk ke arah timur (Madinah) “ fitnah-fitnah itu dari sana di mana munculnya tanduk setan, beliau mengatakannya dua atau tiga kali “ (Shahih Muslim 4/2229, Sunan Turmudzi 4/540 hadits yang men- ceritakan tentang munculnya tanduk setan yang berasal dari sebelah timur kota Madinah yaitu Najd diriwayatkan lebih dari 100 riwayat, derajat hadits mutawatir)
Kedua, hadist yang mengabarkan tentang munculnya puncak kekafiran bagi umatnya. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِ عَائِشَةَ، فَقَالَ: رَأْسُ الْكُفْرِ مِنْ هَاهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ» يَعْنِي الْمَشْرِقَ
“ Rasulullah Saw keluar dari rumahnya ‘Aisyah dan bersabda : “ puncak kekafiran itu dari sana di mana munculnya tanduk setan, yaitu dari arah Timur (maksudnya kota Najd) “ (Shahih Muslim 4/2229, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 6/407, Musnad Ahmad 8/373, derajat hadits masyhur)
Begitu jelas Nabi Saw mengatakan bahwa bagian Timur Madinah yang dikenal dengan Najd adalah tempatnya fitnah besar yang disebut tanduk setan. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu adalah : tanduk pertamanya adalah Musailamah al-Kadzdzab dan tanduk keduanya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab, karena kedua-duanya memang sebagai pencipta fitnah besar dan sama-sama berasal dari Najd.
Ketiga, hadist yang mengabarkan tentang akan keluarnya sebuah kaum yang disebut Dajjal. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ هَا هُنَا، أَوْ هَاهُنَا، أَوْ مِنْ هَاهُنَا بَلْ يَخْرُجُ هَاهُنَا» يَعْنِي الْمَشْرِقَ
“ Akan keluar Dajjal dari sana atau di sana atau dari sana, pasti keluar dari sana yaitu dari Timur (kota Madinah / Najd) “ (Al-Mustadrak 4/573, Fawaid Tamam 2/247, derajat hadits shahih)
Keempat, hadist yang mengabarkan tentang sebuah kaum yang gemar menghina amalan muslim lainnya. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
قَوْمًا يَتَعَبَّدُونَ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصَوْمَهُ مَعَ صَوْمِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“ Sebuah kaum yang beribadah (tetapi) mereka menghina kalian (dengan membandingkan) shalat kalian dengan shalat mereka, puasa kalian dengan puasa mereka, mereka telah meninggalkan agama (murtad) seperti anak panah yang terlepas dari busurnya “ (Ibnu Majah 1/60, Ahadits, Ismail bin Ja’far 1/280, al-Amali fi Atsar ash-Shahabah, Abdurrazzaq ash-Sha’ani 1/85, 10/346, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/557, Musnad Ahmad 17/393, 18/165, as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/450, Musnad al-Bazzar 13/453 dll, derajat hadits masyhur)
Dalam hadits lain dikatakan :
يَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي قَوْمٌ يُسِيئُونَ الْأَعْمَالَ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، قَالَ يَزِيدُ: لَا أَعْلَمُ إِلَّا قَالَ: يَحْقِرُ أَحَدَكُمْ عَمَلَهُ مِنْ عَمَلِهِمْ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، فَإِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، فَطُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ، وَطُوبَى لِمَنْ قَتَلُوهُ، كُلَّمَا طَلَعَ مِنْهُمْ قَرْنٌ قَطَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“ Akan keluar dari umatku suatu kelompok yang biadab perbuatannya, mereka membaca al-Quran akan tetapi tidak sampai melewati batas kerongkongannya. Yazid berkata : “ Aku tidak mendengar ucapan Rasulullah Saw yang lain kecuali beliau bersabda : “ Mereka akan menghina amalan kalian daripada amalan mereka dan mereka (kelak) akan membunuhi orang-orang Islam. Maka jika mereka muncul bunuhlah mereka, kemudian jika mereka muncul lagi bunuhlah mereka, kemudian jika mereka muncul lagi bunuhlah mereka. Berbahagialah bagi orang yang membunuhi mereka. Setiap kali muncul tanduk/ abad (setan) dari mereka, maka Allah Swt akan memotongnya “ (Musnad Ahmad 9/396, as-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/647, derajat hadits shahih)
Memang selain bodoh dan biadab mereka sangat terkenal sering menghina amalan muslim lainnya. Misalnya mereka berkata : “ Buat apa shalat pake ushalli, gak ada dari Nabinya, bid’ah itu ! “, atau mereka akan berkata “ Shalat tarawih 23 raka’at itu bid’ah ! “, atau mereka akan berkata “ Gak ada qunut Subuh itu, bid’ah ! “ atau mereka akan berkata “ Apa itu tahlilan dan mauludan, itu pun bid’ah ! “
Itu adalah ucapan penghinaan mereka yang sering kita terima. Dan masih banyak lagi penghinaan yang mereka lontarkan kepada kita. Jadi yakini saja kebenaran ini bahwa mereka adalah kelompok yang divonis oleh Nabi Saw sebagai : Tanduk Setan, Pusat Fitnah, Puncak Kekafiran, Anjing Neraka, Pembunuh Orang-Orang Islam, Seburuk-buruknya makhluk dan Dajjal. Tidak perlu ragu tentang kebenaran kelompok ini, masa sabda Nabi sendiri diragukan ?
Bahkan, kewajiban kita adalah membunuhi mereka berdasarkan sabda Nabi Saw. Tetapi hukum di negara kita tidak mengizinkannya walaupun secara tegas Nabi Saw telah menghalalkan darah mereka bagi kita. Dengan dihalalkannya darah mereka oleh Nabi Saw bagi kita, artinya mereka bukanlah orang Islam, karena Allah dan Nabi sendiri yang mengharamkan darah dan harta orang-orang Islam untuk dibunuh dan dirampas. Pahamilah hal ini dengan baik dan benar. Tidak sah juga bermakmum kepada orang yang bukan Islam ini, walaupun mereka shalat, puasa, dan membaca al-Quran. Inilah kebenaran yang paling benar, tanpa harus diragukan lagi kebenarannya.
Kelima, tentang Dajjal yang muncul ketika umat Islam sedang lemah. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي خِفَّةٍ مِنَ الزَّمَانِ
“ Keluarnya Dajjal ketika dalam keadaan lemahnya (umat) dari zamanku “ (At-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/102, derajat hadits shahih)
Keenam, hadist yang mengabarkan tentang sebuah kaum yang bagus ucapannya tetapi buruk amal-amalannya, dan mereka divonis sebagai seburuk-buruknya makhluk. Sebagaimana diriwayatkan berikut ini :
سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي اخْتِلَافٌ وَفِرْقَةٌ يُحْسِنُونَ الْقَوْلَ وَيُسِيئُونَ الْعَمَلَ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصَوْمَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ، فَطُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ، يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِي شَيْءٍ، مَنْ قَتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ
“ Akan ada di tengah umatku perbedaan dan perpecahan. Ada suatu kaum yang terlihat baik ucapannya namun buruk perilakunya. Mereka membaca al-Quran, tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya. Salah seorang dari kalian akan minder jika membandingkan shalatnya dengan shalat mereka, puasanya dengan puasa mereka, mereka adalah seburuk-buruknya makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka dan terbunuh olehnya, mereka mengajak kepada Kitab Allah tetapi tidak mewakili Allah sedikit pun, barangsiapa yang membunuhi mereka itu lebih utama bagi Allah daripada orang-orang itu. “ (Musnad Abu Ya’la 5/337, dengan lafazh yang berbeda diriwayatkan di dalam : Shahih Bukhari 9/17, Shahih Muslim 2/750, Sunan Abu Daud 4/243, Sunan Nasai 7/119, Musnad Ahmad 21/51, 33/401 dll, derajat hadits masyhur )
Bila kita lihat dalam keseharian, maka cocok sekali hadits di atas bila dinisbatkan kepada sekte Salafi Wahabi ini. Mereka sering mengobral ayat-ayat Allah, membacakan hadits-hadits Nabi, rajin membaca al-Quran, akan tetapi lisan mereka dan akhlak mereka tidak mewakili cahaya al-Quran dan al-Hadits yang sering mereka bacakan. Vonis penghujatan dan caci maki kepada muslim lainnya merupakan jalan hidup bagi mereka. Mereka inilah makhluk-makhluk terburuk versi Nabi Saw, bukan versi kita. Kewajiban kita hanya menyam- paikan kepada sekawanan makhluk terburuk ini, bahwa mereka telah divonis oleh hakim tertinggi di muka bumi sebagai makhluk terburuk.
Adapun botak atau plontos adalah ciri awal mereka ketika mendirikan sekte sesat ini. Sebagaimana yang diwajib- kan oleh MIAW kepada pengikutnya. Karena MIAW mem- fatwakan diwajibkan untuk mencukur habis rambut pengi- kutnya, dengan maksud membersihkan sisia-sisa rambut kekafiran mereka. Walaupun pada saat ini kaum sekte Salafi Wahabi tidak menggunduli rambut mereka, tetap saja mereka sebagai makhluk terburuk, yaitu Dajjal dan Anjing Neraka.
Ketujuh, hadist yang mengabarkan akan lahirnya keturunan dari kaum Khawarij di masa sekarang. Sebagai- mana diriwayatkan berikut ini :
إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ , يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ , يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ لَقِيتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“ Akan lahir keturunan dari kaum ini (Khawarij) para pembaca al-Quran, tetapi (bacaan al-Quran itu) tidak sampai melewati batas tenggorokannya. Mereka telah keluar (murtad) dari agama Islam seperti anak panah yang tembus dari (badan) binatang buruannya. Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir Harbi). Apabila aku menemuinya aku akan penggal batang lehernya sebagaimana kaum ‘Ad “ (As-Sunan al-Kabir 6/552, 8/28, 8/293, al-Mustadrak 3/258, as-Sunan al-Kabir, Nasai 3/70, 3/456, 10/116, as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/440, Tarikh Madinah Ibnu Syubah 2/540, Musnad Ahmad 9/396, 18/191, derajat hadits masyhur)
Dalam bahasa Arab arti dari kata “ضِئْضِئِ / Dhi’dhi “ adalah keturunan yang dilahirkan berdasarkan nasab. Jadi dapat dikatakan bahwa kawanan Salafi Wahabi bernasab kepada kaum pendiri Khawarij di zaman Nabi Saw, yaitu Abdullah ibn Dzul Khuwaishirah. Benar sekali apa yang disabdakan Nabi Saw tentang mereka. Bahkan dengan akurat- nya Nabi Saw pun mengabarkan bahwa mereka adalah pembaca al-Quran, dan itu pun benar adanya. Mereka adalah para pembunuh kaum muslim dan tidak memerangi orang-orang kafir yang merusak kedaulatan negara-negara Islam. Artinya para Dajjal dan Anjing Neraka ini adalah sekutunya kaum kafir yang memerangi agama Islam. Untuk membukti-kan kebenaran sabda Nabi Saw mari kita lihat sejarahnya.
Setelah kekalahan telak yang dialami pasukan Muhammad ibn Sa’ud oleh pasukan Islam dari kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1815. Muhammad ibn Sa’ud beserta beberapa anggota kelurganya di tawan dan di bawa ke kota Kairo dan kemudian dipindahkan ke Konstantinopel ibukota kekhalifahan Turki Utsmani. Muhammad ibn Sa’ud dan anggota keluarganya di arak untuk dipertontonkan kepada kaum muslimin bahwa ia adalah otak dari pemberon- takan sekaligus Dajjal yang telah membunuhi ribuan kaum muslimin yang tidak berdosa di jazirah Arab. Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada kerumunan kaum muslimin yang marah karena ulahnya. Sedangkan sisa-sisa keluarganya di penjara di kota Kairo.
Kurang lebih 87 tahun kemudian, pada tahun 1902 cucunya Muhammad ibn Sa’ud yang bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman ibn Sa’ud yang kabur ke Turki memulai kembali usaha untuk mengembalikan kejayaan Klan Sa’ud yang pernah dirintis oleh kakeknya. Dengan bantuan Klan as-Sabah di Kuwait dan campur tangan Inggris akhirnya mereka mulai melakukan invasi berdarahnya kembali. Pada tahun 1953 Ibnu Sa’ud mati dan digantikan oleh Raja Sa’ud dan kemudian Raja Faisal.
Rajutan cinta yang dahulu terputus dengan kerajaan Inggris akhirnya bersemi kembali. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa perjanjian atau traktat dengan pihak kera- jaan Inggris melalui beberapa surat yang dikirimkan oleh pemimpin Salafi Wahabi pada tanggal 13 Juni 1913 kepada wakil Inggris Percy Cox sebagai berikut :
وبالنظر إلى مشاعرى الودية تجاهكم أودّ أن تكن علاقاتى معكم كالعلاقات الّتى كانت قائمة بينكم وبين اسلافى كما أودّ أن تكون قائمة بينى وبينكم
“ Dan dengan melihat perasaan cintaku kepada kalian, aku sangat berharap hubunganku dengan kalian seperti hubungan-hubungan yang telah lama terjalin antara kalian dengan para leluhurku, sebagaimana aku sangat berharap hubungan itu tetap terjalin (baik) antara aku dengan kalian “(Abu Ali at-Taqwa : Al-Firqah al-Wahabiyah fi Khidmati Man ?, al-Irsyad li ath-Thiba’ah wa an-Basyr, Lebanon Beirut hal. 46, lihat buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 128)
Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1927 M / 1341 H di distrik Ahsaa telah ditanda tangani sebuah perjanjian resmi antara pihak Wahabi dengan pemerintah Inggris. Tertulis dalam kesepakatan itu kalimat-kalimat yang ditorehkan oleh pimpinan Wahabi yang berbunyi : 11
... أقرّ وأعترف ألف مرة للسّير برسى كوسى مندوب بريطانيا العظمى لامانع عندى من إعطاء فلسطين لليهود أو غيرهم كما تراه بريطانيا التى لا أخرج عن رأيها حتى تصيح الساعة
“ Aku berikrar dan mengakui 1000 kali kepada Sir Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai dengan keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keiginan Inggris sampai hari kiamat “ (Ibid, lihat buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 130)
Bahkan ketika pecah perang yang dilancarkan Israel pada bulan Juni 1967 kepada sebagian negara-negara Arab dengan dukungan Amerika dan Eropa barat, pemimpin Wahabi baru datang dari negara-negara Barat itu menyampai- kan pidato pada tanggal 6 Juni sebagai berikut :
ايها الإ خوان لقد جئتكم من عند إخوان لكم فى أمريكا وبريطانيا وأو روبا تحبونهم ويحبوننا
“ Wahai saudara-saudaraku,aku (baru saja) datang dari saudara-saudara kalian di Amerika, Britania, dan Eropa. Kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian “ (Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik hal. 133)
Kemudian pada tahun 1969, saat diwawancarai koran Washington Post, pimpinan Wahabi mengakui adanya kede- katan khusus dengan kaum Zionis Israel, lalu berkata :
إننا واليهود إبناء عم خلص, ولن ترضى بقذفهم فى البحر كما يقول البعض, بل نريد التعايش معهم بسلام
“ Sesungguhnya kami dengan bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tidak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, melainkan kami ingin hidup bersama mereka dengan penuh kedamaian “ (Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik hal. 134)
Pantaslah kalau kerajaan Saudi tidak bergeming dan tidak memberikan bantuan sedikit pun kepada warga muslim di Palestina. Karena mereka “ sepupuan “ dengan kaum Zionis Yahudi, bahkan mereka menutup rapat-rapat telinga dan hatinya terhadap penjajahan Yahudi atas Palestina. Dapat juga dikatakan bahwa Salafi Wahabi ini telah menjajah negeri muslim lainnya dengan tangan Inggris demi kepentingan Yahudi. Ternyata eeh ternyata Klan Sa’ud itu memiliki nasab yang mutawatir sampai kepada kaum Yahudi sebagaimana yang diungkap oleh Syaikh Nashir as-Sa’id dari Lebanon di dalam bukunya “ Tarikh Ali Sa’ud “ (Sejarah Keluarga Sa’ud). Pantaslah kalau begitu, keluarga kerajaaan Saudi yang nota bene pendiri sekte Salafi Wahabi begitu harmonis dengan negara Zionis. Pantas juga kalau para pengikut Salafi Wahabi ini lebih mencintai kaum Zionis Yahudi ketimbang mencintai keturunan Nabi Saw. Karena secara nasab, kejiwaan, dan kultur kesesatan, kaum Yahudi selain sangat membenci Nabi Saw pun sangat membenci keturunan beliau yang mulia.
Sekarang mari kita lihat daftar hitam para Dajjal dan Anjing-Anjing Neraka berdasarkan vonis Nabi ini, dalam membunuhi kaum muslimin selama 184 tahun.
1. Tahun 1802-1814 M / 1216-1228 H dengan mengerahkan 12.000 pasukannya Salafi Wahabi membantai puluhan ribu penduduk muslim di Kazhimiyah, Najaf, Qum dan Karbala (Irak). Pembantaian ini mereka lakukan secara rutin selama kurang lebih 12 tahun.
2. Tahun 1803 pasukan Salafi wahabi membantai dan membunuhi ribuan warga muslim di Thaif. Wanita-wanita hamil, orangtua renta, bahkan mereka menyembelih bayi yang sedang disusui oleh ibunya. Sebagian yang kabur dan berhasil ditangkap mereka dieksekusi dengan ditelanjangi kemudian dipenggal leher mereka satu per satu di lembah Wadi Aluj.
3. Tahun 1803-1804 M (1218-1219 H) setelah mereka membantai kaum muslim di Thaif, hawa nafsu dan kebiada- ban kawanan Salafi Wahabi kembali merangsek ke kota Mekkah dan mereka membunuhi ribuan kaum muslim yang berada di Mekkah.
4. Tahun 1805 M / 1220 H karena dirasa selera membunuh mereka masih kurang, maka akhirnya mereka pun membunuhi ribuan jama’ah haji dan kaum muslim lainnya. Bahkan sebelum dibantai dengan sadis mereka disiksa terlebih dahulu dengan cara tangan dan kaki mereka dipotong-potong. Kota Mekkah mengeluarkan bau busuk dari ribuan bangkai-bangakai kaum muslimin yang masih menge- nakan kain ihram.
5. Tahun 1805 M / 1220 H kawanan Salafi Wahabi menuju kota Medinah tempat kelahiran al-Mushtafa Nabi Muhammad Saw di kebumikan. Mereka menghacurkan kubah-kubah makam leluhur Nabi Saw, istri-istrinya dan anak keturunannya dan para ulama lainnnya. Mereka meng- hancurkan kubah dan meratakannya dengan bulldozer dan dinamit. Tidak lupa mereka pun membantai ribuan kaum muslimin yang berada di Medinah.
6. Tahun 1808 M / 1223 M kawanan Salafi Wahabi menyerang Kuwait untuk yang ketiga kalinya. Sedangkan awal penyerangan mereka yang pertama adalah tahun 1205 H / 1790 H, penyerangan kedua tahun 1213 H / 1789 H.
7. Tahun 1224 H / 1809 menyerang Yaman dan membakar perpustakan terbesar di Hadramaut dengan tidak lupa menghancurkan kotanya serta membunuhi ribuan kaum muslim di sana.
8. Tahun 1225 H / 1810 pasukan Dajjal ini kembali menuju Najaf dan Karbala untuk membunuhi kaum muslim yang sedang beribadah.
9. Tahun 1225 H / 1810 pasukan Salafi Wahabi ini menyerang Samail, Barka, Mutrah, Halab dan Qadisiah.
10. Tahun 1282 H / 1865 H menyerang pantai timur Shuwar di Timur Oman.
11. Tahun 1880 M / 1304 H mereka kembali menyem- belih hidup-hidup bayi yang masih dalam pangkuan ibunya, membantai secara brutal ribuan kaum muslim yang sedang mengadakan pengajian dan shalat di mesjid-mesjid Thaif.
12. Tahun 1338 H / 1920 H menyerang dan mem- bantai warga muslim Kuwait karena mereka tidak mau ber- pindah akidah dari ahlussunnah ke Wahabi yang nota bene lebih parah para daripada akidah Khawarij.
13. Tahun 1337 H / 1919 pasukan Salafi Wahabi menyerang daerah Turbah dan Hizbah, di mana sedikitnya 3000 penduduk sipil tak berdosa dibantai dengan sadisnya.
14. Tahun 1341 H / 1921 M pasukan Wahabi kembali membantai rombongan jama’ah haji asal Yaman yang sedang menuju Makkah. Sekitar 1000 orang jema’ah haji dibantai dengan brutal karena mereka disangka sebagai pemberontak.
15. Tahun 1408 H / 1986 M pasukan Salafi Wahabi kembali membunuhi jema’ah haji dari Iran karena mereka meneriakan yel-yel anti Amerika dan Rusia. Jema’ah haji ini pun dibantai dengan brondongan peluru dari kepolisian Saudi Arabia. Sekitar 300 jama’ah haji mati syahid sedangankan ribuan lainnya terluka.
Inilah daftar hitam dari puluhan pembantaian Kawa- nan Salafi Wahabi yang disajikan secara ringkas. Sangat pantas apa yang Nabi Saw sematkan kepada mereka seperti : Tanduk Setan, Pusat Fitnah, Puncak Kekafiran, Dajjal, Anjing Neraka, Makhluk Terburuk dan gelar-gelar lainnya yang memang sangat pantas mereka terima. Nabi Saw dan para sahabatnya saja tidak pernah memberikan rasa hormat kepada mereka, jadi mengapa juga kita harus menghormati mereka ?
Kalaulah karena mereka penghafal al-Quran, hafal ribuan hadits, ahli ibadah, lalu mengapa Nabi Saw tidak memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menikahkan putra-putri mereka dengan kaum Khawarij ini ?
Nabi Saw dengan kejeliannya tidak pernah merestui bila putra-putri sahabatnya menikah dengan kaum Khawarij yang nota bene ahli dalam merusak tatanan akidah dan per- adaban Islam. Karena Hal ini akan merusak nasab dan meng- hancurkan sejarah Islam di masa yang akan datang. Untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan di muka bumi tidak
bisa tidak, generasi kita harus menjawab tantangan zaman ini. Kita perlihatkan kepada Nabi Saw bahwa kita bukan generasi penakut. Kita adalah generasi Islam sejati yang siap mem- bantu dan menolong Islam kembali bersinar dan berjaya.
Batu tidak dapat dihancurkan dengan nasihat, tetapi harus dengan palu dan besi. Para sahabat begitu mengimani ketidakwarasan dan ke-edanan kaum Khawarij yang di zaman sekarang berganti nama menjadi Salafi Wahabi. Tujuan mereka bukan untuk memurnikan ajaran agama Islam, karena ajaran agama Islam sudah murni dari sananya. Hanya otak-otak kawanan Wahabi-lah yang kotor dan dipenuhi oleh sampah-sampah neraka.
Tujuan mereka adalah untuk menjajah bangsa Arab, menjajah kaum muslim di setiap negara, mengambil alih seluruh sumber daya alam yang mereka miliki, menginjak-injak ilmu pengetahuan, memutarbalikkan kebenaran sejarah, menghalalkan yang haram serta mengharamkan yang halal. Inilah tujuan mereka sebenarnya. Dan ketika partai mereka berhasil menempatkan wakilnya menjadi RI satu atau RI dua, lihatlah negara kita, sedikit demi sedikit akan seperti kerajaan Saudi Arabia. Setiap provinsi akan di Wahabikan dan barang- siapa yang tidak patuh dan taat dengan kehendak mereka, maka mungkin saja hukuman mati sangsinya.
Padahal secara tegas, Nabi Saw sangat melarang kaum muslimin untuk membunuh muslim lainnya, kecuali atas dasar perintahnya langsung. Bahkan, membunuh kaum -- muslim dengan persangkaan tidak dibenarkan secara qahth’i.
Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits berikut ini :
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ، فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ، فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟» قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ، قَالَ: «أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ
“ Usamah bin Zaid r.a berkata : “ Rasulullah Saw mengutus kami ke Huraqah pada suku Juhainah. Ketika kami sampai di sana, pagi-pagi sekali kami menyerbu. Pada saat itu aku dapati seorang dari mereka berkata laa ilaaha Illallah, tetapi aku tetap saja menikamnya, sehingga ia mati olehku. Lalu aku sampaikan hal itu kepada Nabi Saw. Lalu beliau bertanya : “ Apakah sesudah ia mengucapkan laa ilaaha illallah masih juga engkau bunuh ? “ Aku menjawab : “ Ya Rasulullah, ia berkata begitu mungkin karena takut kepada senjata ku “. Nabi bersabda : “ Apakah sudah engkau belah dadanya sehingga engkau ketahui dengan jelas, apakah ia berkata (karena) takut atau tidak ? Nabi Saw masih saja mengulang-mengulang kalimat itu padaku (sambil kesal/marah), sampai-sampai aku merasa alangkah baiknya jika aku baru masuk Islam pada saat itu (maksudnya adalah takut dari dosa akibat membunuh muslim tadi) “ (Shahih Muslim 1/96, Sunan Abu Dawud 3/44, Sunan Ibnu Majah , 2/1296, Musnad Ibnu Abi Syaibah 1/116, Musnad Ahmad 33/162)
Kelompok mana pun yang berkarakter biadab, gampang menuduh kafir, musyrik, ahli neraka, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam buku ini, mereka adalah kaum Khawarij di zaman sekarang ini. Mereka adalah musuh yang sangat berbahaya bagi mazhab ahlussunnah dan ahlul bait.
Masyarakat muslim di Indonesia sangat paham mereka ini berada di mana saja. Oleh karena itu ada beberapa pesan yang harus dijalankan oleh para pembaca, antara lain :
Jauhi orang-orang yang anti qunut, anti tahlilan, anti shalawatan, anti istighatsah, anti mauludan, dan anti ziarah kubur.
Jangan mengambil resiko dengan menikahkan putra-putri kita dengan orang-orang seperti di atas tadi.
Jangan mencari guru agama, dan pengurus mesjid dari orang-orang seperti dalam point pertama.
Laporkan segera kepada ranting-ranting NU, atau pengurus NU, atau kepada kami apabila ada mesjid di daerah anda yang tidak bisa dipakai dalam point pertama. Insya Allah kami yang akan mendatangi dan menyelesaikannya.
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kita untuk memerangi mereka, melindungi wilayah kita, dan semoga Allah Swt memberikan cahaya hidayah-Nya kepada mazhab yang haq. Aamiin
Mengapa Nabi Saw memvonis kaum Khawarij Sebagai : Anjing Neraka, Kaum Yang Dangkal Pemahamannya, Pembunuh Kaum Muslim , Pencaci Maki Terhebat, Dajjal & Sahabat Musuh-Musuh Islam ?
Sesungguhnya umat Islam dalam dasa warsa 200 tahun ini sedang mengalami masa yang paling buruk dalam per- adaban, toleransi beragama dan perkembangan akidah. Umat Islam di zaman ini lemah tak berdaya, karena dikuasai oleh kekuatan materi dan kekosongan kepemimpinan yang ber- kualitas, berjiwa besar dan bernyali.
Tiada lain salah satu penyebabnya adalah jauhnya kaum muslimin dari memahami sejarahnya sendiri. Mereka terlalu sibuk dengan memperjuangkan pangkat, jabatan dan kekayaannya masing-masing, dan enggan untuk memikirkan serta memajukan peradaban agamanya.
Di saat seperti ini, dengan kejeliannya para pemikir licik dari kaum penjajah mulai mencari dan melirik beberapa orang-orang aneh yang tidak memiliki kestabilan jiwa dan minimnya imu pengetahuan tentang Islam. Akhirnya mereka mendapatkan boneka-boneka bodohnya, yaitu MIAW dan para pengikutnya yang mendirikan sekte SALAFI WAHABI yang merupakan reinkarnasi dari kebusukan dan kebobrokan Dinasti Bani Umayah pada awal berdirinya, dan sekte sesat Khawarij yang menjadi musuh abadi dalam selimut bagi kerukunan dan persatuan umat Islam.
Hakikat dari sekte Wahabiyah ini sebenarnya mereka berorientasi kepada pencemaran dan penistaan agama, bukan kepada pemurnian tauhid. Tidak pula untuk mempersatukan umat, tetapi untuk menumpuk kekayaan dan bersekutu dengan musuh-musuh Islam dari kaum Yahudi dan Nashrani. Para ulama mereka bukanlah orang-orang yang berjiwa agamis dan memiliki tingkatan spiritual yang mumpuni. Mereka menutupi kebejatan moralnya dengan berlindung kepada dua kota suci, yaitu Makkah dan Madinah.
Wahabisme adalah paham yang kental dengan doktrinisasi satu arah tentang pengkafiran. Mereka meyakini bahwa pengkafiran kaum muslim yang berbeda dengan mereka adalah menu utama dalam syariat yang dibentuk oleh MIAW, bukan oleh baginda Nabi Saw.
Wahabisme adalah sebuah gerakan yang bertujuan mengelabui umat Islam dari kebenaran sejarah yang otentik. Dengan kekuatan uang real dan kocoran minyak buminya mereka mampu membeli dan menciptakan sejarah baru yang telah habis dimanipulasi dan dimutilasi keasliannya.
Wahabisme menyimpan berbagai penyimpangan dalam teori dan dalam dimensi penerapannya. Dan sekte ini merupakan salah satu ideologi kufur yang menjauhkan keimanan seseorang menjadi kemunafikan, yang akhirnya berlabuh kepada dermaga kekafiran.
Dari dermaga kekafiran inilah mereka menurunkan ribuan prajurit bodohnya untuk mewujudkan impian besar pemimpinnya, yaitu mewujudkan seluruh wilayah di belahan dunia mana pun menjadi beraliran Wahabi. Tidak ada nasab antara sekte Wahabi ini dengan agama Islam. Dengan jutaan propaganda yang tersebar di bilik-bilik kemaksiatan, mereka berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat muslimin yang awam. Dengan bahasa Arab yang fasih dengan memamerkan gelar Lc atau M.A yang mereka miliki, masya- rakat awam pun menjadi korban penipuan mereka. Padahal semua orang berakal pun tahu, bahwa gelar bukanlah segalanya. Karena yang lebih penting dari gelar adalah kejujuran dan keberanian dalam mengungkapkan kejahatan yang tersembunyi di balik pangkat dan jabatan.
Situasi kehidupan agamis yang timpang di negara-negara Islam menjadi lingkungan potensial dan lahan subur untuk berkembangnya sekte Wahabi ini. Pohon Wahabi yang dahulu kecil sekarang telah tinggi yang berbuah. Kalau tidak kita tebang pohon itu, maka akar-akarnya akan menjerat keimanan kita, hingga kita pun tersesat dibuatnya. Buta di- siang hari dan melihat dalam kegelapan.
Pemikiran yang disebarkan oleh gerakan ini beserta segala yang terkandung di dalamnya, hanya berusaha memisahkan totalitas agama dari semua ruang kehidupan, dan menjadikan agama itu sempit sesempit-sempitnya serta dangkal sedangkal-dangkalnya. Di tambah dengan kebencian terhadap agama Islam dan para pemeluknya itu sendiri. Karena itu sekte Wahabi adalah agama lain dan bukan agama Islam. Supaya terlihat Islami mereka pun mengatas-namakan Islam. Bukankah orang-orang Khawarij, Murjiah dan Qadariah pun mengatasnamakan Islam ? Apakah mereka termasuk dalam barisan kaum muslimin ? Nabi Saw-lah yang meyakinkan kita bahwa mereka kaum murtad, musuh Islam, pembunuh kaum muslimin, pencaci maki terhebat, Dajjal, dan anjing-anjing Neraka. Lalu mengapa kita masih meng- ingkari kebenaran ini dan tidak mengimani Nabi ? Atau jangan-jangan kalian lebih meyakini ulama-ulama sesat kalian dan menyingkirkan nabi dari keyakinan kalian ?
Sejatinya agama baru ini telah terkontaminasi oleh usaha-usaha pemutarbalikkan fakta dan pemalsuan untuk mengganti agama Islam yang lama dengan ajaran agama mereka yang telah dimodifikasi di berbagai tempat, sehingga bila dilihat dari luar tampak seperti agama Islam, padahal agama ini sejatinya, bukan agama Islam yang sejati.
Agama wahabi ini bertolak belakang dengan kemasla- hatan manusia dalam kehidupan dunia dan interaksi sosial di antara mereka. Padahal Nabi Saw adalah individu yang paling sosial terhadap non muslim, lalu mengapa sekte Wahabi ini begitu keras dan kaku terhadap kaum muslim lainnya ?
Sekte Wahabi ini terbukti secara nyata bertentangan dengan kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan dan sejarah yang telah baku dan berlalu. Bahkan, para aktivis dan para ulamanya senantiasa melakukan perubahan dan perombakan terhadap data-data yang telah disepakati kaum muslimin. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kaum Nasrani yang setiap tahun mengubah dan merombak isi Injil mereka di Vatikan.
Mereka membentuk tim sukses untuk mengambil alih mesjid-mesjid ahlussunnah dan menghilangkan kebudayaan dan tradisi yang bernilai agama, seperti Yasinan, Mauludan, Shalawatan, Tahlilan, membaca Barzanzi dan hal lainnya.
Dan dengan sok pintarnya mereka berkata “ Hal seperti itu tidak ada di Makkah dan Madinah, tidak bermanfaat, berlebih-lebihan kata mereka yang bodoh dan dungu ini “. Kang ! Makkah dan Madinah tahun sekarang berbeda dengan abad-abad sebelumnya. Kebiasaan masyarakat dari satu abad ke abad lainnya berbeda tergantung siapa yang menjadi pemimpinnya. Bukankah 200 tahun belakangan ini Makkah dan Madinah dikuasai oleh para Khawarizme yang anti terhadap hal-hal yang disebutkan tadi ?
Kalaulah ritual Yasinan, Tahlilan, Shalawatan, Maulu- dan, dan ziarah kubur tidak ada, pertanyaan sederhananya adalah : “ Mengapa di Indonesia, Brunei, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Philipina, India, Pakistan, Srilangka, Bangladesh, China, Mongolia, Iran, Irak, Suriah, Yordania, Aljazair, Sudan, Libya, Oman, Yaman, Mesir, Turki, Palestina, Maroko, Somalia, Djibouti, dan banyak negara lainnya mela- kukan ritual-ritual tersebut ? Dan hal ini sudah berlangsung sejak 1200 tahun yang lalu berdasarkan apa yang mereka terima dari para sahabat Nabi Saw sampai zaman kita sekarang ini. Sedangkan sebelum pendudukan Mekkah dan Madinah secara paksa oleh kawanan Salafi Wahabi 200 tahun yang lalu, Makkah dan Medinah begitu sejuk, nyaman, harmonis, dan toleransi agama Islam antar mazhab begitu tinggi. Tetapi sekarang, mayoritas penduduk Makkah dan Medinah sudah hilang kelembutan dan toleransinya, yang tersisa hanya pemaksaan kehendak, penjajahan terhadap mazhab lain, dan merasa dirinya lebih suci dari kaum muslim lainnya. Inikah ciri asli penduduk kota tersuci umat Islam ?
Ulama-ulama ahlussunnah wal jama’ah diusir, disiksa dan kalau perlu dibunuh demi memuluskan jalan untuk mengeruk minyak bumi dan menelantarkan rakyatnya. Kalaulah pembaca cerdas, dengan negara sekaya Saudi Arabia yang menjadi negara terkaya sedunia, lalu mengapa rakyatnya masih miskin-miskin ? Pembangunan tata kota terlambat, pertumbuhan ekonomi per desa tidak maju, sarana dan prasarana internasional tidak memadai, hubungan masyarakat terbatas, minim kegiatan-kegiatan yang bertaraf internasio- nal, dan masih banyak lagi keganjilan-keganjilan lainnya.
Hal ini berbanding terbalik ketika kami melihat istana-istana para pewaris tahta kerajaan, atau anak keturunan MIAW dan para syaikh-syaikh Salafi Wahabi ini. Kesederha- naan dan kezuhudan yang menjadi perilaku Nabi Saw dan para sahabat setianya, tidak menempel satu gram pun di hati mereka. Mereka lebih senang dan bangga menonjolkan kemewahan, keterkenalan mereka, kedekatan mereka dengan para amir dan pangeran-pangeran pewaris tahta kerajaan, daripada mencontoh akhlak dan perilaku Nabinya sendiri.
Sebagai pihak berwenang yang melaksanakan agama yang baru ini, mereka menjalin persekutuan busuk dengan para penguasa zhalim lalu memberikan label-label kesucian dan kemaksuman dari semua kesalahan yang mereka lakukan, serta melegalkan segala tindakan kejahatan dan penindasan yang mereka lakukan terhadap penganut mazhab lain, dengan alasan memurnikan ajaran agama. Sudah barang tentu mak- sudnya adalah, memurnikan ajaran agama mereka yang baru dan menghapuskan sedikit demi sedikit ajaran Islam buhun.
Bertolak dari hal seperti itu, para penganut mazhab lain mulai mencari tanah air yang baru, atau mereka harus kembali ke kampung halamannya demi menyelamatkan akidahnya yang suci. Duhai, seandainya kaum ahlussunah memahami betapa berbahayanya gerakan ini, maka mereka akan membersihkan wilayahnya dari pasukan-pasukan setan laknatullah ini dengan harta dan jiwanya.
Tidak ada satu pun nash syar’i yang dapat mereka tunjukan untuk membenarkan tindakan biadabnya tersebut. Karena semua bertolak belakang dengan salah satu sifat ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bahkan, mereka dengan kesesatannya mengganti slogan Islam tersebut dengan “ Penyesatan akidah lil ‘alamin “.
Dari pemahaman yang sangat kaku ini, maka seluruh bentuk pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikiran mereka yang secara nyata telah tersesat, harus mengalami pengucilan dan permusuhan dari pihak kerajaan dan seluruh sekutunya. Suara-suara kebenaran tidak boleh muncul dan harus segera ditindak dan ditindas dengan cara apa pun. Sejak kapan Allah dan Nabi-Nya mengajarkan kurikulum seperti itu ?
Hal ini ditambah dengan perekrutan mahasiswa yang sedang belajar di Makkah dan Madinah di sana. Kemudian dikarenakan hubungan baiknya dengan pemerintah Indonesia akhirnya mereka berhasil menyusupkan antek-anteknya dan membentuk partai baru di Indonesia yang bernafaskan agama. Sudah barangtentu bukan bernafaskan agama Islam sejati, tetapi bernafaskan agama mereka sendiri.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Ketua PKB Jawa Barat sekarang Kang Wari bin Sayid Abdullah, di dalam bukunya “ ASWAJALOGI Saya Bangga Menjadi Orang NU “ bahwa gerakan ekstrem ini mengubah bentuk tampilannya untuk mengecoh kaum Nahdliyyin dalam bentuk partai, mereka adalah PKS, PAN, PBB, dan sebagian dari PPP.
Ironisnya, bersamaan dengan itu masyarakat menyam- butnya dengan penuh semangat akibat kesalahpahaman mereka, bahwa lulusan universitas Makkah dan Medinah tersebut telah dianggap sebagai para pembawa ilmu yang bermanfaat dan penyandang pengetahuan yang jujur dan benar. Padahal adat istiadat, tatanan dan tradisi yang diserap dan mereka agung-agungkan, oleh para lulusan tersebut tidak lain hanyalah adat istiadat, tradisi dan tatanan masyarakat yang menolak segala hal yang memiliki kaitan atau hubungan dengan salah satu sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Maka kita tidak boleh memberikan tampuk kepemim- pinan dan jabatan serendah apapun kepada mereka di wilayah kita. Sebagaimana pula halnya seluruh media informasi dan komunikasi harus ditutup di depan mereka, sehingga mereka tidak bisa mempublikasikan jati diri mereka di tengah-tengah masyarakat muslim. Masuk akalkah apabila seorang muslim berharap banyak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang Islam dan seluruh bentukan syariatnya dari manusia dan sekte yang paling kufur dan dengki terhadap Islam dan seluruh pemeluknya ?
Memerangi dan memusuhi orang yang hanya sekedar menyeru kepada keimanan terhadap Allah semacam ini, sekalipun secara nyata gerakan ini adalah konspirasi terse- lubung yang durhaka terhadap ajaran Islam, mereka masih sempat membanggakan kekufurannya dengan mengingkari bahwa mereka adalah sekawanan makhluk paling kufur yang bergelimang dosa. Tidak tersamar sedikit pun mata ini untuk melihat pergerakan mereka. Dan tidak ada dari seorang muslim pun yang sudi menyambutnya, kecuali orang-orang yang ingin berpisah dengan agamanya.
Tampilan yang ciamik yang mereka sajikan terhadap kehidupan beragama ini bisa menutupi hakikat seruan kufur di mata masyarakat awam. Seingga mereka tidak dapat meli- hat secara nyata akan kekufuran yang ada pada mereka akibat sedikitnya pemahaman dan wawasan mereka terhadap agama.
Mayoritas kaum muslimin tidak menyadari agresi Wahabisme terhadap agama Islam yang sebenarnya. Adapun kaum muslim yang paham akan agamanya, mereka tidak akan membuka peluang sekecil apa pun bagi kaum Wahabi ini. Karena mereka mengetahui seyakin-yakinnya bahwa gerakan wahabi ini lebih kejam dari gerakan apa pun, bahkan mereka tidak segan-segan demi doktrin suci versi mereka, untuk menyingkirkan beberapa bagian syariat Allah dan ranah hukum dalam segala sisinya demi mencapai tujuan busuk dan cita-cita kotornya.
Sejatinya, para penganut Wahabisme ini telah menerjang banyak hal yang dapat membatalkan keislaman mereka. Mereka meyakini bahwa Nabi Saw adalah sebaik-baiknya petunjuk, tetapi dalam praktek di lapangan, justru mereka meyakini bahwa sebaik-baiknya petunjuk bukanlah Nabi Saw, tetapi fatwa para ulamanya walaupun secara terang-terangan fatwa ulama mereka bertolak belakang dengan al-Quran dan al-Hadits.
Penganut ideologi Wahabisme di dunia ini banyak jumlahnya, dan semoga Allah tidak menambah jumlah orang-orang sesat dan menyesatkan ini. Di antara mereka banyak yang menjadi penulis buku, sastrawan dan jurnalis, banyak pula yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi dan sejumlah besar orang-orang tersebar pada berbagai media informasi bahkan mampu menguasainya, serta ada juga yang ditempatkan di partai-partai politik sebagai mesin Jackpot, di lembaga-lembaga keagamaan, kepolisian, kehakiman, kejak- saaan, atau yang berprofesi sebagai pengacara.
Semua tingkatan ini saling bantu membantu dan mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk menyebarkan ideologi Wahabisme di tengah-tengah masyarakat, sehingga paham ini merambah di berbagai sektor kehidupan kaum muslimin.
Tiada lain salah satu penyebabnya adalah jauhnya kaum muslimin dari memahami sejarahnya sendiri. Mereka terlalu sibuk dengan memperjuangkan pangkat, jabatan dan kekayaannya masing-masing, dan enggan untuk memikirkan serta memajukan peradaban agamanya.
Di saat seperti ini, dengan kejeliannya para pemikir licik dari kaum penjajah mulai mencari dan melirik beberapa orang-orang aneh yang tidak memiliki kestabilan jiwa dan minimnya imu pengetahuan tentang Islam. Akhirnya mereka mendapatkan boneka-boneka bodohnya, yaitu MIAW dan para pengikutnya yang mendirikan sekte SALAFI WAHABI yang merupakan reinkarnasi dari kebusukan dan kebobrokan Dinasti Bani Umayah pada awal berdirinya, dan sekte sesat Khawarij yang menjadi musuh abadi dalam selimut bagi kerukunan dan persatuan umat Islam.
Hakikat dari sekte Wahabiyah ini sebenarnya mereka berorientasi kepada pencemaran dan penistaan agama, bukan kepada pemurnian tauhid. Tidak pula untuk mempersatukan umat, tetapi untuk menumpuk kekayaan dan bersekutu dengan musuh-musuh Islam dari kaum Yahudi dan Nashrani. Para ulama mereka bukanlah orang-orang yang berjiwa agamis dan memiliki tingkatan spiritual yang mumpuni. Mereka menutupi kebejatan moralnya dengan berlindung kepada dua kota suci, yaitu Makkah dan Madinah.
Wahabisme adalah paham yang kental dengan doktrinisasi satu arah tentang pengkafiran. Mereka meyakini bahwa pengkafiran kaum muslim yang berbeda dengan mereka adalah menu utama dalam syariat yang dibentuk oleh MIAW, bukan oleh baginda Nabi Saw.
Wahabisme adalah sebuah gerakan yang bertujuan mengelabui umat Islam dari kebenaran sejarah yang otentik. Dengan kekuatan uang real dan kocoran minyak buminya mereka mampu membeli dan menciptakan sejarah baru yang telah habis dimanipulasi dan dimutilasi keasliannya.
Wahabisme menyimpan berbagai penyimpangan dalam teori dan dalam dimensi penerapannya. Dan sekte ini merupakan salah satu ideologi kufur yang menjauhkan keimanan seseorang menjadi kemunafikan, yang akhirnya berlabuh kepada dermaga kekafiran.
Dari dermaga kekafiran inilah mereka menurunkan ribuan prajurit bodohnya untuk mewujudkan impian besar pemimpinnya, yaitu mewujudkan seluruh wilayah di belahan dunia mana pun menjadi beraliran Wahabi. Tidak ada nasab antara sekte Wahabi ini dengan agama Islam. Dengan jutaan propaganda yang tersebar di bilik-bilik kemaksiatan, mereka berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat muslimin yang awam. Dengan bahasa Arab yang fasih dengan memamerkan gelar Lc atau M.A yang mereka miliki, masya- rakat awam pun menjadi korban penipuan mereka. Padahal semua orang berakal pun tahu, bahwa gelar bukanlah segalanya. Karena yang lebih penting dari gelar adalah kejujuran dan keberanian dalam mengungkapkan kejahatan yang tersembunyi di balik pangkat dan jabatan.
Situasi kehidupan agamis yang timpang di negara-negara Islam menjadi lingkungan potensial dan lahan subur untuk berkembangnya sekte Wahabi ini. Pohon Wahabi yang dahulu kecil sekarang telah tinggi yang berbuah. Kalau tidak kita tebang pohon itu, maka akar-akarnya akan menjerat keimanan kita, hingga kita pun tersesat dibuatnya. Buta di- siang hari dan melihat dalam kegelapan.
Pemikiran yang disebarkan oleh gerakan ini beserta segala yang terkandung di dalamnya, hanya berusaha memisahkan totalitas agama dari semua ruang kehidupan, dan menjadikan agama itu sempit sesempit-sempitnya serta dangkal sedangkal-dangkalnya. Di tambah dengan kebencian terhadap agama Islam dan para pemeluknya itu sendiri. Karena itu sekte Wahabi adalah agama lain dan bukan agama Islam. Supaya terlihat Islami mereka pun mengatas-namakan Islam. Bukankah orang-orang Khawarij, Murjiah dan Qadariah pun mengatasnamakan Islam ? Apakah mereka termasuk dalam barisan kaum muslimin ? Nabi Saw-lah yang meyakinkan kita bahwa mereka kaum murtad, musuh Islam, pembunuh kaum muslimin, pencaci maki terhebat, Dajjal, dan anjing-anjing Neraka. Lalu mengapa kita masih meng- ingkari kebenaran ini dan tidak mengimani Nabi ? Atau jangan-jangan kalian lebih meyakini ulama-ulama sesat kalian dan menyingkirkan nabi dari keyakinan kalian ?
Sejatinya agama baru ini telah terkontaminasi oleh usaha-usaha pemutarbalikkan fakta dan pemalsuan untuk mengganti agama Islam yang lama dengan ajaran agama mereka yang telah dimodifikasi di berbagai tempat, sehingga bila dilihat dari luar tampak seperti agama Islam, padahal agama ini sejatinya, bukan agama Islam yang sejati.
Agama wahabi ini bertolak belakang dengan kemasla- hatan manusia dalam kehidupan dunia dan interaksi sosial di antara mereka. Padahal Nabi Saw adalah individu yang paling sosial terhadap non muslim, lalu mengapa sekte Wahabi ini begitu keras dan kaku terhadap kaum muslim lainnya ?
Sekte Wahabi ini terbukti secara nyata bertentangan dengan kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan dan sejarah yang telah baku dan berlalu. Bahkan, para aktivis dan para ulamanya senantiasa melakukan perubahan dan perombakan terhadap data-data yang telah disepakati kaum muslimin. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kaum Nasrani yang setiap tahun mengubah dan merombak isi Injil mereka di Vatikan.
Mereka membentuk tim sukses untuk mengambil alih mesjid-mesjid ahlussunnah dan menghilangkan kebudayaan dan tradisi yang bernilai agama, seperti Yasinan, Mauludan, Shalawatan, Tahlilan, membaca Barzanzi dan hal lainnya.
Dan dengan sok pintarnya mereka berkata “ Hal seperti itu tidak ada di Makkah dan Madinah, tidak bermanfaat, berlebih-lebihan kata mereka yang bodoh dan dungu ini “. Kang ! Makkah dan Madinah tahun sekarang berbeda dengan abad-abad sebelumnya. Kebiasaan masyarakat dari satu abad ke abad lainnya berbeda tergantung siapa yang menjadi pemimpinnya. Bukankah 200 tahun belakangan ini Makkah dan Madinah dikuasai oleh para Khawarizme yang anti terhadap hal-hal yang disebutkan tadi ?
Kalaulah ritual Yasinan, Tahlilan, Shalawatan, Maulu- dan, dan ziarah kubur tidak ada, pertanyaan sederhananya adalah : “ Mengapa di Indonesia, Brunei, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Philipina, India, Pakistan, Srilangka, Bangladesh, China, Mongolia, Iran, Irak, Suriah, Yordania, Aljazair, Sudan, Libya, Oman, Yaman, Mesir, Turki, Palestina, Maroko, Somalia, Djibouti, dan banyak negara lainnya mela- kukan ritual-ritual tersebut ? Dan hal ini sudah berlangsung sejak 1200 tahun yang lalu berdasarkan apa yang mereka terima dari para sahabat Nabi Saw sampai zaman kita sekarang ini. Sedangkan sebelum pendudukan Mekkah dan Madinah secara paksa oleh kawanan Salafi Wahabi 200 tahun yang lalu, Makkah dan Medinah begitu sejuk, nyaman, harmonis, dan toleransi agama Islam antar mazhab begitu tinggi. Tetapi sekarang, mayoritas penduduk Makkah dan Medinah sudah hilang kelembutan dan toleransinya, yang tersisa hanya pemaksaan kehendak, penjajahan terhadap mazhab lain, dan merasa dirinya lebih suci dari kaum muslim lainnya. Inikah ciri asli penduduk kota tersuci umat Islam ?
Ulama-ulama ahlussunnah wal jama’ah diusir, disiksa dan kalau perlu dibunuh demi memuluskan jalan untuk mengeruk minyak bumi dan menelantarkan rakyatnya. Kalaulah pembaca cerdas, dengan negara sekaya Saudi Arabia yang menjadi negara terkaya sedunia, lalu mengapa rakyatnya masih miskin-miskin ? Pembangunan tata kota terlambat, pertumbuhan ekonomi per desa tidak maju, sarana dan prasarana internasional tidak memadai, hubungan masyarakat terbatas, minim kegiatan-kegiatan yang bertaraf internasio- nal, dan masih banyak lagi keganjilan-keganjilan lainnya.
Hal ini berbanding terbalik ketika kami melihat istana-istana para pewaris tahta kerajaan, atau anak keturunan MIAW dan para syaikh-syaikh Salafi Wahabi ini. Kesederha- naan dan kezuhudan yang menjadi perilaku Nabi Saw dan para sahabat setianya, tidak menempel satu gram pun di hati mereka. Mereka lebih senang dan bangga menonjolkan kemewahan, keterkenalan mereka, kedekatan mereka dengan para amir dan pangeran-pangeran pewaris tahta kerajaan, daripada mencontoh akhlak dan perilaku Nabinya sendiri.
Sebagai pihak berwenang yang melaksanakan agama yang baru ini, mereka menjalin persekutuan busuk dengan para penguasa zhalim lalu memberikan label-label kesucian dan kemaksuman dari semua kesalahan yang mereka lakukan, serta melegalkan segala tindakan kejahatan dan penindasan yang mereka lakukan terhadap penganut mazhab lain, dengan alasan memurnikan ajaran agama. Sudah barang tentu mak- sudnya adalah, memurnikan ajaran agama mereka yang baru dan menghapuskan sedikit demi sedikit ajaran Islam buhun.
Bertolak dari hal seperti itu, para penganut mazhab lain mulai mencari tanah air yang baru, atau mereka harus kembali ke kampung halamannya demi menyelamatkan akidahnya yang suci. Duhai, seandainya kaum ahlussunah memahami betapa berbahayanya gerakan ini, maka mereka akan membersihkan wilayahnya dari pasukan-pasukan setan laknatullah ini dengan harta dan jiwanya.
Tidak ada satu pun nash syar’i yang dapat mereka tunjukan untuk membenarkan tindakan biadabnya tersebut. Karena semua bertolak belakang dengan salah satu sifat ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bahkan, mereka dengan kesesatannya mengganti slogan Islam tersebut dengan “ Penyesatan akidah lil ‘alamin “.
Dari pemahaman yang sangat kaku ini, maka seluruh bentuk pemikiran yang tidak sesuai dengan pemikiran mereka yang secara nyata telah tersesat, harus mengalami pengucilan dan permusuhan dari pihak kerajaan dan seluruh sekutunya. Suara-suara kebenaran tidak boleh muncul dan harus segera ditindak dan ditindas dengan cara apa pun. Sejak kapan Allah dan Nabi-Nya mengajarkan kurikulum seperti itu ?
Hal ini ditambah dengan perekrutan mahasiswa yang sedang belajar di Makkah dan Madinah di sana. Kemudian dikarenakan hubungan baiknya dengan pemerintah Indonesia akhirnya mereka berhasil menyusupkan antek-anteknya dan membentuk partai baru di Indonesia yang bernafaskan agama. Sudah barangtentu bukan bernafaskan agama Islam sejati, tetapi bernafaskan agama mereka sendiri.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Ketua PKB Jawa Barat sekarang Kang Wari bin Sayid Abdullah, di dalam bukunya “ ASWAJALOGI Saya Bangga Menjadi Orang NU “ bahwa gerakan ekstrem ini mengubah bentuk tampilannya untuk mengecoh kaum Nahdliyyin dalam bentuk partai, mereka adalah PKS, PAN, PBB, dan sebagian dari PPP.
Ironisnya, bersamaan dengan itu masyarakat menyam- butnya dengan penuh semangat akibat kesalahpahaman mereka, bahwa lulusan universitas Makkah dan Medinah tersebut telah dianggap sebagai para pembawa ilmu yang bermanfaat dan penyandang pengetahuan yang jujur dan benar. Padahal adat istiadat, tatanan dan tradisi yang diserap dan mereka agung-agungkan, oleh para lulusan tersebut tidak lain hanyalah adat istiadat, tradisi dan tatanan masyarakat yang menolak segala hal yang memiliki kaitan atau hubungan dengan salah satu sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Maka kita tidak boleh memberikan tampuk kepemim- pinan dan jabatan serendah apapun kepada mereka di wilayah kita. Sebagaimana pula halnya seluruh media informasi dan komunikasi harus ditutup di depan mereka, sehingga mereka tidak bisa mempublikasikan jati diri mereka di tengah-tengah masyarakat muslim. Masuk akalkah apabila seorang muslim berharap banyak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang Islam dan seluruh bentukan syariatnya dari manusia dan sekte yang paling kufur dan dengki terhadap Islam dan seluruh pemeluknya ?
Memerangi dan memusuhi orang yang hanya sekedar menyeru kepada keimanan terhadap Allah semacam ini, sekalipun secara nyata gerakan ini adalah konspirasi terse- lubung yang durhaka terhadap ajaran Islam, mereka masih sempat membanggakan kekufurannya dengan mengingkari bahwa mereka adalah sekawanan makhluk paling kufur yang bergelimang dosa. Tidak tersamar sedikit pun mata ini untuk melihat pergerakan mereka. Dan tidak ada dari seorang muslim pun yang sudi menyambutnya, kecuali orang-orang yang ingin berpisah dengan agamanya.
Tampilan yang ciamik yang mereka sajikan terhadap kehidupan beragama ini bisa menutupi hakikat seruan kufur di mata masyarakat awam. Seingga mereka tidak dapat meli- hat secara nyata akan kekufuran yang ada pada mereka akibat sedikitnya pemahaman dan wawasan mereka terhadap agama.
Mayoritas kaum muslimin tidak menyadari agresi Wahabisme terhadap agama Islam yang sebenarnya. Adapun kaum muslim yang paham akan agamanya, mereka tidak akan membuka peluang sekecil apa pun bagi kaum Wahabi ini. Karena mereka mengetahui seyakin-yakinnya bahwa gerakan wahabi ini lebih kejam dari gerakan apa pun, bahkan mereka tidak segan-segan demi doktrin suci versi mereka, untuk menyingkirkan beberapa bagian syariat Allah dan ranah hukum dalam segala sisinya demi mencapai tujuan busuk dan cita-cita kotornya.
Sejatinya, para penganut Wahabisme ini telah menerjang banyak hal yang dapat membatalkan keislaman mereka. Mereka meyakini bahwa Nabi Saw adalah sebaik-baiknya petunjuk, tetapi dalam praktek di lapangan, justru mereka meyakini bahwa sebaik-baiknya petunjuk bukanlah Nabi Saw, tetapi fatwa para ulamanya walaupun secara terang-terangan fatwa ulama mereka bertolak belakang dengan al-Quran dan al-Hadits.
Penganut ideologi Wahabisme di dunia ini banyak jumlahnya, dan semoga Allah tidak menambah jumlah orang-orang sesat dan menyesatkan ini. Di antara mereka banyak yang menjadi penulis buku, sastrawan dan jurnalis, banyak pula yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi dan sejumlah besar orang-orang tersebar pada berbagai media informasi bahkan mampu menguasainya, serta ada juga yang ditempatkan di partai-partai politik sebagai mesin Jackpot, di lembaga-lembaga keagamaan, kepolisian, kehakiman, kejak- saaan, atau yang berprofesi sebagai pengacara.
Semua tingkatan ini saling bantu membantu dan mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk menyebarkan ideologi Wahabisme di tengah-tengah masyarakat, sehingga paham ini merambah di berbagai sektor kehidupan kaum muslimin.
Kesamaan Khawarij dan Wahabi dalam akidah dan dakwah
Khawarij adalah sebuah kelompok pembangkang pertama yang divonis keluar dari Islam berdasarkan hadits mutawatir. Kelompok ini merupakan sekte yang memiliki banyak perbedaan dalam akidah dan dakwah dengan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Tentang sekte Khawarij ini sudah banyak diceritakan di dalam ratusan hadits dan buku-buku sejarah.
Sekte Khawarij terbagi menjadi beberapa bagian, dan salah satu bagiannya adalah Khawarij Azariqah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akidah sebagai berikut :
Mereka berkeyakinan bahwa siapa pun yang bertentangan dengan keyakinan mereka dihukumi kaum musyrikin atau kafir.
Orang-orang yang hanya berdiam diri tanpa mengkafirkan muslim lainnya berarti dia telah kafir.
قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب : فا نواقض الإسلام : الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك فى كفرهم, أو صحح مذهبهم كفر, وقال شيخ الإ سلام ابن تيمية : من دعل علي بن أبى طالبو فقد كفر ومن شك في كفره فقد كفر
“ Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Nawaqidh al-Islam mengatakan : “ Perkara ketiga adalah, barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik (maksudnya adalah semua kaum muslimin) atau ragu dalam mengkafirkan mereka atau membenarkan madzhab mereka (ahlusunnah dan Syi’ah), maka dia telah kafir “. Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah : “ Siapa saja yang memanggil-manggil Ali bin Ali Thalib maka dia benar-benar kafir, dan barangsiapa saja yang ragu untuk mengkafirkannya maka dia juga kafir “ (Ad-Durar as-Saniyyah op.cit, 9/292, lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi wahabi hal. 64)
Ibnu Taimiyah telah menjadi maha guru dalam hal pengkafiran bagi MIAW (singkatan dari Muhammad bin Abdul Wahhab) dan pengikutnya. Tidak dapat berkelit lagi bahwa Salafi Wahabi benar-benar telah terinspirasi dan telah menjadi gaya hidup dalam hal mengkafirkan seluruh kaum muslimin.
Sebagai tanda sahnya keimanan mereka sebagai Khawarij Azariqah, bahwa apabila mereka berhasil menawan salah satu dari orang muslim maka mereka diwajibkan untuk membunuhnya. Namun apabila mereka tidak berani membunuhnya, maka mereka hukumnya adalah munafik dan musyrik.
Mereka menghalalkan para wanita dan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Selain itu halal pula membunuh anak-anak orang yang tidak sepaham dengan mereka, karena bagi mereka anak-anak itu adalah orang-orang musyrik yang pasti akan kekal selama-lamanya dalam api neraka.
قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب : انى أدعوكم إلى التوحيد وترك الشرك بالله وجميع ما هو تحت السبع الطباق مشرك على الإطلاق ومن قتل مشركا فله الجنة. من دخل فى دعوتنا فله مالنا وعليه ما علينا ومن لم يدخل معنا فهو كافر حلال الدّم والمال
“ Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : “ Sesungguhnya aku mengajak kalian kepada tauhid dan meninggalkan syirik terhadap Allah. Semua yang ada di bawah tujuh lapis langit ini benar-benar musyrik, dan barangsiapa yang membunuh orang-orang musyrik (maksudnya adalah kaum muslimin) maka dia mendapatkan surga. Siapa saja yang masuk ke dalam dakwah kami, maka dia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kami, dan barangsiapa yang tidak masuk (ke dalam dakwah kami) bersama kami, maka dia kafir, halal nyawa dan hartanya “ (Ibid hal. 57, lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi wahabi hal. 68)
Padahal kita tahu bahwa di dalam al-Quran Allah Swt berfirman :
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“ Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan dirinya “
(QS. 16 / an-Nahl : 49)
Dalam ayat lainnya Allah Swt berfirman :
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّهُ كاَنَ حَلِيْماً غَفُوْراً
“ Langit yang tujuh dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun “ (QS. 17 / al-Isra : 44)
MIAW mengatakan dengan pedenya, bahwa semua yang ada di bawah tujuh lapis langit ini benar-benar musyrik, sedangkan Allah dengan kebenaran-Nya menegaskan, bahwa langit yang tujuh dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya, baik seluruh binatang, pepohonan, gunung, laut, sungai, matahari, bulan, bintang dan para malaikat-Nya. Sungguh, Allah Maha Penyantun dan Maha Pengampun. Tetapi MIAW ini sungguh “ Maha Edan dan Maha Sableng “.
Lihatlah hatinya yang telah dipenuhi oleh kebencian, dendam kesumat, dan ketidakwarasan yang berada dalam level tertinggi. Dia telah menghakimi dirinya sebagai orang yang paling bertauhid. Sedangkan seluruh hamba-hamba-Nya yang bertauhid divonis sebagai kaum musyrikin, dan wajib dibunuh. Ayat dan hadits mana yang menghalalkan nyawa dan harta kita untuk dibunuh dan diambil tanpa hak ? Bahkan MIAW mewajibkan kepada pengikutnya untuk membunuh kita serta merampas harta benda kita. Hanya ada satu kata untuk mereka “ LAWAN & SERANG BALIK “.
Mereka meyakini bahwa negeri orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka adalah negeri kafir. Karenanya di negeri tersebut halal bagi mereka untuk membunuh anak-anak kecil dan kaum wanitanya. Mereka meyakini bahwa siapa pun yang tidak sepaham dan menentang mereka adalah orang-orang musyrik, dan tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menunaikan amanah kepada mereka.
Salah seorang sejarawan Salafi Wahabi yang bernama Utsman bin Abdullah bin Bitsr an-Najd menceritakan tentang kebiadaban dan pembantaian yang mereka lakukan sebagai berikut : “ Sa’ud bergerak bersama bala tentaranya dengan menunggang kuda-kuda pilihan terbaik, yang terdiri dari orang-orang Najd, Badui, orang-orang selatan, Hijaz, Tiha- mah, dan lainnya menuju tanah Karbala. Maka orang-orang ini memenuhi kota itu, mengepung tembok-temboknya, dan masuk ke daerah tersebut secara paksa. Mereka membunuhi hampir seluruh penduduknya di pasar-pasar dan rumah-rumah. Menghancurkan kubah yang ada di atas pusara Imam Husain, kubah yang dihiasi zamrud, yakut dan beragam permata indah lainnya. Mereka merampas semua yang ada di negeri itu, seperti uang, senjata, pakaian, kuda, emas, perak, mushaf-mushaf mahal, dan lain sebagainya yang tidak mung- kin disebutkan satu persatu. Mereka melakukan penyerbuan itu begitu cepat, sehingga mendekati waktu zhuhur mereka telah keluar dengan membawa harta itu dan membunuhi penduduknya sekitar 2000 orang “. (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 74, lihat al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz cet. 4, 1/257-1982 Riyadh)
Kemudian dikatakan pula di dalam kitab yang sama bahwa kaum edan Salafi Wahabi ini menyerang Kazhimiyah, Najaf dan Qum sebagai berikut : “ Penyerangan ini besar sekali dan korban-korban yang terbunuh amat banyak, darah-darah mengalir bagaikan aliran sungai. Sa’ud dan tentaranya keluar dari sana dengan membawa kemenangan, lalu masuk ke Karbala menghancurkan kubah besar itu, bahkan itu adalah berhala terbesar (maksudnya adalah makam Imam Husain). Kami meluluhlantakkan Karbala, membunuhi pen- duduknya, dan merampas (peternakan, harta, dan wanita) penduduknya. Alhamduillahi Rabbil ‘Alamin, kami semua sama sekali tidak menyesali itu semua, dan kami mengatakan : “ Dan bagi orang-orang kafir itu penderitaan yang sama “. (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 76, lihat al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz cet. 4, 1/257-258-1982 Riyadh, ini adalah kejadian tahun 1801 M/1216 H)
Bisa-bisanya setan-setan manusia ini mengucapkan puji syukur kepada-Nya. Apabila dikarenakan orang-orang banyak yang berziarah ke makam Imam Husain dan wajib dibunuh seluruh penduduknya. Wahai kaum yang dilaknat oleh Allah, dan para malaikat-Nya, bacalah ini :
Ibnu Taimiyah telah menukil bahwa Imam Ahmad bin Hanbal telah menulis satu Juz tentang ziarah ke makam Imam Husain a.s di Karbala, apa yang harus dilakukan oleh peziarah. Ibnu Taimiyah berkata :
اِنَّ النَّاسَ فِى زَمَنِ الْأِمَام اَحْمَدْ كَانُوا ينتابونه اَىْ يَقْصُدُوْنَ زِيَارَتَهُ
“ Sesungguhnya manusia di zaman Imam Ahmad senantiasa menziarahi makam Imam Husain “ ( Mazhab Salafi hal. 20)
Kita lihat kembali bagaimana keyakinan para ulama dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dalam men- ziarahi makam para Imam Syi’ah. Imam Abu Ali al-Hasan bin Ibrahim al-Khalal, pemuka mazhab Hanbali membolehkan bertawasul dan ber-istighatsah di makam orang-orang salih wabil khusus di makam Imam Ahlul bait dan inilah buktinya :
مَا هَمَّنِى أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ يَعْنِى الْكاَظِمَ فَتَوَ سَّلْتُ بِهِ إِلاَّ سَهَّلَ اللهُ لِى مَا أُحِبُّ
“ Setiap aku mengalami kesulitan, lalu aku mendatangi makam (Imam) Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq dan aku bertawasul dengannya pasti Allah memudahkan apa yang aku inginkan “ (Tarikh al-Baghdadi 1/120, 14 / 85-94, al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wal Imam 9/89, 19/347)
Imam Musa al-Kazhim bin Jafar as-Shadiq adalah Imam ke-8 dalam mazhab Syi’ah Imamiyah. Kalaulah Imam al-Kazhim ini semasa hidupnya dianggap kafir dan musyrik serta menyebarkan khurafat dan menyekutukan Allah, sudah barangtentu yang lebih berhak untuk menyerang Karbala, Najaf, dan Qum adalah Imam Ahmad, beserta seluruh peng- ikutnya bukan orang-orangnya Ibnu S’aud yang mengaku-aku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal.
Riwayat shahih ini diriwayatkan oleh banyak ulama di antaranya : al-Hajaj bin Yusuf, ‘Amru bin Dinar, Imam az-Zuhri, Yunus bin Ubaid, Ayyub as-Sakhtiani, Ibnu ‘Aun, Imam Malik, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Syu’bah al-Hajaj, Imam ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hanbal, Abdur- rahman bin Muhammad, Ahmad bin Ali, Muhammad bin Abbas, Abu Ayyub Sulaiman bin Ishaq al-Jalab, Abu Ishaq al-Harb dan ulama-ulama lainnya.7
Dalam riwayat shahih lainnya, al-Hafizh Abu Bakar bin Khuzaimah yang dijuluki Imam al-Aimmah (pemimpin para imam) dan pengarang kitab Shahih Khuzaimah, beliau pun berziarah kubur dan bertawasul kepada Imam Syi’ah ke-9 yaitu Imam Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim sebagaimana diriwayatkan oleh muridnya Abu Bakar bin al-Mu’ammal :
خَرَجْنَا مَعَ إِمَامِ أَهْلِ الْحَدِيْثِ أَبِى بَكْرٍ بْنِ خُزَيْمَةَ وَعَدِيْلِهِ أَبِى عَلِى الثَّقَفِيِّ مَعَ جَمَاعَةٍ مِنْ مَشَايِخِنَا وَهُمْ إِذْ ذَاكَ مُتَوَافِرُوْنَ إِلىَ زِيَارَةِ قَبْرِ عَلِى بْنِ مُوسَى اَلرِّضَا بِطُوْسِ قَالَ : فَرَأَيْتُ مِنْ تَعْظِمِهِ يَعْنِى ابْنُ خُزَيْمَةَ لِتِلْكَ الْبُقْعَةِ وَتَوَاضَعِهِ لَهَا وَتَضَرُّعِهِ عِنْدَهَا مَا تَحَيَّرْنَا
“ Kami berangkat bersama pemuka ahli hadits al-Imam bu Bakar bin Khuzaimah dan rekannya al-Hafizh Abu Ali ats-Tsaqafi beserta rombongan beberapa guru kami yang begitu banyak untuk berziarah ke makam (Imam) Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim di Thus (Iran). Ia (Abu Bakr bin al-Mu’ammal) berkata : “ Aku melihat keta’zhiman beliau (Imam Ibnu Khuzaimah) terhadap (penghuni) makam itu serta bersikap tawadhu terhadapnya dan doa beliau yang begitu khusu’ di sisi makam itu sampai membuat kami bingung “ (al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wal Imam 9/89)
Kalaulah ajaran Imam Syi’ah dianggap menyimpang dan sebagaimana mayoritas orang bodoh memvonis mereka kafir dan musyrik, lalu mengapa Imam Ahmad, Imam Ibrahim al-Khalal, Imam Ibnu Khuzaimah dan al-Hafizh Abu Ali ats-Tsaqafi menziarahi orang kafir dan musyrik ? Bukan- kah haram menziarahi orang kafir dan musyrik ?
Ooh jelas kalau begitu, ajaran Syi’ah Imamiyah itu tidak menyimpang dan para Imam Syi’ah adalah orang-orang salih yang setelah wafatnya pun masih dapat mendatangkan berkah bagi yang menziarahi dan bertawasul di sisi kuburannya.
Sekarang mari kita terusan tentang kebiadaban kawanan Salafi Wahabi ini. Seorang Mufti Makkah al-Mukarramah, Ahmad ibnu Zaini Dahlan yang bermazhab Syafi’i (w. 1304 H) yang merupakan tokoh ulama Makkah pada saat zaman Sultan Abdul Humaid menyatakan dalam kitabnya Umara ul-Baladil Haram sebagai berikut :
“ Ketika memasuki Thaif, Salafi Wahabi melakukan pembunuhan secara menyeluruh, termasuk tua renta, anak-anak, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu dipangkuan ibunya, membunuh umat Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila
mereka mendapati satu jama’ah umat Islam mengadakan pengajian al-Quran, maka mereka bersegera untuk membunuhnya, sehingga tiada lagi yang tinggal di kalangan mereka. Kemudian mereka memasuki masjid-masjid. Di situ mereka membunuhi orang-orang yang sedang ruku atau sujud, merampas uang dan harta mereka. Lalu mereka menginjak-nginjak al-Quran dengan kaki-kaki mereka termasuk kitab-kitab Imam al-Bukhari, Muslim, kitab-kitab fiqih, nahwu, dan kitab-kitab lainya………” (Umara al-Balad al-Haram, ad-Dar al-Muttahidah Lin Nasyr hal. 297-298, Ahmad ibnu Zaini Dahlan , lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 79)
Kita tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka tega menyembelih bayi yang sedang menyusu dipangkuan ibunya, tua renta dan anak-anak yang sedang bermain dengan riangnya pun mereka habisi juga. Yaa Allah makhluk apakah sebenarnya mereka ini ?
Tidak pernah ada keyakinan ini di dalam barisan kaum muslimin yang lurus dan benar, kecuali dalam sekte Khawarij Azariqah saja. Dan akidah seperti ini ternyata berada di dalam akidah Salafi Wahabi juga. Jelas sudah, bahwa mereka adalah sekte Khawarij, sebuah gerakan yang mengatas-namakan Islam, pemurnian tauhid, dan slogan-slogan penipuan lainnya. Mereka telah mengotori Islam dengan pedang-pedang berdarahnya, mengagungkan Islam dengan menyembelih bayi dan anak-anak yang tak berdosa, memuliakan Nabi-Nya dengan cara membantai kaum tua renta dan wanita-wanita yang tak berdaya.
Karena sekarang kita semua sudah yakin benar, bahwa Salafi Wahabi adalah Khawarij pada zaman ini, mari kita lihat vonis apa yang Nabi Saw berikan kepada kawanan Salafi Wahabi ini :
عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»
“ Dari Ibnu Abi Aufa, ia berkata : “ Bersabda Rasulullah Saw : “ Kaum Khawarij adalah Anjing Neraka “ (Sunan Ibnu Majah 1/61, Musnad Abu Dawud ath-Thayalis 2/163, 2/455, Mushanaf Aburrazzaq 10/152, riwayat Abu Umamah r.a, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/522, as-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/634 riwayat Sa’id bin Jumhan, derajat hadits shahih)
Bertanya Sa’id bin Jumhan kepada Abdullah bin Aufa tentang Khawarij az-zariqah, ia berkata :
لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَّهُمْ كِلَابُ النَّارِ» قَالَ: قُلْتُ: الْأَزَارِقَةَ وَحْدَهُمْ أَمِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا قَالَ: لَا، بَلِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا "
“ Laknat Allah bagi az-Zariqah, Laknat Allah bagi az-Zariqah, Laknat Allah bagi az-Zariqah, mengabarkan kepada kami Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya mereka adalah Anjing Neraka “. Aku bertanya :
“ Apakah al-Azariqah itu bagian dari khawarij semuanya ? “ Dikatakan : “ Ya, mereka kaum khawarij seluruhnya “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/64, derajat hadits shahih)
Nabi Saw telah menegaskan bahwa laknat Allah bagi kaum Khawarij yang pada masa kini menamakan diri sebagai Salafi Wahabi. Nabi Saw sendiri yang memberikan gelar kepada mereka sebagai “ ANJING NERAKA “. Anjing-anjing ini siap memangsa siapa saja yang berbeda dengan mereka. Anjing-anjing ini siap memangsa kaum muslimin dan mema- kannya mentah-mentah. Tidak pernah ada vonis sekeras ini yang disampaikan kepada kaum Salafi Wahabi (KHAWARIJ WAHABI) oleh Nabinya sendiri.
Dari ‘Umair bin Ishaq, ia berkata, aku mengingatkan tentang Khawarij di sisi Abu Hurairah, ia berkata :
«أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ»
“ Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk “ (Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/533, 7/557, derajat hadits shahih)
Dari Ibrahim ia berkata :
«الْخَوَارِجُ أَعْذَرُ عِنْدِي مِنَ الْمُرْجِئَةِ»
“ Kaum Khawariz adalah (kaum yang banyak membuat) alasan daripada kaum Murji’ah “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 1/337, derajat hadits shahih)
Dari Mush’ab bin Sa’id, dari bapaknya, ia berkata : mengingatkan tentang Khawarij di sisimu, ia berkata :
«هُمْ قَوْمٌ زَاغُوا فَأَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ»
“ Mereka adalah kaum yang berpaling (dari kebenaran), maka Allah pun memalingkan hati mereka “ (Sunan Turmudzi 4/454, Sunan Ibnu Majah 1/24 dll, derajat hadits shahih)
Bila Allah telah menetapkan mereka sebagai sebuah kaum yang condong kepada kesesatan, lalu apakah kita akan bersikeras untuk mengimani sekte Salafi Wahabi ini ?
Mengabarkan kepada kami Abu Ghalib, dari Abu Umamah tentang ayat :
{" زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ} [الصف: 5] ، قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ "
“ Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah pun memalingkan hati mereka “, (QS. 61 / as-Shaf : 5) dikatakan : Mereka adalah kaum Khawarij “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/638, 2/641, derajat hadits shahih)
Dari Abi Ghalib ia berkata : aku mendengar Abu Umamah menyampaikan kepadaku, dari Nabi Saw di dalam firman-Nya :
{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ} [آل عمران: 7] قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ، وَفِي قَوْلِهِ: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ} [آل عمران: 106] قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ
“ Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat (QS. 3 / Ali-Imran : 7) Nabi Saw bersabda : “ Mereka adalah kaum Khawarij “, dan di dalam firman-Nya “ pada hari itu (kiamat) ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram ” (Musnad Ahmad 36/594, derajat hadits shahih)
Di dalam kitab tafsir ath-Thabari dikatakan :
حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبي، عن حماد بن سلمة والربيع بن صبيح، عن أبي مجالد، عن أبي أمامة:"فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم"، قال: هم الخوارج
“ Mengabarkan kepada kami Ibn Waqi’ ia berkata : mengabarkan kepadaku, dari Hammad bin Salamah dan ar-Rabi’ bin Shabih, dari Abu Mujalid, dari Abu Umamah : (ayat yang berbunyi) “ Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram, (dikatakan kepada mereka) “ Mengapa kamu kafir setelah beriman ? “ Abu Umamah berkata : “ Mereka adalah kaum Khawarij “ (Tafsir ath-Thabari 7/94, 5/665, Tafsir Ibnu Abi Hatim 3/729, Tafsir as-Samarqandi 1/237, Tafsir Sam’ani 1/347, Tafsir al-Wasith al-Wahidi 1/476 , Tafsir Baghawi 2/87, dikatakan mereka adalah ahli bid’ah, derajat hadits shahih)
Melalui tafsir dan asbabul nuzul ayat tersebut, maka Nabi Saw memastikan kaum Khawarij atau kelompok yang menyerupainya mendapat jaminan masuk neraka.
Ini adalah hadits mutawatir dan sesungguhnya telah diriwayatkan pula dalam hadits lainnya dari Nabi Saw :
حَيْثُ وَصَفَ هَؤُلاَءِ القَوْمَ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، إِنَّمَا هُمُ الْخَوَارِجُ وَالْحَرُورِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ مِنَ الْخَوَارِجِ
“ Ada satu barisan di dalam kaum ini yang membaca al-Quran tetapi bacaan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka telah terlepas dari agama ini (murtad) seperti lepasnya anak panah dari busurnya, sesungguhnya mereka adalah kaum Khawarij dan Huruwiyah dan selain mereka yang masih bagian dari Khawarij “ (Sunan Turmudzi 4/51, derajat hadits shahih)
Dalam kesempatan lainnya, Nabi Saw menjelaskan salah satu cirri-ciri kaum Khawarij sebagai berikut :
يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، قِتَالُهُمْ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“ mereka telah terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya, peperangan (pembunuhan) yang mereka lakukan terhadap semua orang-orang Islam “ (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/441, derajat hadits shahih)
Sudah sepantasnya seorang muslim untuk selalu waspada serta dapat mengenali musuh-musuhnya dan berusaha untuk memenangkan pertempuran ini. Sungguh bodoh dan tak tahu diri bila kita berdiam diri terhadap penjahah akidah ini. Mereka telah siap untuk mengambil wilayah tersuci, yaitu keimanan kita. Pasukan kegelapan yang dipimpin oleh iblis laknatullah kembali menyerang cahaya Islam.
Ideologi wahabisme ini merupakan racun yang sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan beragama. Ideologi ini mulai merambah dan memasuki berbagai sektor penting di negeri ini. Dari satu komunitas ke komunitas lainya. Ideologi Wahabisme adalah ideologi kawin campur antara ideologi komunisme + marxisme + firaunisme + radikalisme + terorisme + devide et empera + Mafioso = sekte penipu, pemanipulasi sejarah, penjagal al-Quran dan al-Hadits, penjilat, penjajah akidah, perusak peradaban, pembunuh, pembantai, musuh Islam, dan sahabat karib syaiton.
Sebenarnya terdapat ratusan hadits yang menceritakan tentang kaum yang diberi gelar “ ANJING NERAKA “ ini. Tetapi bukan sekarang waktunya untuk menceritakan secara detail siapakah Salafi Wahabi yang sifat, perilaku, tata cara dakwah, dan akidahnya identik dengan kaun Khawarij dan Murjiah ini. Insya Allah tim kami sedang mengumpulkan, menyusun dan menerjemahkan hadits-hadits yang berhubu- ngan dengan Salafi Wahabi di zaman Nabi Saw, yang pada waktu itu dikenal dengan nama Khawarij / Haruriyah.
Sekte Khawarij terbagi menjadi beberapa bagian, dan salah satu bagiannya adalah Khawarij Azariqah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akidah sebagai berikut :
Mereka berkeyakinan bahwa siapa pun yang bertentangan dengan keyakinan mereka dihukumi kaum musyrikin atau kafir.
Orang-orang yang hanya berdiam diri tanpa mengkafirkan muslim lainnya berarti dia telah kafir.
قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب : فا نواقض الإسلام : الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك فى كفرهم, أو صحح مذهبهم كفر, وقال شيخ الإ سلام ابن تيمية : من دعل علي بن أبى طالبو فقد كفر ومن شك في كفره فقد كفر
“ Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Nawaqidh al-Islam mengatakan : “ Perkara ketiga adalah, barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik (maksudnya adalah semua kaum muslimin) atau ragu dalam mengkafirkan mereka atau membenarkan madzhab mereka (ahlusunnah dan Syi’ah), maka dia telah kafir “. Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah : “ Siapa saja yang memanggil-manggil Ali bin Ali Thalib maka dia benar-benar kafir, dan barangsiapa saja yang ragu untuk mengkafirkannya maka dia juga kafir “ (Ad-Durar as-Saniyyah op.cit, 9/292, lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi wahabi hal. 64)
Ibnu Taimiyah telah menjadi maha guru dalam hal pengkafiran bagi MIAW (singkatan dari Muhammad bin Abdul Wahhab) dan pengikutnya. Tidak dapat berkelit lagi bahwa Salafi Wahabi benar-benar telah terinspirasi dan telah menjadi gaya hidup dalam hal mengkafirkan seluruh kaum muslimin.
Sebagai tanda sahnya keimanan mereka sebagai Khawarij Azariqah, bahwa apabila mereka berhasil menawan salah satu dari orang muslim maka mereka diwajibkan untuk membunuhnya. Namun apabila mereka tidak berani membunuhnya, maka mereka hukumnya adalah munafik dan musyrik.
Mereka menghalalkan para wanita dan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Selain itu halal pula membunuh anak-anak orang yang tidak sepaham dengan mereka, karena bagi mereka anak-anak itu adalah orang-orang musyrik yang pasti akan kekal selama-lamanya dalam api neraka.
قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب : انى أدعوكم إلى التوحيد وترك الشرك بالله وجميع ما هو تحت السبع الطباق مشرك على الإطلاق ومن قتل مشركا فله الجنة. من دخل فى دعوتنا فله مالنا وعليه ما علينا ومن لم يدخل معنا فهو كافر حلال الدّم والمال
“ Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : “ Sesungguhnya aku mengajak kalian kepada tauhid dan meninggalkan syirik terhadap Allah. Semua yang ada di bawah tujuh lapis langit ini benar-benar musyrik, dan barangsiapa yang membunuh orang-orang musyrik (maksudnya adalah kaum muslimin) maka dia mendapatkan surga. Siapa saja yang masuk ke dalam dakwah kami, maka dia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kami, dan barangsiapa yang tidak masuk (ke dalam dakwah kami) bersama kami, maka dia kafir, halal nyawa dan hartanya “ (Ibid hal. 57, lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi wahabi hal. 68)
Padahal kita tahu bahwa di dalam al-Quran Allah Swt berfirman :
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“ Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan dirinya “
(QS. 16 / an-Nahl : 49)
Dalam ayat lainnya Allah Swt berfirman :
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّهُ كاَنَ حَلِيْماً غَفُوْراً
“ Langit yang tujuh dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun “ (QS. 17 / al-Isra : 44)
MIAW mengatakan dengan pedenya, bahwa semua yang ada di bawah tujuh lapis langit ini benar-benar musyrik, sedangkan Allah dengan kebenaran-Nya menegaskan, bahwa langit yang tujuh dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya, baik seluruh binatang, pepohonan, gunung, laut, sungai, matahari, bulan, bintang dan para malaikat-Nya. Sungguh, Allah Maha Penyantun dan Maha Pengampun. Tetapi MIAW ini sungguh “ Maha Edan dan Maha Sableng “.
Lihatlah hatinya yang telah dipenuhi oleh kebencian, dendam kesumat, dan ketidakwarasan yang berada dalam level tertinggi. Dia telah menghakimi dirinya sebagai orang yang paling bertauhid. Sedangkan seluruh hamba-hamba-Nya yang bertauhid divonis sebagai kaum musyrikin, dan wajib dibunuh. Ayat dan hadits mana yang menghalalkan nyawa dan harta kita untuk dibunuh dan diambil tanpa hak ? Bahkan MIAW mewajibkan kepada pengikutnya untuk membunuh kita serta merampas harta benda kita. Hanya ada satu kata untuk mereka “ LAWAN & SERANG BALIK “.
Mereka meyakini bahwa negeri orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka adalah negeri kafir. Karenanya di negeri tersebut halal bagi mereka untuk membunuh anak-anak kecil dan kaum wanitanya. Mereka meyakini bahwa siapa pun yang tidak sepaham dan menentang mereka adalah orang-orang musyrik, dan tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menunaikan amanah kepada mereka.
Salah seorang sejarawan Salafi Wahabi yang bernama Utsman bin Abdullah bin Bitsr an-Najd menceritakan tentang kebiadaban dan pembantaian yang mereka lakukan sebagai berikut : “ Sa’ud bergerak bersama bala tentaranya dengan menunggang kuda-kuda pilihan terbaik, yang terdiri dari orang-orang Najd, Badui, orang-orang selatan, Hijaz, Tiha- mah, dan lainnya menuju tanah Karbala. Maka orang-orang ini memenuhi kota itu, mengepung tembok-temboknya, dan masuk ke daerah tersebut secara paksa. Mereka membunuhi hampir seluruh penduduknya di pasar-pasar dan rumah-rumah. Menghancurkan kubah yang ada di atas pusara Imam Husain, kubah yang dihiasi zamrud, yakut dan beragam permata indah lainnya. Mereka merampas semua yang ada di negeri itu, seperti uang, senjata, pakaian, kuda, emas, perak, mushaf-mushaf mahal, dan lain sebagainya yang tidak mung- kin disebutkan satu persatu. Mereka melakukan penyerbuan itu begitu cepat, sehingga mendekati waktu zhuhur mereka telah keluar dengan membawa harta itu dan membunuhi penduduknya sekitar 2000 orang “. (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 74, lihat al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz cet. 4, 1/257-1982 Riyadh)
Kemudian dikatakan pula di dalam kitab yang sama bahwa kaum edan Salafi Wahabi ini menyerang Kazhimiyah, Najaf dan Qum sebagai berikut : “ Penyerangan ini besar sekali dan korban-korban yang terbunuh amat banyak, darah-darah mengalir bagaikan aliran sungai. Sa’ud dan tentaranya keluar dari sana dengan membawa kemenangan, lalu masuk ke Karbala menghancurkan kubah besar itu, bahkan itu adalah berhala terbesar (maksudnya adalah makam Imam Husain). Kami meluluhlantakkan Karbala, membunuhi pen- duduknya, dan merampas (peternakan, harta, dan wanita) penduduknya. Alhamduillahi Rabbil ‘Alamin, kami semua sama sekali tidak menyesali itu semua, dan kami mengatakan : “ Dan bagi orang-orang kafir itu penderitaan yang sama “. (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 76, lihat al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz cet. 4, 1/257-258-1982 Riyadh, ini adalah kejadian tahun 1801 M/1216 H)
Bisa-bisanya setan-setan manusia ini mengucapkan puji syukur kepada-Nya. Apabila dikarenakan orang-orang banyak yang berziarah ke makam Imam Husain dan wajib dibunuh seluruh penduduknya. Wahai kaum yang dilaknat oleh Allah, dan para malaikat-Nya, bacalah ini :
Ibnu Taimiyah telah menukil bahwa Imam Ahmad bin Hanbal telah menulis satu Juz tentang ziarah ke makam Imam Husain a.s di Karbala, apa yang harus dilakukan oleh peziarah. Ibnu Taimiyah berkata :
اِنَّ النَّاسَ فِى زَمَنِ الْأِمَام اَحْمَدْ كَانُوا ينتابونه اَىْ يَقْصُدُوْنَ زِيَارَتَهُ
“ Sesungguhnya manusia di zaman Imam Ahmad senantiasa menziarahi makam Imam Husain “ ( Mazhab Salafi hal. 20)
Kita lihat kembali bagaimana keyakinan para ulama dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dalam men- ziarahi makam para Imam Syi’ah. Imam Abu Ali al-Hasan bin Ibrahim al-Khalal, pemuka mazhab Hanbali membolehkan bertawasul dan ber-istighatsah di makam orang-orang salih wabil khusus di makam Imam Ahlul bait dan inilah buktinya :
مَا هَمَّنِى أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ يَعْنِى الْكاَظِمَ فَتَوَ سَّلْتُ بِهِ إِلاَّ سَهَّلَ اللهُ لِى مَا أُحِبُّ
“ Setiap aku mengalami kesulitan, lalu aku mendatangi makam (Imam) Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq dan aku bertawasul dengannya pasti Allah memudahkan apa yang aku inginkan “ (Tarikh al-Baghdadi 1/120, 14 / 85-94, al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wal Imam 9/89, 19/347)
Imam Musa al-Kazhim bin Jafar as-Shadiq adalah Imam ke-8 dalam mazhab Syi’ah Imamiyah. Kalaulah Imam al-Kazhim ini semasa hidupnya dianggap kafir dan musyrik serta menyebarkan khurafat dan menyekutukan Allah, sudah barangtentu yang lebih berhak untuk menyerang Karbala, Najaf, dan Qum adalah Imam Ahmad, beserta seluruh peng- ikutnya bukan orang-orangnya Ibnu S’aud yang mengaku-aku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal.
Riwayat shahih ini diriwayatkan oleh banyak ulama di antaranya : al-Hajaj bin Yusuf, ‘Amru bin Dinar, Imam az-Zuhri, Yunus bin Ubaid, Ayyub as-Sakhtiani, Ibnu ‘Aun, Imam Malik, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Syu’bah al-Hajaj, Imam ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hanbal, Abdur- rahman bin Muhammad, Ahmad bin Ali, Muhammad bin Abbas, Abu Ayyub Sulaiman bin Ishaq al-Jalab, Abu Ishaq al-Harb dan ulama-ulama lainnya.7
Dalam riwayat shahih lainnya, al-Hafizh Abu Bakar bin Khuzaimah yang dijuluki Imam al-Aimmah (pemimpin para imam) dan pengarang kitab Shahih Khuzaimah, beliau pun berziarah kubur dan bertawasul kepada Imam Syi’ah ke-9 yaitu Imam Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim sebagaimana diriwayatkan oleh muridnya Abu Bakar bin al-Mu’ammal :
خَرَجْنَا مَعَ إِمَامِ أَهْلِ الْحَدِيْثِ أَبِى بَكْرٍ بْنِ خُزَيْمَةَ وَعَدِيْلِهِ أَبِى عَلِى الثَّقَفِيِّ مَعَ جَمَاعَةٍ مِنْ مَشَايِخِنَا وَهُمْ إِذْ ذَاكَ مُتَوَافِرُوْنَ إِلىَ زِيَارَةِ قَبْرِ عَلِى بْنِ مُوسَى اَلرِّضَا بِطُوْسِ قَالَ : فَرَأَيْتُ مِنْ تَعْظِمِهِ يَعْنِى ابْنُ خُزَيْمَةَ لِتِلْكَ الْبُقْعَةِ وَتَوَاضَعِهِ لَهَا وَتَضَرُّعِهِ عِنْدَهَا مَا تَحَيَّرْنَا
“ Kami berangkat bersama pemuka ahli hadits al-Imam bu Bakar bin Khuzaimah dan rekannya al-Hafizh Abu Ali ats-Tsaqafi beserta rombongan beberapa guru kami yang begitu banyak untuk berziarah ke makam (Imam) Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim di Thus (Iran). Ia (Abu Bakr bin al-Mu’ammal) berkata : “ Aku melihat keta’zhiman beliau (Imam Ibnu Khuzaimah) terhadap (penghuni) makam itu serta bersikap tawadhu terhadapnya dan doa beliau yang begitu khusu’ di sisi makam itu sampai membuat kami bingung “ (al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wal Imam 9/89)
Kalaulah ajaran Imam Syi’ah dianggap menyimpang dan sebagaimana mayoritas orang bodoh memvonis mereka kafir dan musyrik, lalu mengapa Imam Ahmad, Imam Ibrahim al-Khalal, Imam Ibnu Khuzaimah dan al-Hafizh Abu Ali ats-Tsaqafi menziarahi orang kafir dan musyrik ? Bukan- kah haram menziarahi orang kafir dan musyrik ?
Ooh jelas kalau begitu, ajaran Syi’ah Imamiyah itu tidak menyimpang dan para Imam Syi’ah adalah orang-orang salih yang setelah wafatnya pun masih dapat mendatangkan berkah bagi yang menziarahi dan bertawasul di sisi kuburannya.
Sekarang mari kita terusan tentang kebiadaban kawanan Salafi Wahabi ini. Seorang Mufti Makkah al-Mukarramah, Ahmad ibnu Zaini Dahlan yang bermazhab Syafi’i (w. 1304 H) yang merupakan tokoh ulama Makkah pada saat zaman Sultan Abdul Humaid menyatakan dalam kitabnya Umara ul-Baladil Haram sebagai berikut :
“ Ketika memasuki Thaif, Salafi Wahabi melakukan pembunuhan secara menyeluruh, termasuk tua renta, anak-anak, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu dipangkuan ibunya, membunuh umat Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila
mereka mendapati satu jama’ah umat Islam mengadakan pengajian al-Quran, maka mereka bersegera untuk membunuhnya, sehingga tiada lagi yang tinggal di kalangan mereka. Kemudian mereka memasuki masjid-masjid. Di situ mereka membunuhi orang-orang yang sedang ruku atau sujud, merampas uang dan harta mereka. Lalu mereka menginjak-nginjak al-Quran dengan kaki-kaki mereka termasuk kitab-kitab Imam al-Bukhari, Muslim, kitab-kitab fiqih, nahwu, dan kitab-kitab lainya………” (Umara al-Balad al-Haram, ad-Dar al-Muttahidah Lin Nasyr hal. 297-298, Ahmad ibnu Zaini Dahlan , lihat Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 79)
Kita tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka tega menyembelih bayi yang sedang menyusu dipangkuan ibunya, tua renta dan anak-anak yang sedang bermain dengan riangnya pun mereka habisi juga. Yaa Allah makhluk apakah sebenarnya mereka ini ?
Tidak pernah ada keyakinan ini di dalam barisan kaum muslimin yang lurus dan benar, kecuali dalam sekte Khawarij Azariqah saja. Dan akidah seperti ini ternyata berada di dalam akidah Salafi Wahabi juga. Jelas sudah, bahwa mereka adalah sekte Khawarij, sebuah gerakan yang mengatas-namakan Islam, pemurnian tauhid, dan slogan-slogan penipuan lainnya. Mereka telah mengotori Islam dengan pedang-pedang berdarahnya, mengagungkan Islam dengan menyembelih bayi dan anak-anak yang tak berdosa, memuliakan Nabi-Nya dengan cara membantai kaum tua renta dan wanita-wanita yang tak berdaya.
Karena sekarang kita semua sudah yakin benar, bahwa Salafi Wahabi adalah Khawarij pada zaman ini, mari kita lihat vonis apa yang Nabi Saw berikan kepada kawanan Salafi Wahabi ini :
عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»
“ Dari Ibnu Abi Aufa, ia berkata : “ Bersabda Rasulullah Saw : “ Kaum Khawarij adalah Anjing Neraka “ (Sunan Ibnu Majah 1/61, Musnad Abu Dawud ath-Thayalis 2/163, 2/455, Mushanaf Aburrazzaq 10/152, riwayat Abu Umamah r.a, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/522, as-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/634 riwayat Sa’id bin Jumhan, derajat hadits shahih)
Bertanya Sa’id bin Jumhan kepada Abdullah bin Aufa tentang Khawarij az-zariqah, ia berkata :
لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ لَعَنَ اللَّهُ الْأَزَارِقَةَ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَّهُمْ كِلَابُ النَّارِ» قَالَ: قُلْتُ: الْأَزَارِقَةَ وَحْدَهُمْ أَمِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا قَالَ: لَا، بَلِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا "
“ Laknat Allah bagi az-Zariqah, Laknat Allah bagi az-Zariqah, Laknat Allah bagi az-Zariqah, mengabarkan kepada kami Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya mereka adalah Anjing Neraka “. Aku bertanya :
“ Apakah al-Azariqah itu bagian dari khawarij semuanya ? “ Dikatakan : “ Ya, mereka kaum khawarij seluruhnya “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/64, derajat hadits shahih)
Nabi Saw telah menegaskan bahwa laknat Allah bagi kaum Khawarij yang pada masa kini menamakan diri sebagai Salafi Wahabi. Nabi Saw sendiri yang memberikan gelar kepada mereka sebagai “ ANJING NERAKA “. Anjing-anjing ini siap memangsa siapa saja yang berbeda dengan mereka. Anjing-anjing ini siap memangsa kaum muslimin dan mema- kannya mentah-mentah. Tidak pernah ada vonis sekeras ini yang disampaikan kepada kaum Salafi Wahabi (KHAWARIJ WAHABI) oleh Nabinya sendiri.
Dari ‘Umair bin Ishaq, ia berkata, aku mengingatkan tentang Khawarij di sisi Abu Hurairah, ia berkata :
«أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ»
“ Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk “ (Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 7/533, 7/557, derajat hadits shahih)
Dari Ibrahim ia berkata :
«الْخَوَارِجُ أَعْذَرُ عِنْدِي مِنَ الْمُرْجِئَةِ»
“ Kaum Khawariz adalah (kaum yang banyak membuat) alasan daripada kaum Murji’ah “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 1/337, derajat hadits shahih)
Dari Mush’ab bin Sa’id, dari bapaknya, ia berkata : mengingatkan tentang Khawarij di sisimu, ia berkata :
«هُمْ قَوْمٌ زَاغُوا فَأَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ»
“ Mereka adalah kaum yang berpaling (dari kebenaran), maka Allah pun memalingkan hati mereka “ (Sunan Turmudzi 4/454, Sunan Ibnu Majah 1/24 dll, derajat hadits shahih)
Bila Allah telah menetapkan mereka sebagai sebuah kaum yang condong kepada kesesatan, lalu apakah kita akan bersikeras untuk mengimani sekte Salafi Wahabi ini ?
Mengabarkan kepada kami Abu Ghalib, dari Abu Umamah tentang ayat :
{" زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ} [الصف: 5] ، قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ "
“ Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah pun memalingkan hati mereka “, (QS. 61 / as-Shaf : 5) dikatakan : Mereka adalah kaum Khawarij “ (As-Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/638, 2/641, derajat hadits shahih)
Dari Abi Ghalib ia berkata : aku mendengar Abu Umamah menyampaikan kepadaku, dari Nabi Saw di dalam firman-Nya :
{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ} [آل عمران: 7] قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ، وَفِي قَوْلِهِ: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ} [آل عمران: 106] قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ
“ Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat (QS. 3 / Ali-Imran : 7) Nabi Saw bersabda : “ Mereka adalah kaum Khawarij “, dan di dalam firman-Nya “ pada hari itu (kiamat) ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram ” (Musnad Ahmad 36/594, derajat hadits shahih)
Di dalam kitab tafsir ath-Thabari dikatakan :
حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبي، عن حماد بن سلمة والربيع بن صبيح، عن أبي مجالد، عن أبي أمامة:"فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم"، قال: هم الخوارج
“ Mengabarkan kepada kami Ibn Waqi’ ia berkata : mengabarkan kepadaku, dari Hammad bin Salamah dan ar-Rabi’ bin Shabih, dari Abu Mujalid, dari Abu Umamah : (ayat yang berbunyi) “ Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram, (dikatakan kepada mereka) “ Mengapa kamu kafir setelah beriman ? “ Abu Umamah berkata : “ Mereka adalah kaum Khawarij “ (Tafsir ath-Thabari 7/94, 5/665, Tafsir Ibnu Abi Hatim 3/729, Tafsir as-Samarqandi 1/237, Tafsir Sam’ani 1/347, Tafsir al-Wasith al-Wahidi 1/476 , Tafsir Baghawi 2/87, dikatakan mereka adalah ahli bid’ah, derajat hadits shahih)
Melalui tafsir dan asbabul nuzul ayat tersebut, maka Nabi Saw memastikan kaum Khawarij atau kelompok yang menyerupainya mendapat jaminan masuk neraka.
Ini adalah hadits mutawatir dan sesungguhnya telah diriwayatkan pula dalam hadits lainnya dari Nabi Saw :
حَيْثُ وَصَفَ هَؤُلاَءِ القَوْمَ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، إِنَّمَا هُمُ الْخَوَارِجُ وَالْحَرُورِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ مِنَ الْخَوَارِجِ
“ Ada satu barisan di dalam kaum ini yang membaca al-Quran tetapi bacaan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka telah terlepas dari agama ini (murtad) seperti lepasnya anak panah dari busurnya, sesungguhnya mereka adalah kaum Khawarij dan Huruwiyah dan selain mereka yang masih bagian dari Khawarij “ (Sunan Turmudzi 4/51, derajat hadits shahih)
Dalam kesempatan lainnya, Nabi Saw menjelaskan salah satu cirri-ciri kaum Khawarij sebagai berikut :
يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، قِتَالُهُمْ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“ mereka telah terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya, peperangan (pembunuhan) yang mereka lakukan terhadap semua orang-orang Islam “ (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/441, derajat hadits shahih)
Sudah sepantasnya seorang muslim untuk selalu waspada serta dapat mengenali musuh-musuhnya dan berusaha untuk memenangkan pertempuran ini. Sungguh bodoh dan tak tahu diri bila kita berdiam diri terhadap penjahah akidah ini. Mereka telah siap untuk mengambil wilayah tersuci, yaitu keimanan kita. Pasukan kegelapan yang dipimpin oleh iblis laknatullah kembali menyerang cahaya Islam.
Ideologi wahabisme ini merupakan racun yang sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan beragama. Ideologi ini mulai merambah dan memasuki berbagai sektor penting di negeri ini. Dari satu komunitas ke komunitas lainya. Ideologi Wahabisme adalah ideologi kawin campur antara ideologi komunisme + marxisme + firaunisme + radikalisme + terorisme + devide et empera + Mafioso = sekte penipu, pemanipulasi sejarah, penjagal al-Quran dan al-Hadits, penjilat, penjajah akidah, perusak peradaban, pembunuh, pembantai, musuh Islam, dan sahabat karib syaiton.
Sebenarnya terdapat ratusan hadits yang menceritakan tentang kaum yang diberi gelar “ ANJING NERAKA “ ini. Tetapi bukan sekarang waktunya untuk menceritakan secara detail siapakah Salafi Wahabi yang sifat, perilaku, tata cara dakwah, dan akidahnya identik dengan kaun Khawarij dan Murjiah ini. Insya Allah tim kami sedang mengumpulkan, menyusun dan menerjemahkan hadits-hadits yang berhubu- ngan dengan Salafi Wahabi di zaman Nabi Saw, yang pada waktu itu dikenal dengan nama Khawarij / Haruriyah.
Subscribe to:
Posts (Atom)